Studi: Makin Bertambah Usia, Perempuan Makin Tak Nyaman Memakai Rok

Wait 5 sec.

Model mengenakan busana rancangan Artkea Stripes x IKYK dengan tema "Limitless Beauty" pada gelaran Jakarta Fashion Week di Pondok Indah Mall, Jakarta, Kamis (26/10/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanRok mungkin terlihat sebagai salah satu item fashion yang sederhana. Namun, bagi perempuan, pilihan rok ternyata dapat berkaitan dengan kenyamanan, aktivitas sehari-hari, hingga bagaimana seseorang mengenali bentuk tubuhnya sendiri. Sebuah penelitian di Korea Selatan menemukan bahwa pengalaman perempuan dalam mengenakan rok berbeda menurut kelompok usia, terutama dalam hal bagian tubuh yang terasa tidak nyaman dan model yang dianggap paling sesuai.Penelitian berjudul A Study on the Wearing Practice and Recognized Body Type of Skirts According to Women's Age ini dilakukan oleh Myeng Ok Moon dari Department of Fashion Design, Dong-Eui University, Busan, Korea Selatan. Studi tersebut diterbitkan pada 2009 dalam Journal of the Korean Society for Clothing Industry. Peneliti mengumpulkan data dari 179 perempuan berusia 20–59 tahun yang tinggal di Busan. Pengumpulan data dilakukan pada September–November 2008 menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah melalui tahap uji coba.Artkea rilis koleksi bertajuk Continuum yang menghadirkan koleksi untuk semua generasi lewat Annual Show di Hotel Mulia Senayan pada Kamis (17/7/2025). Foto: Fawzy Padly Penelitian ini tidak hanya melihat rok dari sisi tren fesyen. Moon ingin mengetahui karakteristik pembelian, kebiasaan mengenakan rok, desain yang disukai, serta kesesuaian antara bentuk tubuh yang dikenali perempuan dengan bentuk tubuh mereka berdasarkan pengukuran aktual. Data lingkar pinggang dan pinggul responden juga digunakan untuk menentukan kategori bentuk tubuh bagian bawah berdasarkan standar ukuran pakaian perempuan dewasa Korea.Salah satu temuan paling jelas terlihat pada pengalaman perempuan ketika mengenakan rok. Hanya 19,4 persen perempuan berusia 50-an yang mengatakan tidak memiliki bagian tubuh yang terasa tidak nyaman saat memakai rok. Angkanya jauh lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih muda, yakni 64,1 persen pada perempuan usia 20-an, 37,8 persen pada usia 30-an, dan 28,9 persen pada usia 40-an. Dengan kata lain, semakin bertambah usia, semakin besar proporsi responden yang melaporkan adanya bagian tubuh yang terasa tidak nyaman ketika mengenakan rok.BRI JF3 Fashion Festival 2026 angkat craftsmanship warisan budaya Nusantara jadi kekuatan fashion masa depan berstandar global. Foto: BRI JF3 Fashion FestivalBagian tubuh yang paling sering dikeluhkan adalah perut dan pinggang. Pada perempuan usia 20-an, 17 persen menyebut perut sebagai area yang tidak nyaman. Angka tersebut meningkat menjadi 28,9 persen pada usia 30-an, 31,1 persen pada usia 40-an, dan 41,7 persen pada usia 50-an.Keluhan pada pinggang juga menunjukkan pola peningkatan. Hanya 5,7 persen perempuan usia 20-an yang menyebut area tersebut sebagai bagian yang tidak nyaman, dibandingkan 8,9 persen pada usia 30-an, 20 persen pada usia 40-an, dan 27,8 persen pada usia 50-an. Keluhan pada area pinggul juga ditemukan, meski polanya tidak meningkat secara konsisten seperti perut dan pinggang."Seiring bertambahnya usia, perempuan merasa makin tak nyaman memakai rok. Alasan terbesar mereka karena merasa tidak nyaman pada area perut dan pinggang," tulis Moon.Rok yang dipilih cenderung membantu menutupi bentuk tubuhWilsen Willim di