3 Orang utan dievakuasi dari kebun warga akibat karhutla di Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaTiga orang utan yang terdiri dari induk dan dua anak dievakuasi dari kawasan perkebunan warga di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akibat habitat mereka terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Evakuasi dilakukan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan masyarakat. Ketiga orang utan tersebut sebelumnya terpantau berada di kawasan perkebunan warga sejak awal 2026.Kebakaran yang terjadi pada Juli dan Agustus 2026 menghanguskan fragmen hutan dan memutus jalur pergerakan orang utan. Kondisi itu membuat ketiganya terjebak di kawasan perkebunan yang berbatasan dengan permukiman warga.Proses evakuasi berlangsung sekitar delapan jam. Tim menggunakan senapan bius dengan dosis yang disesuaikan berdasarkan kondisi dan perkiraan berat badan masing-masing orang utan.3 Orangutan dievakuasi dari kebun warga akibat karhutla di Ketapang, Kalimantan Barang, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaSetelah berhasil dievakuasi, ketiganya menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapat cairan infus. Setelah dinyatakan dalam kondisi baik, ketiganya dipindahkan ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung untuk dilepasliarkan.Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyatakan kebakaran hutan dan perubahan tutupan lahan menjadi ancaman serius terhadap habitat orang utan."Kasus yang kembali terjadi di wilayah ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran dan perubahan tutupan lahan belum selesai. Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orang utan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia," kata Silverius.Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, mengatakan pihaknya akan memantau pergerakan dan adaptasi ketiga orang utan tersebut setelah pelepasliaran.“Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat alami yang aman untuk mendukung kelangsungan hidup orang utan. Pasca-pelepasliaran, tim kami di lapangan akan terus memantau pergerakan dan proses adaptasi Mama Yuni, Yuni, dan Pura guna memastikan mereka dapat bertahan hidup dengan baik di rumah barunya,” ujar Prawono.Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga meminta semua pihak menjaga kawasan hutan dan wilayah bernilai konservasi tinggi untuk mencegah kebakaran serta melindungi habitat satwa liar.