Sejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparanFenomena “war kursi” bimbingan belajar (bimbel) terjadi di Yogyakarta. Ratusan orang tua rela menginap dan datang sejak subuh demi mendapatkan antrean pendaftaran di bimbel Exist yang berada di sebuah gang di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.Para orang tua tersebut merasa perlu menambah bekal pendidikan anak agar mendapat nilai memuaskan dalam Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah (ASPD) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) DIY.Nilai tersebut dapat digunakan untuk masuk ke SMAN yang dituju melalui jalur Domisili Wilayah ataupun Prestasi.Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Disdikpora DIY Raden Suci Rohmadi mengatakan kondisi itu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai bentuk ketimpangan kualitas antar-SMA negeri di Yogyakarta."Setiap sekolah memang memiliki karakteristik, lingkungan belajar, program, budaya sekolah, dan keunggulan masing-masing. Masyarakat juga tentu memiliki preferensi berdasarkan pengalaman dan persepsi yang berkembang di masyarakat. Itu sesuatu yang wajar," kata Suci dikonfirmasi, Kamis (3/9).Suci mengatakan perhatian pemerintah daerah saat ini adalah memastikan mutu pendidikan terus meningkat dan semakin merata di seluruh SMA negeri di DIY."Jadi jangan sampai keberhasilan pendidikan anak hanya dipersepsikan ditentukan oleh apakah anak masuk sekolah tertentu atau tidak," katanya.Pemda DIY tidak ingin membangun paradigma bahwa hanya sekolah tertentu yang baik. Suci ingin seluruh SMA di DIY memiliki kualitas yang semakin baik, dengan karakter dan keunggulan masing-masing."Saya kira tidak tepat kalau kita membuat pemeringkatan sekolah mana yang paling bagus. Setiap sekolah memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Yang lebih penting adalah memastikan setiap sekolah terus meningkatkan mutunya dan anak mendapatkan sekolah yang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya," katanya.Persepsi Sekolah Favorit Masih KuatKepala Disdikpora DIY Raden Suci Rohmadi. Foto: Instagram/ @btkpdiyMenurut Suci, masih banyak orang tua yang terbawa persepsi masa lampau bahwa SMA tertentu memiliki kualitas lebih baik daripada SMA lainnya.Padahal, menurut dia, kualitas SMA negeri di DIY saat ini semakin merata."Secara umum kita terus mendorong agar kualitas SMA negeri di DIY semakin merata. Tetapi kita juga memahami bahwa persepsi masyarakat terhadap sekolah tidak berubah dalam waktu singkat. Ada persepsi yang terbentuk dari pengalaman, sejarah, prestasi, maupun informasi yang berkembang selama bertahun-tahun," katanya.Ke depan, kata Suci, pemerintah tidak hanya perlu meningkatkan kualitas sekolah, tetapi juga memperkuat komunikasi dan informasi kepada masyarakat agar mereka mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai potensi dan keunggulan masing-masing sekolah."Karena itu tentu perlu kolaborasi. Tidak hanya antara Dinas Dikpora DIY dengan SMA, tetapi juga dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan satuan pendidikan SMP. Anak-anak SMP dan orang tua perlu mendapatkan informasi yang objektif mengenai berbagai pilihan SMA, termasuk karakteristik program, lingkungan belajar, prestasi, kegiatan pengembangan minat dan bakat, serta berbagai keunggulan yang dimiliki masing-masing sekolah," katanya."Jadi sosialisasinya bukan untuk mengatakan bahwa sekolah ini favorit, tidak favorit, atau mengubah pilihan orang tua. Tetapi kita ingin memastikan bahwa ketika orang tua dan anak menentukan pilihan, keputusannya berdasarkan informasi yang lengkap dan sesuai dengan potensi, minat, serta kebutuhan anak," ujarnya.Orang Tua Diminta Tak Beri Tekanan BerlebihanSejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparanTerkait orang tua yang mempersiapkan anak melalui bimbel untuk menghadapi ASPD maupun TKA, Suci memahami hal tersebut sebagai bagian dari ikhtiar orang tua.Suci mengatakan antusiasme orang tua terhadap pendidikan anak merupakan hal positif. Hal ini menunjukkan masyarakat Yogyakarta masih menempatkan pendidikan sebagai investasi penting untuk masa depan anak."Tetapi kami berharap persiapan tersebut tetap proporsional dan tidak memberikan tekanan berlebihan kepada anak," katanya.Menurutnya, pendidikan anak tidak hanya soal nilai akademik atau diterima di sekolah tertentu. Hal yang tidak kalah penting adalah karakter, kemandirian, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta bagaimana anak merasa nyaman dan berkembang