karhutla indonesia, CC BYKebakaran hutan hampir jadi agenda tahunan Indonesia setiap musim kemarau.Tahun ini, langit di banyak daerah, mulai dari Sumatra hingga Kalimantan, kembali tertutup kabut pekat. Asap bahkan menyeberangi perbatasan hingga memicu protes dari negara tetangga. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini bukan lagi sekedar bencana alam kejutan, melainkan fenomena tahunan yang solusinya seolah-olah selalu menemui jalan buntu. Dalam Podcast SuarAkademia kali ini, kami mengajak Sofyan Ansori, akademisi dari Universitas Indonesia, untuk berdiskusi tentang kebakaran hutan di Tanah air. Menurut dia, karhutla merupakan krisis ekologis hasil dari menumpuknya kegagalan negara mencegah kobaran api dan pengulangan pola lama yang tak kunjung dibenahi.Sofyan mengatakan bahwa karhutla tahun ini sejatinya sudah diprediksi oleh lembaga riset dan meteorologi sejak awal 2026 seiring berhembusnya fenomena El Nino terkuat sepanjang sejarah. Sayangnya, hingga akhirnya api berkobar hebat, respon di lapangan tetap terkesan lambat dan kewalahan. Sofyan juga menyoroti bagaimana penanganan di Indonesia selalu terjebak dalam pola reaktif, yang mulai sibuk mengerahkan kekuatan dan menurunkan pejabat ketika status darurat telah ditetapkan.Ia juga menambahkan, tindakan insidental yang terkesan “heroik” saat api sudah membesar justru menutupi fakta bahwa pangkasan anggaran dan pengabaian langkah pencegahan di bulan-bulan awal menjadi akar membesarnya krisis ini. Sofyan pun menyoroti narasi penyebab kebakaran sebagai “lagu lama kaset baru”, seakan-akan tak pernah berubah tiap dekade. Masyarakat adat atau peladang tradisional sering kali dijadikan kambing hitam. Padahal, pemantauan satelit menunjukkan bahwa mayoritas titik panas (hotspot) justru terkonsentrasi di area konsesi industri berskala besar.Deforestasi masif, konversi lahan dan pembuatan kanal yang mengeringkan lahan gambut telah mengubah bentang alam menjadi firescape yang sangat rentan tersulut. Pengulangan pola sejak era 1980-an ini memperlihatkan adanya keengganan sistematis untuk menyentuh aktor-aktor kunci, sambil membiarkan bentang alam semakin rusak.Kunci pembenahan karhutla, menurut Sofyan, sebenarnya tidak lagi terletak pada kecanggihan teknologi prediksi atau pemodelan, melainkan pada kemauan politik pemerintah untuk memulihkan ekosistem secara konsisten, dan menjaga lahan gambut tetap basah. Tanpa keberanian ini, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus karhutla yang merugikan masyarakat, terutama di daerah terdampak.Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.