Karhutla Kalimantan adalah drama berulang akibat kegagalan kita melindungi tanah

Wait 5 sec.

• Karhutla Kalimantan dipicu oleh kerusakan bentang alam yang mengering.• Kerusakan tanah gambut dan drainase kanal memperbesar risiko kebakaran.• Pencegahan karhutla memerlukan restorasi tanah dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali meningkat pada Agustus 2026. Pemberitaan maupun posting media sosial ramai menayangkan kepulan asap yang sudah merangsek ke permukiman warga, bahkan negara tetangga. Situasi ini bisa saja dijelaskan hanya sebagai akibat cuaca: musim kemarau sedang berlangsung dan El Niño menguat hingga ke temperatur yang diprediksi paling panas sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memang memperbesar risiko kebakaran. Tapi, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa dampak El Nino begitu parah, tetapi mengapa sebagian lanskap begitu mudah terbakar?Api tidak muncul di ruang kosong. Kebakaran besar terjadi saat cuaca kering bertemu bentang alam Borneo yang telah kehilangan kemampuan menyimpan air. Dan kehilangan ini nyaris tak terpulihkan sejak puluhan tahun silam.Seberapa banyak titik api di Kalimantan?Analisis kami menggunakan data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS), yaitu sistem pemantauan kebakaran berbasis satelit yang menyediakan informasi aktivitas api secara near real-time.Untuk melihat perkembangan aktivitas kebakaran, kami menggunakan data deteksi api dari dua instrumen satelit dengan resolusi berbeda: MODIS, dengan resolusi sekitar 1 kilometer, dan VIIRS, dengan resolusi 375 meter. Hasil analisis terhadap lima provinsi di Kalimantan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas api menjelang pertengahan Agustus.Pada 18 Agustus 2026, MODIS melalui FIRMS mendeteksi sekitar 5.206 piksel anomali panas di Kalimantan. Dengan resolusi sekitar satu kilometer, luas piksel pengamatan mencapai 520.600 hektare, tetapi angka tersebut bukan luas lahan yang sebenarnya terbakar.Sementara itu, data VIIRS (dengan tangkapan gambar yang lebih presisi dari MODIS) menunjukkan bahwa Kalimantan Barat mencatat akumulasi deteksi tertinggi, yakni 82.728 piksel anomali panas selama 1-18 Agustus 2026. Kalimantan Tengah berada di urutan berikutnya dengan 34.105 piksel, disusul Kalimantan Timur sebanyak 20.686 piksel, Kalimantan Selatan 16.602 piksel, dan Kalimantan Utara 5.157 piksel. Alhasil, dengan resolusi VIIRS sebesar 375 meter per piksel, keseluruhan deteksi citra satelit tersebut secara merepresentasikan area sekitar 2,24 juta hektare.Namun, angka hektare tersebut bukan berarti 2,24 juta hektare lahan terbakar (burn scar). Angka tersebut diperoleh dengan mengalikan jumlah piksel yang terdeteksi dengan luas area dalam satu piksel VIIRS. Deteksi api dalam citra satelit dapat menangkap kebakaran dengan ukuran dan intensitas yang berbeda, mulai dari api kecil yang cukup panas hingga kebakaran yang lebih luas. Baca juga: Mengulang pola di Sumatra dan Kalimantan, Papua Selatan tunjukkan gejala jadi episentrum kebakaran baru Mengapa karhutla terus berulang?Indonesia berkali-kali membayar mahal atas kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran besar 1997–1998, 2015, dan 2019 memperlihatkan pola berulang ketika kekeringan bertemu dengan lanskap yang rentan. Baca juga: Riset: angka kebakaran hutan 2019 jauh lebih besar dibanding data pemerintah Bank Dunia memperkirakan kerugian kebakaran 2015 mencapai US$16,1 miliar (Rp284 triliun), setara sekitar 1,9% produk domestik bruto Indonesia.Empat tahun kemudian, kebakaran kembali terjadi. Analisis Bank Dunia terhadap kebakaran 2019 memperkirakan kerusakan dan kerugian ekonomi sekitar US$5,2 miliar, atau sekitar 0,5% PDB. Pengulangan ini