Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak (ketiga kanan) menjenguk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan sedang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026) dini hari. Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTOJumlah siswa dan santri Manbaul Hikam Sidoarjo yang diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai 664 korban per Kamis (3/9).Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmita Herawati, merinci sebanyak 581 orang saat ini telah pulang setelah kondisinya membaik.Sementara itu, 77 siswa dan santri masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Lalu, enam lainnya masih dalam tahap observasi."Total 664 pasien, MRS (Masuk Rumah Sakit) 77 pasien, KRS (Keluar Rumah Sakit) 581 pasien, observasi 6 pasien," kata Lakhsmita saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (3/9).Menu MBG 1 September 2026 yang disediakan SPPG Kalitengah, Kec Tanggulangin, Sidoarjo, Jatim. Foto: IG/@sppgkalitengahtanggulanginLakhsmita menyampaikan para korban yang masih menjalani perawatan rata-rata dalam kondisi stabil. Namun, mereka belum bisa dipulangkan karena membutuhkan pemantauan dan penanganan lebih lanjut."Secara umum kondisi pasien yang masih menjalani perawatan stabil," ucapnya.Dinas Kesehatan Sidoarjo kini membuka Tim Krisis Kesehatan guna memperkuat penanganan korban serta memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik.Tim Krisis Kesehatan ini dibagi menjadi dua mekanisme. Tim kesehatan ditempatkan di lokasi kejadian untuk pemantauan dan penanganan awal.Lalu, sejumlah rumah sakit diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyisipkan obat-obatan, tenaga medis, serta fasilitas pendukung lainnya."Kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, karena di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup," katanya.Sebelumnya, dugaan keracunan itu terjadi setelah para siswa dan santri mengonsumsi MBG pada Selasa (1/9). Mereka mengalami gejala, mulai dari mual, muntah, pusing hingga diare.Suasana SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (2/9/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparanSPPG Kalitengah Di-SuspendWakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayi Wibowo, mengatakan pihaknya langsung mendatangi SPPG Kalitengah, Tanggulangin, yang menyuplai MBG tersebut.BGN kemudian menerbitkan surat suspend terhadap SPPG tersebut. Penghentian operasional dilakukan sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut."Ya, per kemarin tadi malam kami mendapatkan informasi, kami dari BGN Provinsi serta Korwil Sidoarjo langsung turun ke lapangan. Kami investigasi dan melaporkan ke pimpinan pusat, Bapak Kepala Badan langsung, Pak Sudaryono," kata Teguh."Sementara, awalnya di malam hari itu sudah kita hentikan. Tapi per tadi pagi sudah ada surat suspend untuk dapur ini. Sambil di awal, jadi untuk tim pusat pun akan datang di hari ini juga untuk investigasi lebih lanjut apakah suspend ini ringan atau berat. Ya, sudah tidak beroperasi untuk saat ini," tambah dia.SPPG Kalitengah diketahui menjadi dapur yang memasok MBG kepada 19 lembaga pendidikan yang kemudian melaporkan adanya siswa dan santri dengan keluhan kesehatan.Tak Ada Korban Meninggal DuniaSementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, membantah adanya informasi korban meninggal dunia."Tolong juga, tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal. Kita doakan semua bisa bukan hanya doakan, tapi diikhtiarkan oleh tenaga medis. InsyaAllah sudah ada yang bisa dipulangkan. Banyak yang bisa dipulangkan," ucap Emil.Kepala SPPG Kalitengah Minta MaafDi sisi lain, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyampaikan permintaan maaf setelah ratusan siswa dan santri diduga mengalami keracunan."Mohon maaf ya, saya menyesal," ujar Rafli di SPPG Kalitengah, Sidoarjo, Rabu (2/9).