Polri Usut Karhutla Kalimantan-Sumatera: 72 Orang Jadi Tersangka, Aktor Diburu

Wait 5 sec.

Petugas melakukan pemadaman saat kebakaran hutan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaPenanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia terus dikebut. Polri menetapkan 72 orang sebagai tersangka, menyiagakan puluhan ribu personel, hingga mengerahkan helikopter dan drone untuk mempercepat pemadaman.Di saat yang sama, penyidik mulai menelusuri kemungkinan adanya pihak yang memerintahkan atau membiayai pembakaran lahan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan penegakan hukum tidak berhenti pada pelaku yang berada di lapangan.64 Ribu Hektare Terbakar, 62 Persen Berhasil DikendalikanPolri mencatat total luas lahan yang terbakar secara nasional mencapai 64.341 hektare hingga 22 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 39.959 hektare atau sekitar 62 persen telah berhasil dipadamkan dan dikendalikan.Karobinops Stamaops Polri Brigjen Pol Auliansyah Lubis mengatakan penanganan dilakukan bersama TNI, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat.“Total luasan lahan terbakar secara nasional tercatat ada 64.341 hektare. Jadi berkat kerja keras dari tim gabungan Polri, TNI, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat di lapangan, sebesar 39.959 hektare atau 62 persen dari total area terbakar telah berhasil dipadamkan dan dikendalikan,” kata Auliansyah dalam konferensi pers di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Minggu (23/8).Karobinops Stamaops Polri Brigjen Pol Auliansyah Lubis saat memberikan keterangan pers terkait perkembangan penanganan karhutla di wilayah Kalimantan di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanMeski demikian, penanganan belum berhenti. Data titik panas dan titik api masih dinamis sehingga pemantauan terus dilakukan.Pada 22 Agustus, terdapat 48.656 hotspot yang terdeteksi secara nasional. Setelah diverifikasi di lapangan, 7.872 di antaranya dikonfirmasi sebagai titik api aktif.“Dari tanggal 22 yang lalu, ada 48.656 hotspot yang terdeteksi secara nasional dan hasil verifikasi darat mengonfirmasi adanya 7.872 titik api yang aktif. Jadi lebih kurang dari seluruh hotspot tadi sekitar 16,17 persen,” ujarnya.Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan titik api terbanyak, yakni sekitar 2.849 titik. Berikutnya Riau dengan 1.201 titik, Sumatera Selatan 1.105 titik, Kalimantan Selatan 738 titik, dan Kalimantan Tengah 674 titik.Petugas berupaya memadamkan kebakaran di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Dok. PolriPolri Targetkan Respons Titik Api 1-2 JamUntuk mempercepat penanganan, Polri menerapkan mekanisme respons cepat. Petugas ditargetkan dapat bergerak dalam waktu 1-2 jam setelah hotspot terdeteksi melalui satelit atau laporan masyarakat.Setelah menerima informasi, personel bersama pemangku kepentingan terkait melakukan verifikasi di lapangan. Jika titik panas terbukti merupakan kebakaran, pemadaman dan pendinginan langsung dilakukan agar api tidak meluas.“Jadi anggota atau personel Polri bersama dengan stakeholder terkait, dengan TNI, dengan BPBD dan lain sebagainya, coba mengecek ke titik api yang termonitor dari hotspot atau melalui drone yang sudah kita siapkan,” tutur Auliansyah.Petugas gabungan melakukan pemadaman lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kawasan Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO72 Orang Jadi TersangkaSelain melakukan pemadaman, Polri juga mengejar pihak yang diduga menjadi penyebab kebakaran. Hingga Minggu (23/8), sebanyak 72 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam 89 laporan polisi yang ditangani sembilan Polda.Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol Mohammad Irhamni mengatakan, seluruh tersangka yang telah ditetapkan merupakan individu.“Kesembilan Polda ini telah melaksanakan kegiatan proses penyelidikan dan penyidikan dengan jumlah tersangka kurang lebih yang sudah ditetapkan adalah 72 orang tersangka perorangan,” kata Irhamni dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (23/8).Sembilan Polda tersebut meliputi Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Aceh, dan Kalimantan Utara.Rinciannya, Polda Riau menangani 32 laporan polisi dengan 35 tersangka. Polda Sumatera Selatan menangani 15 laporan dengan 15 tersangka, Polda Jambi tujuh laporan dengan delapan tersangka, Polda Kalimantan Tengah delapan laporan dengan 11 tersangka, Polda Kalimantan Selatan tiga laporan dengan dua tersangka, dan Polda Kalimantan Timur dua laporan dengan satu tersangka.Sementara Polda Kalimantan Barat menangani 18 laporan, Polda Aceh dua laporan, dan Polda Kalimantan Utara dua laporan. Dalam perkara di Kalimantan Tengah, satu kasus dihentikan melalui SP3.Keterangan pers terkait perkembangan penanganan karhutla di wilayah Kalimantan di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanPolisi Temukan Korek hingga Jeriken BBMDari penyelidikan di lapangan, polisi menduga sebagian besar karhutla yang ditangani bukan terjadi karena faktor alam, melainkan akibat pembakaran untuk membuka lahan.Irhamni mengatakan pembakaran dipilih karena dianggap lebih murah dibandingkan menggunakan alat berat untuk melakukan land clearing.