Menilik Diplomasi Culture Future Mangkunegaran

Wait 5 sec.

Mangkunegaran, Solo, Selasa (16/6/2026). Foto: M. Rizki/kumparanDisrupsi kebudayaan global yang masuk ke Indonesia pada abad ke-21 membuat Indonesia hampir kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang luhur. Kesalahan berpikir masyarakat umum menganggap budaya yang ada di Indonesia cenderung kuno dan tertinggal zaman. Nyatanya budaya Jawa yang sering diafiliasikan dengan hal klenik, mistik dan mengarah pada transedental kini berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan terbuka terhadap akulturasi serta asimilasi budaya. Kebudayaan di Jawa sebagai salah satu budaya nasional terbesar di Indonesia mau tidak mau harus mempertahankan eksistensinya baik melalui hard diplomacy maupun soft diplomacy agar diterima oleh masyarakatnya sendiri maupun masyarakat internasional.Mangkunegaran sebagai bagian dari swapraja Kerajaan Mataram yang secara antropologi politik menjadi salah satu tatanan dan simbol kebudayaan Jawa mempunyai nilai hakikat karya yang adiluhung. Kebudayaan Mangkunegaran memiliki banyak manifestasinya baik yang kebendaan maupun non-kebendaan baik dari tarian, gamelan,wayang, pusaka, arsitektur, adat istiadat (custom), kebiasaan (folkways), pakaian adat, bahkan hingga ke makanan. Semua potret budaya mangkunegaran yang bernuansa Jawa mampu berakulturasi dengan kebudayaan lainnya seperti Eropa dan Bali yang terlihat dari motif ukiran di arsitektur maupun patung dan ornamen lain di Mangkunegaran. Hal demikian merepresentasikan bahwa Mangkunegaran terbuka akan penetrasi budaya lain dan cenderung egaliter serta terbuka terhadap perkembangan zaman.Potret Diplomasi MangkunegaranMangkunegaran memiliki misi diplomasi kebudayaan yang memiliki tendensi pada soft diplomacy karena basisnya adalah pada nilai budaya. Pada Tahun 1988 diadakan acara temu budaya bilateral antara Indonesia-Amerika di Pura Mangkunegaran. Setahun setelahnya Pada tahun 1989 era Mangkunegara IX berhasil menyelenggarakan misi kebudayaan ke negara Eropa yaitu Perancis dan Inggris serta lawatan ke negara Asia Pasifik yaitu Jepang. Lawatan misi kesenian yang dilakukan oleh Mangkunegaran pada 1989 merupakan penguatan basis soft power dalam menghadapi globalisasi dan internasionalisasi.Dalam kunjungannya di Prancis, rombongan Mangkuegaran melakukan pertunjukan di la Maison des Cultures du Monde. La Maison des Cultures du Monde merupakan sebuah gedung bergengsi yang sangat selektif dalam menyeleksi pertunjukan yang akan ditampilkan, karena masyarakat Prancis yang terkenal dengan seleranya yang tinggi. Sementara pada saat kunjungan di Inggris rombongan Mangkunegaran diterima dengan hangat oleh Kedutaan Besar Indonesia di Inggris. Di Inggris juga terdapat empat instansi yang memiliki koleksi perangkat gamelan Jawa yang terus menerus digunakan yaitu Festival Hall, Universitas York, Universitas Oxford, dan Universitas Cambridge. Kehadiran Gamelan Jawa tersebut merupakan bentuk keberhasilan diplomasi Mangkunegaran dalam melakukan penetrasi budaya Jawa sebagai “Culture future.” Sementara dalam misi budayanya ke Jepang Selain menggelar pertunjukan di Hiroshima Expo, rombongan Mangkunegaran juga melakukan pertunjukan di Numakuma Expo dan Hibya Hall.Seiring dengan pergantian kepemimpinan di Mangkuegaran yang dipimpin oleh Mangkunegara X perjalanan diplomasi budaya lebih modernis dan adaptif. Upaya diplomasi dilakukan dengan kegiatan bertajuk Kemantren Langen Projo International Roadshow 2022 by Puro Mangkunegaran. Kegiatan tersebut dimulai dengan lawatan di Borneo Cultural festival di Dataran Tun Tuanku Bujang, Sibu, Malaysia. Setelah itu berlanjut dalam Indonesia Day di Museum Boola Bardip, Perth, Australia dan ditutup di Trade Tourism Investment and Cultural (TTIC) Forum di Siam Square One, Bangkok, Thailand pada 16-18 September 2022.Disampig lawatan kebudayaan dan upaya soft diplomacy yang dilakukan oleh Mangkunegara X, kegiatan International Symposium juga diselenggarakan dalam rangka melakukan pengkajian terhadap perkembangan Mangkunegaran dalam menjaga budaya Jawa sebagai cultural herritage. Dalam Symposium tersebut hadir beberapa Professor dari Belanda yakniBernards Aps seorang professor di bidang sastra Jawa dari Universitas Leiden, Belanda dan beberapa Professor dari Amerika dan Jerman.Culture Future dan Etnografi IdeasioalMangkunegaran pada era Mangkunegara X mulai merambah pada dominasi pangsa pasar anak muda khususnya Gen Z. Dalam analisis interpretatif hal itu tampak ketika Mangkunegaran menyelenggarakan Mangkunegaran Run, Mangkunegaran Night Market, Laras Hati Mangkunegaran, Sapa Diraja dan banyak lainnya. Sebagai Pewaris Kebudayaan Jawa, Mangkunegaran tidak menjadikan puro sebagai sebuah art of destination, namun mengubah itu menjadi art of metamorphosis yang didesain sedemikian rupa agar berjalan seiring zaman dan menjadi kebudayaan yang hidup di masa depan (culture future).Pendekatan demikian merupakan sebuah kemajuan berpikir dalam mengekspresikan cultural heritage. Mangkunegaran semakin hidup dengan memadukan lintas zaman antara past, present dan future. Kebudayaan dalam hal ini tidak berhenti dan kaku namun bisa dihidupkan di era sekarang dengan mengemas nilai masa lalu untuk memproyeksikan dan menjaga kebudayaan Jawa di masa depan. Dalam prespektif etnografi ideasional, kebudayaan dilihat dalam fungsinya sebagai pola-pola guna menciptakan tindakan (patterns for behavior) bukan pola-pola dari tindakan (patterns of behavior), sebagaimana pandangan Kluchohn.Apabila dicermati, Mangkunegaran sangat progresif dalam mendiplomasikan budaya baik dalam ranah lokal, nasional maupun internasional. Namun ada hal yang harus dipedulikan yaitu terkait pakem atau aturan yang harus tetap dipegang teguh sebagai bentuk mempertahankan “value” dari Mangkunegaran itu sendiri. Dalam konteks soft diplomacy Mangkunegaran sangat aktif dalam forum kebudayaan baik yag sifatnya diplomatic, maupun governmental sehingga kebudayaan mampu terpenetrasi dengan baik.Kedepan, Mangkunegaran diharapkan bisa menjadi think-tank dan role model dalam melestarikan budaya Jawa dan tidak selalu berupaya dalam menginterpretasikan budaya secara praktis guna membangun peradaban Jawa yang lebih berkemajuan.