Ilustrasi perempuan kesepian. Foto: ShutterstockManusia seringkali menganggap rasa kesepian adalah hal wajar. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kesepian dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan yang serius. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menempatkan kesepian sebagai isu kesehatan global.Menurut WHO, kesepian muncul ketika terdapat kesenjangan (discrepancy) antara hubungan sosial yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dialami.Dalam laporan WHO berjudul "From Loneliness to Social Connection" yang dipublikasikan pada Juni 2025, disebutkan bahwa 1 dari 6 orang di dunia mengalami kesepian. Laporan tersebut merangkum penelitian yang dilakukan pada 2014–2023 di 154 negara melalui metode survei.Secara global, sekitar 15,8 persen penduduk global mengaku kesepian. Fenomena ini paling tinggi ditemui pada kelompok remaja. Sebanyak 20,9 persen remaja berusia 13–17 tahun diperkirakan mengalami kesepian. Tren kesepian mengalami penurunan pada kelompok usia yang lebih dewasa. Dari kelompok remaja, angka tersebut kemudian turun menjadi 17,4 persen pada kelompok dewasa muda berusia 18–29 tahun. Lalu, 15,1 persen pada orang dewasa berusia 30–59 tahun dan 11,8 persen pada kelompok lanjut usia berusia 60 tahun ke atas. Kelompok usia 60 tahun ke atas menjadi kelompok dengan tingkat kesepian terendah.Tingginya angka kesepian pada remaja sejalan dengan penelitian sebelumnya. WHO menyebut, kondisi ini kemungkinan berkaitan dengan fase perkembangan remaja yang ditandai perubahan emosional dan psikologis yang signifikan.Pada masa remaja, ekspektasi terhadap hubungan sosial kemungkinan lebih tinggi sehingga dapat membuat kesenjangan tersebut semakin terasa.Sementara itu, kelompok lanjut usia melaporkan tingkat kepuasan yang relatif lebih tinggi terhadap hubungan sosial mereka. Namun, ada kemungkinan bahwa tingkat kesepian lebih tinggi di kalangan orang dewasa berusia ≥ 80 tahun.Kesepian bukan fenomena remeh, temuan WHO mengungkap bahwa ada sekitar 100 kematian setiap jam atau 871.000 kematian per tahun yang disebabkan oleh alasan terkait kesepian. PBB mengungkapkan bahwa kematian terkait kesepian dapat disebabkan oleh kesehatan yang buruk, pendapatan dan pendidikan rendah, hidup sendirian, kurangnya infrastruktur komunitas dan kebijakan publik yang memadai, serta aspek-aspek tertentu di era digital.Orang yang kesepian dua kali lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan tinggi, dan pikiran untuk bunuh diri. Sebaliknya, koneksi sosial menawarkan berbagai manfaat mulai dari meningkatkan kesehatan mental, menurunkan risiko penyakit serius, dan memperpanjang umur.Melihat Tingkat Kesepian Perempuan dan Laki-LakiIlustrasi pasangan merasa kesepian dalam pernikahan. Foto: ShutterstockJika dilihat berdasarkan jenis kelamin, kesepian pada perempuan dan laki-laki relatif tidak jauh berbeda. Secara global, diperkirakan 16,1 persen perempuan mengalami kesepian, sementara pada laki-laki angkanya 15,4 persen.Pada perempuan, angka kesepian paling tinggi ditemukan pada remaja, yakni mencapai 24,3 persen. Angka ini kemudian menurun pada dewasa muda yaitu 16,8 persen. Sementara itu, pada laki-laki, kelompok dewasa muda memiliki prevalensi kesepian tertinggi, yakni 17,4 persen.Dengan demikian, perempuan remaja menjadi kelompok dengan tingkat kesepian tertinggi. Sementara pada laki-laki, angka tertinggi ditemukan pada kelompok dewasa muda.Penduduk Negara Miskin Alami Kespian TertinggiSuasana pemukiman di perlintasan rel kereta api di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (16/7/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanTingkat pendapatan suatu negara turut memengaruhi kondisi kesepian seseorang. Semakin rendah pendapatan suatu negara, semakin tinggi tingkat kesepian yang ditemukan.Negara berpendapatan rendah menjadi kawasan yang memiliki penduduk dengan tingkat kesepian tertinggi. Angkanya mencapai 24,3 persen. Angka ini lalu turun menjadi 19,3 persen di negara berpendapatan menengah bawah, 12,1 persen di negara berpendapatan menengah atas, dan hanya 10,6 persen di negara berpendapatan tinggi.Kasus Kesepian Tertinggi Terjadi di AfrikaJika dilihat berdasarkan kawasan, Kawasan Afrika memiliki kasus kesepian tertinggi, yakni mencapai 24,3 persen. Di bawahnya terdapat Kawasan Mediterania Timur, yakni sebesar 21 persen. Sedangkan kawasan, Asia Tenggara sebesar 18,3 persen. Jumlah kasus di tiga kawasan tersebut lebih tinggi dari rata-rata global. Terdapat 3 kawasan yang memiliki tingkat kesepian di bawah rata-rata global. Yakni kawasan Amerika, sebesar 13,6 persen, Kawasan Pasisfik Barat sebesar 11 persen, dan Kawasan Eropa. Kawasan Eropa memiliki tingkat kesepian paling rendah, yakni 10,1 persen.Psikolog: Turunkan Harapan ke Orang LainWuri Prasetyawati. Foto: dok. Universitas IndonesiaDosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Wuri Prasetyawati menyebutkan bahwa kesepian berkaitan erat dengan harapan seseorang kepada orang lain. Maka, mengatasi kesepian dapat dilakukan dengan menurunkan ekspektasi ke orang lain. "Karena kesepian ini ada kaitannya dengan harapan seseorang dan kenyataan, maka mengubah atau menurunkan harapan diharapkan dapat mengurangi rasa kesepian," kata Wuri kepada kumparan, Jumat (21/8). Bagi yang sadar bahwa mereka mengalami kesepian, Wuri juga menganjurkan perlu upaya membuka kembali hubungan lama lewat cara-cara sederhana seperti bertukar pesan. Dari sini, hubungan berlanjut ke ranah personal yang lebih akrab. Baginya, kesepian itu subjektif dan dipengaruhi oleh kondisi hubungan interpersonal seseorang. Secara kualitatif, hubungan interpersonal yang kurang berarti kurang didengarkan oleh teman. Sementara kurang kuantitatif ketika jumlah teman hanya sedikit.Ilustrasi buka bersama (bukber) teman-teman terdekat. Foto: Ika Rahma H/ShutterstockMenurut Wuri, ada beberapa faktor pemicu kesepian. Faktor diri sendiri seperti kepribadian, kepercayaan diri, hingga pengalaman masa lalu. Ada pula faktor perubahan seperti pindah kota, konflik, atau putus hubungan asmara.Sementara soal pengaruh masyarakat yang individualis, Wuri tak sepenuhnya sekata. Baginya, itu bukan satu-satunya pemicu maraknya kesepian. "Ada orang yang merasa tidak kesepian meskipun ia hanya memiliki sedikit teman. Karena kualitas hubungan dengan teman tersebut cukup intensif, maka ia tidak merasa kesepian. Sebaliknya, ada orang yang berada dalam kelompok dengan banyak orang tapi merasa kesepian karena merasa kualitas pertemanannya kurang berdampak bagi dirinya," terangnya.