Biar Anak Laki-laki Tak Tumbuh Jadi ‘Cowok Bingung’, Ini yang Perlu Diajarkan

Wait 5 sec.

Ilustrasi tas ransel anak. Foto: Sorapop Udomsri/ShutterstockSetiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, punya pendirian, dan mampu mengambil keputusan. Namun, pada anak laki-laki, terkadang masih ada anggapan bahwa mereka harus selalu kuat, berani, dan tidak boleh menunjukkan emosi.Padahal, menurut Psikolog Klinis Anak, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, Psikolog, anak laki-laki tetap boleh merasa ragu, takut, sedih, bahkan menangis. Hal tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak.“Anak laki-laki yang kuat pendiriannya bukan berarti dia tidak pernah bingung, menangis, atau takut,” ujar Ratih pada kumparanMOM, Jumat (4/9).Menurutnya, hal yang lebih penting untuk dibangun sejak kecil adalah kemampuan anak dalam mengenali dirinya, mempertimbangkan pilihan, mengambil keputusan, hingga bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan tersebut.Lantas Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?Ilustrasi Ibu dan anak laki-laki. Foto: Shutter Stock1. Beri Kesempatan MemilihOrang tua dapat mulai memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sederhana sesuai dengan usianya.Misalnya, memilih pakaian yang ingin dikenakan, kegiatan yang ingin diikuti, cara menyelesaikan tugas, hingga mengutarakan pendapat ketika tidak setuju.Bukan berarti orang tua membiarkan anak melakukan apa pun yang diinginkan. Tetap berikan batasan, tetapi jangan selalu mengambil alih keputusan anak.Orang tua bisa mengajaknya berdiskusi dengan pertanyaan seperti, “Menurut kamu, pilihannya apa?” atau “Apa alasanmu memilih itu?”"Dengan begitu, anak belajar bahwa memiliki pendirian bukan berarti memaksakan keinginan. Ia justru belajar memahami alasan di balik pilihannya dan mempertimbangkan konsekuensinya," kata Ratih.2. Tanamkan Nilai sebagai PeganganAnak juga membutuhkan nilai yang dapat menjadi pegangan ketika mengambil keputusan. Nilai tersebut dapat berupa kejujuran, tanggung jawab, menghormati orang lain, menjaga batasan, hingga keberanian membela hal yang benar.Nilai-nilai tersebut sebaiknya tidak hanya disampaikan melalui nasihat. Anak perlu melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.Sebab, pendirian anak akan lebih kuat ketika ia memahami mengapa sebuah nilai penting, bukan sekadar melakukannya karena takut dihukum atau ingin mendapatkan persetujuan orang lain.3. Ajarkan Anak Mengenali dan Mengelola EmosiPendidikan emosi juga penting bagi anak laki-laki. Hindari kalimat seperti, “Anak laki-laki nggak boleh nangis,” “Masa begitu saja takut?” atau “Kamu harus kuat.”Menurut Ratih, kalimat seperti itu justru dapat membuat anak belajar menekan emosinya. Bukan berarti perasaan tersebut hilang, tetapi anak bisa kesulitan mengenali dan mengekspresikannya dengan sehat.Orang tua dapat mengatakan, “Kamu boleh sedih, setelah itu kita pikirkan apa yang bisa dilakukan,” atau “Merasa takut tidak membuat kamu lemah.”"Dengan begitu, anak memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa takut. Berani berarti tetap mencoba melakukan hal yang benar meskipun sedang merasa takut," jelas Ratih.4. Ajarkan Anak Berani Mengakui KesalahanAnak laki-laki juga perlu memahami bahwa mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan.Ketika melakukan kesalahan, berikan kesempatan kepada anak untuk memahami konsekuensinya, memperbaiki kesalahan, dan meminta maaf."Anak juga perlu belajar bahwa ketegasan berbeda dengan dominasi. Ia boleh kompetitif, ambisius, dan tegas, tetapi tetap harus mampu mendengarkan, menerima penolakan, serta menghormati batasan orang lain," jelasnya.Dengan demikian, anak tidak perlu merendahkan, mengontrol, atau menyakiti orang lain hanya untuk membuktikan bahwa dirinya kuat.5. Peran Ayah dalam Membentuk Anak Laki-lakiSelain pola asuh orang tua secara umum, kehadiran ayah juga memiliki peran penting dalam kehidupan anak laki-laki.Anak belajar tentang bagaimana menjadi laki-laki bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga dari apa yang dilihatnya setiap hari dari sosok ayah.Anak akan memperhatikan bagaimana ayah memperlakukan Ibu dan orang lain, menghadapi kegagalan, mengendalikan amarah, memegang janji, mengambil keputusan, hingga mengakui kesalahan.“Keteladanan ayah biasanya jauh lebih kuat daripada ceramah tentang bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap,” kata Ratih.Saat Anak Bingung, Ayah Bisa Jadi Teman BerpikirIlustrasi ayah dan anak. Foto: ShutterstockKetika anak menghadapi kebingungan, ayah tidak harus selalu memberikan semua jawaban atau mengambil keputusan untuknya.Sebaliknya, ayah bisa menjadi teman berpikir dengan mengajukan pertanyaan seperti, “Menurut kamu, mana yang paling sesuai dengan nilai yang kita pegang?” atau “Kalau kamu memilih itu, apa konsekuensinya?”Cara tersebut membantu anak membangun kemampuan untuk mengambil keputusan dan menavigasi hidupnya sendiri."Ayah juga dapat memberikan tanggung jawab dan tantangan secara bertahap sesuai usia anak. Berikan kesempatan untuk mencoba, mengalami kegagalan yang masih aman, menerima konsekuensi, dan memperbaiki kesalahan," jelasnya.Pada akhirnya, tujuan pengasuhan anak laki-laki bukan sekadar membuatnya menjadi sosok yang kuat. Lebih dari itu, orang tua perlu membantu anak tumbuh menjadi laki-laki yang matang, punya nilai dan arah hidup, tegas tanpa kasar, bertanggung jawab tanpa harus menguasai semuanya, serta tetap memiliki empati.