Ilustrasi lari. Foto: ChrisVanLennepPhoto/ShutterstockFenomena branding merek melalui event lari menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Senin (24/8). Selain itu, terdapat potensi perputaran uang dan cuan yang sangat besar di balik olahraga ini. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Berlomba Branding Lewat Event LariTren olahraga lari di Jabodetabek sepanjang tahun 2026 terus meningkat pesat dengan tercatatnya 172 event lari hingga awal Agustus. Menariknya, event lari kini menjadi ladang perebutan branding bagi berbagai merek dan institusi. Dari data yang dikumpulkan, sebanyak 79 event menyandang nama brand atau institusi sebagai identitas resmi acara mereka, baik sebagai sponsor utama maupun penyelenggara langsung. Kategori retail serta makanan dan minuman (F&B) mendominasi dengan menyumbang 18 event, disusul merek lain sebanyak 17 event, serta instansi pemerintah dan partai politik sebanyak 11 event.Wilayah Gelora Bung Karno (GBK) dan Senayan di Jakarta menjadi lokasi favorit utama bagi penyelenggaraan event lari ini dengan total 34 kali dijadikan tempat acara sepanjang tahun 2026. Angka ini mengungguli BSD City yang berada di posisi kedua dengan hanya 13 event. Pemilihan lokasi strategis ini didukung oleh kemudahan akses transportasi umum seperti LRT, MRT, dan kereta api, yang sangat memudahkan mobilisasi para pelari dari berbagai daerah penopang Jakarta.Bagi para peserta, penggunaan atribut atau jersei berlogo brand ternama memberikan gengsi tersendiri, terutama untuk ajang besar bertaraf nasional. Meskipun mereka menyadari peran mereka sebagai media promosi berjalan bagi sponsor, kualitas penyelenggaraan dan jersei bernilai tinggi menjadi kompensasi yang sepadan. Hal ini memicu para pelari untuk rela mengantre dan membayar biaya pendaftaran demi pencapaian pribadi serta gengsi sosial.Bukan Olahraga Murah: Cuan Besar di Balik LariIlustrasi lari. Foto: ABB Photo/ShutterstockAnggapan bahwa lari adalah olahraga murah kini mulai bergeser seiring dengan melonjaknya biaya registrasi dan perlengkapan fisik. Tren biaya pendaftaran mengalami kenaikan sekitar Rp 100 ribu setiap tahunnya. Sebagai gambaran, harga tiket kategori 10K kini telah menyentuh kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu, sementara kategori full marathon (FM) berkisar antara Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta. Pengeluaran pelari akan semakin membengkak hingga mencapai Rp 2 juta sampai Rp 5 juta per event apabila perlombaan diadakan di luar kota seperti Bandung atau Bali karena harus memperhitungkan biaya transportasi dan akomodasi.Dari analisis data terhadap 172 event lari di Jabodetabek sepanjang tahun 2026, harga registrasi rata-rata berada di angka Rp 266 ribu untuk seluruh kategori. Kategori lari 5K menjadi yang paling populer dengan total 150 event, disusul kategori 6-10K sebanyak 76 event. Nilai perputaran uang dari biaya registrasi ini sangat fantastis. Satu event besar dengan jumlah peserta mencapai 27 ribu orang diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan registrasi hingga Rp 27 miliar.Dampak ekonomi dari fenomena ini bahkan jauh lebih luas dari sekadar biaya pendaftaran peserta. Sebagai contoh, ajang BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) 2026 yang diikuti oleh 45 ribu pelari diperkirakan menyumbang perputaran ekonomi daerah hingga di atas Rp 200 miliar. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 125 miliar, membuktikan bahwa industri olahraga lari merupakan motor penggerak ekonomi yang sangat menjanjikan.