memperlihatkan bahwa karhutla tidak cukup disebut sebagai bencana cuaca. El Niño datang dan pergi, tetapi kerentanan lanskap dapat bertahan selama puluhan tahun.Penelitian terbaru yang terbit di npj Natural Hazards pada 2026 semakin memperkuat argumen tersebut. El Niño meningkatkan risiko kebakaran besar di Kalimantan setara atau melampaui kejadian 1997 dan 2015 sekitar 2,7 kali lipat. Namun kebakaran besar tetap dapat terjadi pada semua fase ENSO (El Nino dan La Nina).Masalahnya ada di tanahPembahasan karhutla sering terpusat pada api, asap, angin, dan hujan. Tanah justru sering muncul belakangan, padahal sebagian persoalan bermula di sana.Tanah berfungsi penting sebagai penyimpan air. Struktur tanah, bahan organik, porositas (ukuran pori-pori), muka air tanah, dan tutupan vegetasi menentukan seberapa lama air bertahan setelah hujan berhenti.Saat fungsi-fungsi tersebut terganggu, bentang alam kita menjadi semakin sensitif terhadap periode tanpa hujan.Apalagi 4,5 juta ha lahan Kalimantan merupakan tanah gambut. Selama muka air tetap tinggi, gambut sebenarnya cukup tahan terhadap api. Namun, pembuatan drainase (biasanya dalam pembukaan gambut untuk perkebunan) di sekitar lahan gambut mengubah keadaan itu. Kanal dan parit menurunkan muka air tanah sehingga mempercepat pengeringan dan oksidasi bahan organik. Penelitian tentang sifat fisik gambut Indonesia menunjukkan penurunan muka air tanah merupakan faktor penting dalam kekeringan gambut dan peningkatan bahaya kebakaran, terutama pada tahun El Niño. Keberadaan kanal drainase bahkan dikaitkan dengan kemungkinan kebakaran sekitar 4,5 kali lebih tinggi.Di tanah mineral, kebakaran juga meninggalkan dampak. Kajian di Journal of Forestry Research menunjukkan kebakaran berintensitas tinggi dapat mengurangi bahan organik, merusak organisme tanah dan stabilitas agregat, dan meningkatkan sifat hidrofobik (menolak air).Alhasil, terbentuklah lingkaran berbahaya: tanah kering memudahkan kebakaran, sementara kebakaran membuat tanah semakin rentan terhadap kerusakan dan kekeringan berikutnya. Baca juga: Agar tak jadi biang emisi, pemulihan lahan gambut tidak bisa setengah-setengah El Niño bukan satu-satunya tersangkaKondisi El Niño—meskipun sangat kuat—belum cukup menjelaskan mengapa kebakaran terus berulang di wilayah yang sama.Cuaca menentukan kapan lanskap mudah terbakar. Namun, pengelolaan tanah dan lahan menentukan seberapa mudah api menyala, meluas, dan bertahan.Walaupun pemerintah berjibaku memadamkan api lewat darat, water bombing (pemadaman lewat udara), patroli, dan modifikasi cuaca, penegakan hukum tetap diperlukan. Ini terutama terhadap para pemegang konsesi yang tak menjalankan kewajibannya melindungi lahan dari kebakaran. Selain itu, strategi jangka panjang harus bergerak lebih jauh ke hulu untuk pencegahan. Negara perlu menghentikan alih fungsi lahan gambut. Pemulihan gambut yang rusak juga krusial: mempertahankan tinggi muka air gambut, menyekat kanal-kanal yang mengeringkan gambut, dan memulihkan vegetasi di atasnya. Kajian di Nature Communications memperkirakan restorasi 2,49 juta hektare gambut terdegradasi dapat menghasilkan penghematan kerugian akibat kebakaran sekitar US$8,4 miliar.Pemerintah pusat dan daerah pun perlu memasukkan pemantauan kelembapan tanah serta muka air gambut ke dalam sistem peringatan dini.Jika Indonesia baru bertindak setelah hotspot muncul, kita akan terus memadamkan api yang membakar hutan dan lahan. Padahal, pencegahan sesungguhnya dimulai jauh sebelum asap terlihat: menjaga tanah tetap mampu menyimpan air dan mempertahankan fungsi ekologisnya. Baca juga: Kehilangan gambut berarti kehilangan aset Indonesia berusia 13 ribu tahun Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.