Wartawan dalam Tawanan

Wait 5 sec.

Nio Joe Lan (Ilustrasi AI)26 April 1942 adalah hari tak terlupakan bagi Nio Joe Lan. Sekitar pukul sembilan, tentara Jepang menggedor rumah pria berkaca mata itu, lalu menangkapnya atas tuduhan anti-Jepang. Padahal saat itu, ia baru saja merayakan kelahiran putranya. Beberapa sanak famili pun masih memenuhi rumahnya.Nio adalah penulis dan guru sejarah Tionghoa yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan surat kabar Sin Po. Nio sebenarnya sudah menduga, pendudukan Jepang bakal menyusahkan orang-orang Tionghoa di Indonesia. Pasalnya, beberapa koleganya telah memperingatkan sejak hari-hari pertama tentara Dai Nippon datang di Indonesia. Ketika itu, Jepang memang mewaspadai orang-orang Tionghoa yang dianggap pro-Tiongkok, sebagai buntut perang kedua negara. Di Indonesia, yang disasar adalah para pemuka masyarakat dan wartawan Tionghoa. Kendati demikian, Nio tidak pernah benar-benar mengantisipasinya. Nio sendiri dipenjara selama tiga tahun lebih selama masa pendudukan Jepang.Tak Bercita-cita Jadi WartawanNio yang lahir di Batavia pada 1904 sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi wartawan. Setelah lulus dari sekolah dasar, ia masuk sekolah menengah kejuruan Koningin Wilhelmina School yang terletak di Vrijmetselaarsweg, Batavia, mengambil jurusan teknik penerbangan. Ia ingin menjadi teknisi pesawat, sebuah profesi yang masih sangat langka pada era itu.Namun, ketika Nio lulus, ayahnya baru meninggal dan ibunya ditipu manajer perusahaan batik yang mereka jalankan. Keluarga Nio jatuh miskin. Nio terpaksa mengubur cita-citanya dan mencari pekerjaan apa saja untuk membantu ibunya dan menyokong biaya pendidikan adik-adiknya. Singkat cerita, Nio diterima bekerja sebagai editor di majalah Penghiboer. Dalam waktu bersamaan, ia juga menyambi bekerja di harian Keng Po, hingga menjadi pemimpin redaksi pada 1928.Setelah dari Keng Po, Nio pindah ke surat kabar Sin Po. Di sana, ia bekerja sebagai redaktur hingga tahun 1942. Karier terakhirnya inilah yang mengantarkan Nio ke penjara. Pemerintah militer Jepang mencurigai Sin Po sebagai surat kabar pro-Tiongkok dan menutupnya pada hari-hari pertama kekuasaan mereka di Indonesia.Ahli kajian Tionghoa, Myra Sidharta, menggambarkan Nio sebagai wartawan cemerlang yang produktif menulis. Myra menghitung, jumlah karya tulis Nio kira-kira mendekati angka 200. Ia tidak hanya menulis untuk surat kabar tempatnya bekerja, tetapi juga untuk media massa lain, termasuk media massa Belanda. “Sebelum tahun 1942, NJL (Nio Joe Lan) telah banyak menulis dalam bahasa Belanda dan Inggris untuk majalah Belanda seperti De Indische Gids dan Koloniale Studien. Dalam majalah-majalah itu, ia menulis tentang kebudayaan Tionghoa, masyarakat Tionghoa di Indonesia dan kebudayaan mereka yang khas,” tulis Myra dalam buku Dari Penjaja Tekstil Sampai Superwoman: Biografi Delapan Penulis Peranakan.Tetap Menulis dalam PenjaraDi dalam bui, Nio menjaga kewarasannya dengan menulis buku harian. Jiwa wartawannya tidak luntur meski kebebasannya dibatasi. Nio dibebaskan setelah berakhirnya Perang Pasifik. Hasilnya, sebuah memoar yang rinci tentang pengalaman hidup di dalam kamp tawanan Jepang. Menurut Nio, pengalaman itu sangat berharga dan perlu diceritakan, supaya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang.“Mereka bukan saja diasingkan dari mereka punya sanak keluarga, hanya juga dari seantero dunia, sebab segala apa yang ada kejadian di dunia luar, tidak boleh dikatahui oleh mereka. Jangan kata mengetahui keadaan luar, lihat orang luar saja tidak boleh!” tulis Nio dalam memoar yang dibukukan dengan judul Dalem Tawanan Jepang. “Ini buku ada menuturkan penghidupan itu, satu penghidupan yang luar biasa yang menjadi buntut dari Perang Tiongkok-Jepang dan Perang Pasifik,” tambah Nio dalam buku yang terbit pertama pada 1946 itu.Nio menceritakan, selama di tawan Jepang, ia berpindah penjara setidaknya sebanyak tiga kali. Pertama di penjara Bukit Duri, Jakarta, kedua di penjara di Serang, kemudian yang ketiga di Cimahi. Di tempat yang terakhir ini, Nio dan para tawanan lain tidak lagi menghuni penjara, tetapi sebuah rumah bersama ribuan tawanan Belanda. Bagi Nio, hari-hari pertama di penjara Bukit Duri adalah yang terberat karena harus meninggalkan anaknya yang masih bayi.“Sendirian di dalam kamar yang dikunci ia punya daun pintu kayu. Sedang di luar burung-burung bernyanyi-nyanyi dan menari-nari dengan penuh kemerdekaan,” tulis Nio menggambarkan keadaannya di penjara. “Pada itu saat, kira-kira 100 rumah tangga telah diceburkan ke dalam lautan air mata,” tambahnya. 100 rumah tangga yang dimaksud Nio di situ adalah keluarga para tawanan yang ditinggal di rumah masing-masing.Selama di dalam penjara ada beberapa berita duka yang menghampiri Nio. Ayah dan putranya yang ia tinggalkan meninggal. Tidak berhenti di situ, ibunya meninggal beberapa bulan sebelum ia dibebaskan.Keteguhan hati Nio untuk tetap menulis di dalam penjara tidak sia-sia. Memoar itu hingga kini menjadi sumber yang berharga bagi para peneliti yang ingin mengetahui perikehidupan orang-orang Tionghoa dalam tawanan Jepang.