dalam proses belajarnya."Harapan kami, orang tua dalam memilih sekolah lebih melihat kesesuaian dengan potensi, minat, bakat, dan kebutuhan anak. Jangan sampai anak merasa bahwa masuk ke sekolah tertentu adalah satu-satunya ukuran keberhasilan," pungkasnya.Fenomena Sekolah Anak Jadi 'Gengsi' Ortu di YogyaSejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparanBagi sebagian orang tua dari kalangan menengah di Yogyakarta, sekolah anak menjadi topik yang lebih sering dibicarakan daripada kendaraan pribadi, gawai terkini, atau barang mewah lainnya.Obrolan orang tua seputar pilihan sekolah, tempat les, hingga kegiatan yang dinilai dapat mengembangkan kemampuan dan minat anak menjadi hal yang umum dibicarakan.Fenomena tersebut dirasakan Astri Wulandari, seorang ibu di Yogyakarta."Sejauh yang aku alami memang kalau di Yogya itu aku enggak tahu terlepas dari stigma Yogya adalah Kota Pelajar atau bukan, tetapi di Yogya emang kenyataannya setiap kita ketemu sama orang tua, sesama orang tua tuh pasti yang diomongin tentang sekolah, gitu," kata Astri, Rabu (2/9).Menurutnya, ini adalah pertanda baik karena orang tua di Yogya punya sudut pandang yang luas tentang bagaimana mereka bertanggung jawab penuh untuk masa depan anak-anak mereka, terutama di bidang pendidikan."So far kalau misalnya aku ketemu orang baru atau teman-teman kerja yang sehari-hari tuh yang kita omongin adalah sekolah anak, terus kemudian pilihan les. Les yang mungkin kaitannya selain les mata pelajaran juga les hobi, kayak gitu-gitu. Intinya yang bagaimana untuk meningkatkan kemampuan anak-anak kita," katanya.Rp 17 Juta untuk Masuk SDPendidikan yang baik sudah diberikan Astri kepada anaknya sejak dini. Saat ini, anak Astri duduk di kelas I sekolah dasar swasta favorit di Yogyakarta."Kayaknya kategori sekolah anakku, ya (biaya daftarnya) Rp 17 juta," katanya.Astri juga memberikan berbagai les untuk anak, seperti panjat tebing, les drum, dan les sains."Les sains itu kaya praktik-praktik bikin (karya sains) apa gitu," ujarnya.Astri pun tak heran ketika viral orang tua di Yogya berebut tempat bimbel. Menurutnya, banyak orang tua yang berusaha memasukkan anaknya di SMA negeri favorit melalui jalur prestasi.Biasanya, ketika tak bisa masuk sekolah negeri yang dituju, orang tua akan memasukkan anaknya ke SMA swasta yang harganya lumayan mahal."Jadi ketika kamu masuk ke dalam satu ekosistem yang itu SD favorit, jalurnya tuh udah kelihatan, dia pasti akan masuk ke SMP favorit, SMA favorit, nanti perguruan tingginya juga gitu," katanya."Jadi, mungkin ya kalau negeri kan secara biaya enggak seluar biasa kalau swasta, karena berdasarkan hasil pengamatanku dan mensurvei sekolah-sekolah juga ternyata sekolah swasta di Yogya tuh luar biasa mahal," katanya.Masuk PAUD Favorit meski Menguras KantongSejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparanKumoro, orang tua lainnya, menjelaskan dia dan istri rela merogoh uang lebih demi pendidikan anaknya."Anak saya dari PAUD sampai TK di yayasan swasta. Rencana SD lanjut di situ. Dulu biaya masuk PAUD Rp 6 juta, TK Rp 7 juta," kata Kumoro.Meski anaknya masih TK, Kumoro juga sudah mendaftarkan anaknya ke SD. Tujuannya agar mendapat kuota."Kalau telat bisa nggak dapat. Ya bayar masuk sekitar Rp 9 juta," katanya.Demi sekolah anak, Kumoro harus selektif dalam pengeluaran."Ya belanja pakaian kalau benar-benar butuh. Gawai dan kendaraan juga selama masih layak ya nggak perlu ganti," pungkasnya.Les Coding hingga GrafisWicaksono mengatakan pendidikan anak adalah hal yang paling penting.Anaknya yang kini kelas 9 SMP sudah mengikuti berbagai les sejak kecil."Ada les coding, grafis, animasi, hingga drum dan Bahasa Inggris. Kebetulan minatnya di IT," kata Pribadi.Untuk biaya les ini, dia menghabiskan sekitar Rp 3 juta untuk coding selama satu semester. Lalu, untuk animasi sekitar Rp2,5 juta per tiga bulan."Drum lesnya Rp 1,5 juta untuk dua bulan," katanya.Dia berharap anaknya bisa masuk kuliah di jurusan animasi ISI Yogyakarta seperti cita-cita sang anak."Ya semoga. Namanya untuk anak berusaha yang terbaik," ujarnya.Kemendikdasmen: Sinyal Evaluasi, Tak Otomatis Sekolah GagalDirektur Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Yaya Sutarya, menyebut maraknya bimbel dapat menjadi salah satu sinyal untuk melihat hal yang perlu diperbaiki dalam kualitas atau metode pembelajaran di sekolah.Namun, menurut dia, fenomena tersebut bukan menjadi indikator tunggal untuk menilai kualitas sekolah.