“Yang paling mudah adalah dibakar. Selain itu, pascapembakaran itu tanahnya menjadi lebih subur, karena hasil pembakaran abu dan sebagainya itu bisa menjadi pupuk,” katanya.Di sejumlah lokasi, penyidik menemukan lahan yang sebelumnya telah ditebang tiga hingga empat bulan sebelum dibakar. Sisa tanaman dan kayu kemudian dibakar untuk membersihkan lahan, yang diduga berkaitan dengan aktivitas perkebunan, termasuk penanaman sawit.Sejumlah barang bukti turut disita, antara lain 35 korek api, botol berisi solar dan Pertalite, jeriken solar, minyak tanah, 21 parang, dua kapak, cangkul, gergaji mesin, bibit sawit, serta sampel tanah terbakar.“Dari barang bukti-barang bukti yang dilakukan penyitaan oleh penyelidik dan penyidik ini sangat jelas tentunya motif pembakaran tersebut adalah pembukaan lahan,” ujar Irhamni.Polri juga menyebut mayoritas tersangka merupakan petani dan pekerja serabutan.“Pekerjaannya mereka pekerja serabutan tentunya, memang petani rata-rata. Membuka lahan kemudian menanam sawit dan sebagainya. Petani ladang,” kata Irhamni.Petugas melakukan pemadaman saat kebakaran hutan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaPolri Kejar Aktor di Balik PembakaranMeski sebagian besar tersangka mengaku membakar lahan untuk kepentingan sendiri, polisi tidak berhenti pada pengakuan tersebut.Penyidik kini menelusuri aliran transaksi keuangan untuk mengetahui kemungkinan adanya pihak yang memerintahkan atau membiayai pembakaran.“Sebagian besar pengakuannya masih individu, tetapi nanti akan kami lihat dari transaksi keuangannya. Apakah biaya itu biaya pribadi ataupun ada aliran-aliran dari korporasi yang menyuruh atau memerintahkan mereka untuk melakukan pembakaran,” ujar Irhamni.Polri akan berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran dana tersebut.“Kami tidak percaya apa pengakuan dia, tetapi fakta, bukti, transaksi, ataupun evidence-evidence lain akan kami cari,” ujarnya.Irhamni menegaskan penyidikan akan diarahkan hingga kepada pihak yang memperoleh keuntungan dari pembakaran, baik individu maupun korporasi.“Kami akan kejar sampai orang yang menikmati, menerima keuntungan atas pembakaran tersebut. Baik korporasi ataupun individu akan kami lakukan pengejaran dan lakukan penegakan hukum secara tegas tentunya,” tegasnya.Sejauh ini, polisi belum menemukan keterlibatan aparat atau pejabat dalam perkara tersebut.“Aparat ataupun pejabat-pejabat sampai saat ini belum ditemukan. Tetapi kami masih dinamis,” katanya.Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko saat memberikan keterangan pers terkait perkembangan penanganan karhutla di wilayah Kalimantan di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanDua Helikopter dan Drone DisiapkanUntuk memperkuat penanganan di lapangan, Polri menyiapkan dua helikopter yang dapat digunakan untuk operasi water bombing. Selain itu, drone juga digunakan untuk membantu pemantauan sekaligus pemadaman.“Kami juga dari Polri ada dua helikopter, ada dua unit helikopter yang bisa digunakan sebagai water bombing,” kata Auliansyah.Polri juga memiliki drone fire suspension yang dapat membawa delapan bola pemadam untuk diarahkan ke titik api.“Kita juga ada modifikasi drone fire suspension. Jadi drone itu bisa terbang membawa ada delapan bola untuk bisa ditembakkan ke titik api,” ujarnya.Keterangan pers terkait perkembangan penanganan karhutla di wilayah Kalimantan di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanRatusan pompa air portabel turut disiapkan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses kendaraan.Dari sisi personel, Polri menyiagakan 48.354 personel Korshabara dan 23.360 personel Korbrimob.“Polri menyiagakan kekuatan penuh secara nasional. Disiagakan 48.354 personel Korshabara dan 23.360 personel Korbrimob yang siap digerakkan kapan pun dibutuhkan,” katanya.Total terdapat 71.714 personel dari kedua unsur tersebut yang disiagakan untuk mendukung penanganan karhutla.Dengan pemadaman yang terus berjalan dan penyidikan yang mulai mengarah pada kemungkinan adanya aktor di balik pembakaran, pemerintah kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus: menghentikan perluasan titik api dan memastikan siapa pun yang terbukti sengaja membakar lahan mempertanggungjawabkan perbuatannya.