Jakarta Fashion Week 2026. Foto: Instagram/ @wilsenwillimofficialPengalaman tersebut berjalan beriringan dengan preferensi perempuan terhadap desain rok. Ketika ditanya mengenai dasar pemilihan desain, 35,2 persen responden memilih desain yang dapat menutupi atau mengakomodasi bagian tubuh yang dianggap kurang ideal. Berikutnya adalah desain yang sederhana dan tidak mencolok sebesar 28,5 persen, desain fungsional 27,9 persen, dan desain yang lebih menunjukkan kepribadian hanya 8,4 persen.Untuk siluet, semi-tight dan A-line sama-sama menjadi pilihan terbanyak, masing-masing 29,1 persen. Setelah itu terdapat siluet flare sebesar 18,4 persen dan tight sebesar 16,2 persen. Peneliti juga mencatat bahwa semi-tight merupakan salah satu model dasar rok yang banyak digunakan dan relatif tidak terlalu terpengaruh perubahan tren. Koleksi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. Foto: Dok. Yosafat Dwi KurniawanPanjang rok justru menunjukkan perbedaan yang cukup jelas berdasarkan usia. Pada kelompok usia 20-an, 60,4 persen memilih rok mini, sedangkan 32 persen memilih rok selutut. Pada kelompok usia 30-an, rok selutut menjadi pilihan dominan dengan angka 86,7 persen. Sementara itu, perempuan usia 40-an dan 50-an paling banyak memilih rok selutut, masing-masing 68,9 persen dan 61,1 persen, disusul rok sepanjang betis.Dari segi warna, preferensinya jauh lebih seragam. Hitam dipilih oleh 69,3 persen responden, menjadikannya warna yang paling populer tanpa perbedaan signifikan berdasarkan usia. Sebanyak 12,9 persen memilih kelompok warna biru, 7,8 persen abu-abu, dan 6,1 persen merah. Untuk motif, 78,2 persen responden lebih menyukai rok polos, sementara motif kotak-kotak dipilih 9,5 persen dan garis-garis 6,1 persen.Dari cara membeli sampai cara memakainya ikut berubahFashion Show Ria Miranda Signature di JFW 2023. Foto: JFWUsia juga berhubungan dengan bagaimana perempuan membeli rok. Kelompok usia 20-an lebih banyak membeli rok di road shop dan internet, sedangkan perempuan usia 30–50-an lebih banyak berbelanja di department store dan toko diskon. Perbedaan juga terlihat pada harga. Perempuan yang lebih tua cenderung membeli rok dengan harga lebih tinggi.Meski begitu, frekuensi membeli rok relatif rendah. Lebih dari separuh responden, yaitu 52 persen, membeli rok hanya satu sampai dua kali dalam setahun, sementara 34,6 persen membelinya tiga sampai lima kali setahun. Frekuensi mengenakannya juga tidak tinggi. Sebanyak 34,1 persen responden mengatakan hampir tidak pernah mengenakan rok dan 29,6 persen memakainya sekitar satu kali dalam seminggu. Jika digabungkan, 63,7 persen responden hampir tidak pernah atau hanya mengenakan rok sekali dalam seminggu.Alasan membeli rok pun relatif konsisten di semua kelompok usia. 50,3 persen membeli rok agar dapat dipadukan dengan pakaian lain, sedangkan 36,3 persen membelinya karena menyukai desainnya. Hanya 10,1 persen yang menyebut perubahan tren sebagai alasan dan 3,3 persen membeli karena masalah ukuran pakaian sebelumnya.Fashion show Artkea "The Full House" di Mulia in Fashion, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis (10/7/2026). Foto: ArtkeaKetika memilih rok, desain menjadi faktor terpenting bagi 68,2 persen responden. Pada perempuan usia 20-an, angkanya bahkan mencapai 83 persen. Namun, pada kelompok usia 30–50-an, faktor kenyamanan mulai menjadi pertimbangan yang lebih besar dibandingkan kelompok usia 20-an.Cara memadukannya juga berubah. Perempuan usia 20-an paling sering mengenakan rok dengan kaus dan