Gempa M 7,7 NTT: Potret Kerentanan Perempuan dalam Kondisi Bencana

Wait 5 sec.

Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERSGempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) masih menyisakan duka mendalam. Dampaknya pun masih terasa hingga saat ini. Sepekan usai gempa pertama, BMKG mencatat sudah ada lebih dari 5 ribu gempa susulan.Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat (21/8), sebanyak 83 orang meninggal dan 986 luka-luka. Lalu, menurut data per Sabtu (22/8), jumlah warga yang mengungsi mencapai 150.576 jiwa. Sebanyak tujuh kabupaten di Pulau Flores, yaitu Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, Ende, dan Nagekeo terdampak.Dilansir kumparanNEWS, tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak adalah Kabupaten Manggarai sebanyak 41.427 orang, Nagekeo 34.256 orang, dan Manggarai Timur 31.372 orang.Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERSDalam wawancara bersama kumparanWOMAN, Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti menjelaskan kondisi para korban, termasuk para perempuan dan anak-anak, di lokasi. Dia mengatakan, gempa-gempa susulan menyebabkan rumah yang tadinya masih retak-retak menjadi hancur. Lalu, kondisi cuaca yang dingin di berbagai daerah, termasuk Ruteng, Manggarai, membuat banyak perempuan dan anak-anak kedinginan.“Di Ruteng ini, kan, daerah dingin. Jadi, memang di sini kekurangan tempat mengungsi yang layak. Anak-anak dan perempuan, ya, kedinginan. Mereka memerlukan banyak bantuan. Air bersih di beberapa tempat juga masih terbatas tentunya,” jelas Dini pada Jumat (22/8) malam.Saat ini, para korban masih mengungsi di tenda-tenda terpisah, bukan di satu kamp pengungsian yang terpusat. Pengungsian juga overcrowded atau terlalu penuh, menyebabkan kurangnya ruang aman dan privasi. Selain itu, masih banyak daerah yang terputus aksesnya dan terisolir, sehingga bantuan belum bisa disalurkan secara optimal.Kondisi Kerentanan Perempuan di Tengah BencanaKondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERSDini mengatakan, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok rentan dengan kendala yang unik. Perempuan dengan fungsi biologisnya setiap bulan, yakni menstruasi, mengalami kesulitan dalam mengelolanya. Akses air bersih yang terbatas menyulitkan mereka untuk mengganti pembalut dan membersihkan area organ reproduksi.Tak hanya itu, pengungsian yang terlalu penuh menyebabkan perempuan kehilangan ruang aman.“Dalam perspektif perempuan, bencana menyebabkan permasalahan besar terutama untuk yang sedang menstruasi. Secara kebersihan dan sanitasinya terbatas sekali dalam kondisi bencana,” jelas Dini.“Selain itu, karena kondisi yang mungkin overcrowded, anak perempuan—terutama anak-anak perempuan yang remaja—ini tidak ada privasi juga, semuanya campur. Ini menambah kerentanan,” imbuhnya.Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERSRuang aman yang terbatas, ditambah minimnya penerangan di malam hari, juga meningkatkan potensi risiko pelecehan terhadap perempuan. Lalu, terbatasnya area privat menjadi tantangan sendiri bagi ibu-ibu menyusui.Lalu, dampak gempa bumi juga tidak selalu terlihat mata. Dini menjelaskan, banyak korban yang perekonomiannya terganggu karena tidak bisa bekerja. Terlebih, banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal dengan pendapatan harian.“Bencana berikutnya adalah karena rumah-rumah mereka hancur, mereka juga tidak bisa bekerja karena masih khawatir meninggalkan keluarga. Secara ekonomi sangat terdampak, terutama masyarakat-masyarakat yang bekerja di sektor informal yang pendapatannya harian,” jelas Dini.Bantuan yang DisalurkanKondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERSDini mengatakan, saat ini yayasan Plan Indonesia sudah menyalurkan beragam bantuan. Sejauh ini, mereka juga sudah menyalurkan dua ribu paket sanitasi dan kebersihan untuk perempuan, termasuk di dalamnya pembalut.“Jadi yang sudah dibagikan itu ada paket kebersihan menstruasi, terpal untuk hunian sementara, tikar untuk alas tidur, selimut, dan shelter,” papar Dini.Plan Indonesia juga mendistribusikan air bersih ke daerah-daerah yang sejak lama kesulitan akses air bersih, terlebih di Nagekeo dan Manggarai, juga mengupayakan pengadaan tenda aman untuk para perempuan dan anak-anak.“Anak-anak perempuan dan perempuan itu rentan terhadap pelecehan. Itulah mengapa perlu penerangan. Kami juga upayakan ruang aman, yaitu tenda besar untuk perempuan dan anak, karena mungkin ada ibu yang mau menyusui, perlu privasi, atau mereka mau ganti baju, jadi itu ada tenda tertutup. Ini masih diupayakan untuk bisa sampai ke wilayah-wilayah yang memang membutuhkan,” tutup Dini.