Kemenag Buka Suara Soal Santri Keracunan MBG di Sidoarjo: Dapur Pemasok Disetop

Wait 5 sec.

Wakil Menteri Agama Romo Syafi'i menjenguk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga keracunan MBG di RSUD Notopuro, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (4/9). Foto: Dok. Humas KemenagKementerian Agama (Kemenag) mendesak investigasi menyeluruh atas kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur.Buntut insiden tersebut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur pemasok makanan resmi dihentikan sementara.Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii mengungkapkan, kecurigaan awal mengarah pada dua jenis menu yang dikonsumsi para santri sesaat sebelum mengeluhkan sakit perut dan mual massal.“Apakah ada proses memasaknya yang tidak sesuai atau ada waktu makannya yang tidak sesuai dengan juknis, itu yang harus kita investigasi,” ujar Romo Syafii usai menjenguk santri yang dirawat di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jumat (4/9).Dirinya membeberkan, sebagian besar keluhan santri berfokus pada kualitas olahan telur dan sayuran. Evaluasi total terhadap dapur penyuplai pun dilakukan guna memastikan apakah ada kelalaian higienitas saat pengolahan maupun jeda waktu pengiriman makanan.“Dapur yang menyuplai mereka itu dihentikan untuk dievaluasi. Apakah ada sesuatu yang terjadi di dapur itu sehingga dua menu itu rasanya berbeda,” tegasnya.Kendati demikian, Kemenag belum menarik kesimpulan mutlak. Pasalnya, SPPG bersangkutan tercatat sudah mendistribusikan katering makanan bergizi kepada para santri Manbaul Hikam selama hampir satu tahun terakhir tanpa riwayat masalah higienitas.“Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi,” imbuhnya.Terkait kondisi santri yang sempat dilarikan ke rumah sakit, Romo Syafii menyebut situasinya kian membaik dan berangsur pulih. Saat kunjungannya ke RSUD R.T. Notopuro, tersisa delapan santri yang masih berada di bawah observasi medis.“Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat,” ungkap politikus Gerindra tersebut.Dorong Pesantren Kelola Dapur MandiriDi tengah evaluasi ketat standar kebersihan katering, Romo Syafii menekankan bahwa insiden ini tidak menyurutkan komitmen pemerintah untuk memperluas jangkauan MBG ke lingkungan pendidikan keagamaan.Kemenag kini berkoordinasi intensif dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar pesantren dan madrasah, termasuk yang berada di pelosok, tetap terakomodasi.“Kita sedang ngebut dengan Pak Direktur Pesantren supaya tidak ada pesantren yang tidak mendapatkan MBG, termasuk madrasah. Mereka sangat membutuhkan MBG itu. Keinginan untuk mendapatkan MBG itu cukup tinggi,” katanya.Mengantisipasi risiko serupa di masa depan, Kemenag mewacanakan skema dapur mandiri. Pondok pesantren dengan populasi sekitar 1.000 santri didorong untuk mengelola dapurnya sendiri, dengan syarat mutlak memenuhi standar protokol sanitasi BGN, mulai dari proses pencucian, penyimpanan bahan baku, hingga pengolahan limbah.