kardigan. Pada usia 30-an, blus dan kardigan lebih dominan, sedangkan kelompok usia 40-an dan 50-an lebih sering memasangkan rok dengan blus dan jaket. Perubahan ini sejalan dengan alasan memakai rok: perempuan usia 20-an paling banyak menjawab “sekadar mengenakan”, sementara kelompok usia 30–50-an lebih banyak mengenakannya karena kebutuhan aktivitas sosial.Hanya 43 persen yang mengenali bentuk tubuhnya secara akuratKoleksi "Serumpun" oleh brand VOTUM Heritage Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese di Jakarta Fashion Week 2025, 25 Oktober 2024. Foto: dok. Jakarta Fashion WeekBagian lain dari penelitian ini berkaitan dengan persepsi tubuh. Peneliti tidak hanya meminta responden menyebutkan bentuk tubuh mereka, tetapi juga mengukur lingkar pinggang dan pinggul untuk menentukan kategori bentuk tubuh bagian bawah secara objektif.Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi dan kondisi tubuh yang diukur. Dari 179 responden, hanya 77 perempuan atau 43 persen yang memiliki persepsi bentuk tubuh yang sesuai dengan hasil pengukuran. Sebanyak 57 persen lainnya tidak mengenali bentuk tubuhnya secara tepat.Kesesuaian tersebut juga berbeda berdasarkan kategori tubuh. Dari perempuan yang secara pengukuran termasuk kategori pinggang tebal, hanya 41,7 persen yang mengenali dirinya dalam kategori tersebut. Pada kategori tubuh normal, tingkat kesesuaiannya mencapai 50 persen. Fashion show TOTON 2027: KALA di Mulia in Fashion, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Jumat (10/7/2026). Foto: Dok. TotonSementara itu, dari perempuan yang secara aktual termasuk kategori pinggang ramping, hanya 35,8 persen yang menyadari bahwa mereka berada dalam kategori tersebut.Menariknya, persepsi mengenai pinggang juga berbeda menurut usia. Hanya 15,1 persen perempuan usia 20-an yang menganggap dirinya memiliki pinggang tebal. Angka tersebut meningkat menjadi 28,9 persen pada usia 30-an, 33,3 persen pada usia 40-an, dan 50 persen pada usia 50-an. Sebaliknya, persepsi sebagai perempuan dengan pinggang ramping turun dari 34 persen pada usia 20-an menjadi hanya 2,8 persen pada usia 50-an.Namun, penting dicatat bahwa penelitian ini tidak mengatakan bahwa perempuan yang semakin tua pasti mengalami perubahan bentuk tubuh tertentu. Studi ini membandingkan persepsi responden dengan ukuran tubuh aktual dan menemukan adanya perbedaan persepsi tersebut. Koleksi Larung dari Sejauh Mata Memandang untuk Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 di Pondok Indah Mall (PIM) 3, Jakarta, Selasa (28/10/2025). Foto: JFWPeneliti juga menekankan bahwa persepsi tubuh yang keliru dapat memengaruhi kepuasan terhadap tubuh serta membuat konsumen lebih sulit memilih pakaian dengan ukuran yang tepat.Dari rangkaian temuan tersebut, penelitian yang Myeng Ok Moon ini menunjukkan bahwa hubungan perempuan dengan rok ternyata tidak berhenti pada persoalan tren atau estetika. "Usia berkaitan dengan perubahan cara perempuan membeli, memakai, memadukan, dan memilih desain rok, sekaligus dengan meningkatnya laporan ketidaknyamanan pada area perut dan pinggang. Di saat yang sama, persepsi perempuan terhadap bentuk tubuhnya tidak selalu sesuai dengan hasil pengukuran aktual," tulisnya.Untuk itu, Moon menyarankan pentingnya pemahaman yang lebih tepat mengenai bentuk tubuh agar perempuan dapat memilih pakaian yang sesuai dan merasa lebih puas terhadap tubuhnya. Peneliti juga merekomendasikan agar produsen pakaian mengembangkan ukuran dan desain yang lebih sesuai dengan karakteristik tubuh konsumen.