Agus Rudi (66) saat berkeliling berjualan es sirup di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanMendorong gerobak sepanjang 20 kilometer sehari-hari menjadi aktivitas rutin seorang kakek pedagang es sirup bernama Agus Rudi (66). Setiap langkah kecilnya terbesit doa agar jualannya laku demi sesuap nasi untuk keluarganya.Langkah demi langkah dilakukan Agus Rudi bersama dengan sandal jepit yang sudah usang. Gerobak ia dorong dari satu lokasi ke lokasi lainnya sembari berharap ada pelanggan yang memanggilnya.Agus-sapaan akrabnya itu tampak mendorong gerobak kecilnya di sepanjang jalan yang berada di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9) siang.Setiap harinya, Agus mendorong gerobak es sirup miliknya. Ia melintasi berbagai desa dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak. Keriput tubuhnya dan warna putih rambutnya tak lagi dapat disembunyikan.Berbekal semangat, Agus mendorong gerobaknya mulai dari kediamannya di Desa Rendeng menuju Desa Megawon, Desa Gulang, Desa Loram Wetan, Desa Loram Kulon, Desa Mlati Kidul, Desa Getas Pejaten dan kembali ke Desa Rendeng.Agus Rudi (66) membuat es sirup dari atas gerobak sederhana di pinggir jalan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanRute panjang itu sengaja dipilihnya karena lumayan ramai pembeli. Oleh karena itu, ia mengaku tak masalah meski harus berjalan 20 kilometer setiap hari. Bahkan belum tentu sepekan sekali dirinya libur."Sehari saya PP (pulang pergi, red) 20 kilometer mendorong gerobak jualan es sirup. Sudah saya jalani sejak 2015 sampai sekarang demi mencari uang untuk makan," katanya kepada kumparan, Jumat (4/9) siang.Seporsi es sirup seharga Rp 2.500 itu menjadi mata pencahariannya sehari-hari. Ia tak mau merepotkan kedua anaknya. Apalagi salah satu anaknya baru saja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sementara istrinya sudah meninggal.Sejak 2015, gerobak sederhana itulah yang menemaninya menyusuri jalan. Dahulu gerobaknya berupa kayu. Kini, gerobaknya sudah diubah berkat bantuan bank pelat merah."Dari dulu memang keliling menggunakan gerobak. Kalau jualan di pinggir jalan tidak laku. Suka dukanya ya kadang sepi, pulang tidak bawa uang," terangnya.Agus Rudi (66) membuat es sirup dari atas gerobak sederhana di pinggir jalan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanKalau sedang ramai, ia bisa membawa keuntungan Rp 60 ribu. Nominal itu dari hasil berjualan pukul 06.00 WIB sampai 17.30 WIB. Terkadang ada waktu di mana ia tak membawa uang sama sekali."Kalau dibilang cuaca panas ya panas. Tetapi mau bagaimana lagi harus cari uang demi bisa makan, yang penting bisa untuk makan. Semoga semakin banyak yang beli," imbuhnya.