Suasana lomba Cyber Competition: Rise the Ranger 2 yang diselenggarakan Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanSatuan Siber (Satsiber) TNI menggelar kompetisi penanganan ancaman siber di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (23/8). Lomba ini meraih rekor MURI sebagai kompetisi dengan jumlah peserta terbanyak.Lomba tersebut bertajuk Cyber Competition: Rise The Ranger 2. Ada 534 tim yang ikut dalam kompetisi tersebut. Tiga kategori yang diperlombakan tahun ini, yakni digital forensic, attack and defense, serta incident response.Suasana lomba Cyber Competition: Rise the Ranger 2 yang diselenggarakan Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanAjang ini menjadi wadah bagi mahasiswa, profesional, praktisi, komunitas, hingga masyarakat umum untuk menguji kemampuan menghadapi berbagai skenario ancaman siber."Tahun ini dapat kita 534 tim yang ikut dalam kompetisi meskipun saat pendaftaran ada 600-an. Dan alhamdulillah, puji Tuhan, tahun ini kita juga masuk dalam pemecahan rekor dari MURI dengan jumlah peserta terbanyak," ujar Komandan Satsiber TNI, Brigjen Juinta Omboh Sembiring, kepada wartawan.Doorstop Komandan Satuan (Dansat) Siber Mabes TNI Brigjen Juinta Omboh Sembiring di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanIa menjelaskan kompetisi Rise The Ranger 2 merupakan ajang untuk menguji kemampuan talenta-talenta Indonesia di bidang siber. Kompetisi tahun ini juga menghadirkan materi baru yang belum pernah digunakan dalam penyelenggaraan sebelumnya.Suasana lomba Cyber Competition: Rise the Ranger 2 yang diselenggarakan Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (23/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanJuinta menjelaskan, para pemenang bisa mengikuti seleksi untuk masuk TNI."Nanti finalis 1, 2, 3 yang berkeinginan masuk menjadi prajurit TNI, kiya akan mengikuti seleksi langsung tingkat pusat. Ada prioritas, tapi tentunya ada materi-materi yang harus lulus dia, psikologi maupun mental ideologi, ini yang terpenting menurut kami," jelas dia."Tapi kalau masalah fisik, kesehatan, ya kalau kurang-kurang dikit, ya bisa dimaklumi nanti bisa lakukan diskresi saya pikir," lanjut dia.