“Maraknya bimbel dapat menjadi salah satu sinyal, tetapi bukan indikator tunggal,” kata Yaya kepada kumparan, Kamis (3/9).“Sekolah perlu menelaah apakah murid memperoleh pembelajaran yang aktif, bermakna, dan sesuai tahap perkembangannya. Apakah asesmen benar-benar digunakan untuk memberikan umpan balik, serta apakah program remedial, pengayaan, dan pendampingan tersedia bagi murid yang membutuhkan,” jelas Yaya.Selain kualitas proses pembelajaran, evaluasi juga perlu mempertimbangkan kondisi dan perkembangan murid secara lebih menyeluruh.“Perbaikan kebijakan harus bersandar pada bukti yang lebih lengkap, seperti capaian literasi dan numerasi, perkembangan kompetensi, kesenjangan antarkelompok, kehadiran, kesejahteraan murid, kualitas interaksi guru-murid, dan suara orang tua,” papar Yaya.Meski demikian, Kemendikdasmen menegaskan tingginya minat terhadap bimbel tidak otomatis menunjukkan sekolah gagal. Sebab, sekolah dan bimbel memiliki fungsi yang berbeda.“Sekolah menyelenggarakan pendidikan formal secara utuh, sedangkan bimbel memberikan layanan tambahan yang lebih spesifik sesuai pilihan keluarga,” terang Yaya.“Respons yang tepat bukan mempertentangkan sekolah dan bimbel, tetapi memperbaiki mutu keduanya sesuai perannya,” lanjutnya.Kemendikdasmen menyebut sekolah tetap diharapkan mampu memenuhi kebutuhan belajar esensial setiap murid. Bimbel tetap dapat dipilih untuk kebutuhan khusus atau pengayaan, tetapi akses terhadap pendidikan bermutu tidak boleh bergantung pada kemampuan keluarga membayar layanan tambahan.“Murid seharusnya dapat mencapai kompetensi yang ditetapkan melalui pembelajaran di sekolah tanpa menjadikan bimbel berbayar sebagai kewajiban terselubung,” tandas Yaya.Cerita Pengelola Bimbel di Yogya Buka 4 CabangBimbel Cendekia membuka cabang keempat di Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Minat orang tua terhadap bimbingan belajar masih tinggi di tengah persaingan masuk sekolah dan perguruan tinggi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanHal ini membuat banyak tempat bimbel bermunculan. Salah satunya Bimbel Cendekia yang berdiri sejak 2018. Pada 2026 ini, mereka bahkan membuka cabang keempat di Wirobrajan, Kota Yogyakarta."Kalau yang saya tahu memang setiap hari itu memang selalu ada yang mendaftar ya," kata admin Bimbel Cendekia Wirobrajan, Zahidah Banani, saat ditemui Kamis (3/9).Di Bimbel Cendekia, pendaftaran bisa dilakukan melalui situs web atau datang langsung. Penggunaan situs web ini membuat tidak perlu ada antrean yang menumpuk di lokasi."Ada juga yang menghubungi via admin WhatsApp atau website, seperti itu. Nah, kalau dari antusiasnya ya, yang saya tahu itu memang pembukaan itu dari bulan April. Jadi mulai ada lebih masif gitu ya, ada tryout, kemudian ada event-event begitu, ya sekaligus pembukaan program untuk tahun ajaran berikutnya," kata Zahidah."(Melalui website daftarnya) enggak perlu mengantre sebenarnya. Itu lebih memudahkan orang tua juga sih untuk mendaftar di Cendekia," ujarnya.Bimbel dari SD sampai SMABimbel Cendekia ini menawarkan bimbel dari SD sampai dengan SMA."Ada semua. Kalau untuk yang Wirobrajan (di sini) baru SD dan SMP," katanya.Sementara itu, di cabang lain yang sudah lebih lama, Zahidah mengatakan bimbel kelas 12 menjadi yang favorit."Basically semuanya ramai. Kelas 12 aja tuh sampai waiting list gitu karena ada satu kelas yang cukup maksimal gitu ya, kapasitasnya udah penuh begitu sampai ada waiting list. Seperti itu. Nah, tapi rata-rata memang kalau dari SD ke SMP itu memang antusiasnya itu untuk mencari sekolah favorit gitu ya, SMP ke SMA pun begitu," katanya.Lanjutnya, untuk persaingan masuk sekolah favorit, banyak siswa merasa perlu tambahan belajar, khususnya pada mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris."Rata-rata sih matematika, bahasa Inggris, gitu sih, Mas. Tapi IPA, Bahasa Indonesia pun masih tetap banyak juga peminatnya," ujarnya.Biaya TahunanZahidah mengatakan ada beberapa paket yang ditawarkan kepada orang tua. Untuk SMP, paket yang ditawarkan minimal mengambil dua mata pelajaran."Kalau yang SD itu tiga dan memang perlu, memang harus tiga. Kalaupun misalnya hanya butuh satu atau dua mapel itu nanti ada di program privat," ujarnya.Sementara itu, untuk biaya dimulai dari Rp3 juta hingga Rp8,5 juta per tahun."Iya di sini per dua semester," katanya.Empat cabang Bimbel Cendekia ini menerima 700 orang per angkatan setiap tahunnya. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Yogyakarta, tetapi juga dari kabupaten lain, seperti Sleman dan Bantul.