Kabut Asap Selimuti Samarinda, Konsentrasi Partikel Udara Naik Empat Kali Lipat

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya jarak pandang, munculnya aroma asap di sejumlah wilayah, hingga keluhan ringan seperti mata perih yang dirasakan sebagian warga.Fenomena ini terjadi saat musim kemarau masih berlangsung di Kalimantan Timur dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di sejumlah daerah.Meski kualitas udara Samarinda belum masuk kategori berbahaya, masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampak paparan asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan hasil pemantauan pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 14.00 Wita menunjukkan konsentrasi partikulat di udara mencapai 63 mikrogram per meter kubik.“Pemantauan terakhir menunjukkan konsentrasi partikulat berada di angka 63 mikrogram per meter kubik. Secara kategori masih tergolong sedang,” ujar Riza.Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kondisi normal. Menurut Riza, konsentrasi partikulat di Samarinda dalam kondisi normal tanpa pengaruh asap biasanya berada pada kisaran 0 hingga 15 mikrogram per meter kubik.Dengan demikian, konsentrasi partikel yang terpantau saat ini meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kondisi normal.Peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Samarinda. Asap dari kebakaran dapat terbawa oleh pergerakan angin sehingga menyebar ke wilayah lain tanpa mengenal batas administratif.“Kalau ada kebakaran di wilayah sekitar, asapnya bisa terbawa angin ke Samarinda. Asap tidak mengenal batas kabupaten atau kota,” jelasnya.Posisi geografis Samarinda yang dikelilingi sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara juga membuat kota ini berpotensi menerima paparan asap dari titik-titik kebakaran di daerah sekitar.BMKG mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perubahan kondisi lingkungan. Kabut yang semakin terlihat, berkurangnya jarak pandang, serta aroma asap yang semakin kuat dapat menjadi tanda meningkatnya konsentrasi partikel di udara.Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan, diminta lebih berhati-hati dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.Penggunaan masker juga dianjurkan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan partikel asap yang terhirup.“Jika kondisi udara mulai terlihat berkabut dan tercium bau asap, sebaiknya gunakan masker saat berada di luar rumah dan kurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak terlalu penting,” pungkas Riza. (*)