Petugas Manggala Agni Daops Pekanbaru dan personel TNI menarik selang saat berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut yang meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (19/8/2026). Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTOKabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Provinsi Riau berdampak pada kegiatan belajar mengajar di Kota Pekanbaru. Pembelajaran jenjang TK hingga SMP dilakukan secara daring.Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Pekanbaru, kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru menerbitkan surat edaran tentang penyesuaian kegiatan pembelajaran akibat penurunan kualitas udara di Kota Pekanbaru."Proses belajar tetap berjalan, tetapi dilaksanakan secara daring dari rumah. Kebijakan ini kita ambil untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik dari paparan kabut asap," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal, Senin (24/8).Siswa mengerjakan tugas sekolah di rumahnya secara daring, di Pekanbaru, Riau. Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTOSelama pembelajaran daring, peserta didik tidak perlu datang ke sekolah maupun mengikuti kegiatan sekolah lainnya yang mengharuskan kehadiran secara langsung."Pihak sekolah juga diminta memberikan pembelajaran secara sederhana, efektif, dan tidak membebani peserta didik selama kegiatan belajar dari rumah berlangsung," ujarnya.Abdul Jamal meminta orang tua dan wali murid memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah selama kualitas udara belum membaik."Jangan sampai karena tidak datang ke sekolah, anak-anak justru bermain di luar rumah. Kami minta orang tua menjaga anak-anak tetap di rumah. Kalau memang ada keperluan mendesak untuk keluar, gunakan masker," ungkapnya.Ia menegaskan kebijakan belajar daring tersebut hanya berlaku pada Senin (24/8). Pelaksanaan pembelajaran pada hari berikutnya akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara berdasarkan informasi BMKG dan instansi terkait."Kita akan melihat perkembangan kondisi kualitas udara. Untuk kegiatan belajar hari berikutnya akan kita sesuaikan berdasarkan informasi BMKG dan instansi terkait. Mudah-mudahan kondisi udara segera membaik sehingga anak-anak dapat kembali belajar di sekolah dengan aman dan nyaman," pungkasnya.Asap akibat karhutla ganggu jarak pandang di Tol Pekanbaru-Dumai. Foto: IstimewaJarak Pandang TerbatasSelain itu, asap akibat karhutla juga mulai mengganggu pengendara yang melintas di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai, Riau. Kondisi tersebut membuat jarak pandang terbatas, terutama pada malam hari.Salah seorang pengendara mobil, Nasrio, mengungkapkan asap cukup tebal saat dirinya memasuki pintu Tol Pekanbaru pada Minggu (23/8) malam."Kondisi di tol malam ini sudah buram, kabut asap terlihat jelas di pintu masuk Tol Pekanbaru," kata Nasrio.Nasrio mengatakan, dirinya memilih tidak membuka jendela mobil karena bau asap yang menyengat. Kondisi tersebut juga membuat matanya terasa pedih."Tadi sempat membuka mata, mata pedih, bau bekas kebakaran juga sudah sangat menyengat," ujarnya.Menurut Nasrio, asap semakin pekat saat perjalanan memasuki kawasan sekitar KM 30. Jarak pandang pun semakin terbatas sehingga pengendara harus lebih berhati-hati."Sekitar KM 30-an ke bawah yang sangat pekat asapnya," pungkasnya.Data BMKG Stasiun Pekanbaru menunjukkan terdapat 306 titik panas (hotspot) di Riau. Titik panas terbanyak terdeteksi di Kabupaten Pelalawan.