Pilu Desa Adat Sade Hangus Terbakar: Penyebab Diselidiki, Restorasi Disiapkan

Wait 5 sec.

Ratusan rumah di Desa Adat Sade, NTB, terbakar pada Sabtu (22/8/2026) malam. Foto: Dok. IstimewaKebakaran besar melanda Kampung Adat Sade di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (22/8) malam. Api dengan cepat menjalar di kawasan permukiman yang sebagian besar bangunannya terbuat dari material mudah terbakar.Tidak hanya rumah warga, sejumlah fasilitas adat, tempat usaha, hingga benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan dan budaya masyarakat Sasak ikut terdampak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda.Pemerintah kini menangani warga terdampak sembari menyiapkan rencana pemulihan kawasan. Polisi juga masih menyelidiki penyebab kebakaran.Api Membesar, Warga Padamkan dengan EmberKobaran api pertama kali terlihat dari salah satu rumah warga sekitar pukul 22.00 WITA. Saat itu, sebagian warga sedang tidur, sementara sebagian lainnya meninggalkan kampung untuk menghadiri acara pernikahan adat di desa sekitar.Semandiarta, Ketua RT Dusun Sade 1, mengatakan warga yang pertama kali melihat api baru menyadari kebakaran setelah selesai melaksanakan salat Isya dan menuju bagian belakang rumah.“Belum diketahui penyebabnya apa, kemungkinan besar dari kabel listrik yang kurang bagus,” kata Semandiarta, Minggu (23/8).Seorang warga lanjut usia disebut lebih dulu mengetahui munculnya api dan berteriak meminta pertolongan. Namun, karena keterbatasan usia, ia tidak mampu berbuat banyak saat kobaran api mulai membesar.Warga kemudian berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ember dan selang digunakan untuk mengambil air dan menyiram bangunan yang terbakar.“Di dalam kampung ini kosong. Setelah api membesar, kami berusaha padamkan api dengan air ember,” ujarnya.Sejumlah wisatawan asing melihat suasana pascakebakaran di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTOMenurut Semandiarta, hanya sekitar lima orang yang berusaha melakukan pemadaman pada awal kejadian. Rumah yang diduga menjadi titik awal kebakaran berada di bagian atas permukiman sehingga api dengan cepat menjalar ke bangunan lain.“Kami hanya berlima yang padamkan api. Kalau mungkin 20 orang, bisa kami tahan apinya agar tidak menjalar,” katanya.Situasi semakin sulit setelah aliran listrik padam dan mesin pompa air tidak dapat digunakan. Warga akhirnya lebih banyak menyelamatkan diri dan membawa barang-barang berharga yang masih bisa diamankan.“Saya bingung mau menghubungi siapa. Teman-teman juga hanya fokus cari air untuk padamkan api. Dan meskipun pemadam kebakaran datang, mungkin tetap tidak bisa terselamatkan karena api cepat sekali menjalar,” katanya.Foto udara memperlihatkan kondisi pascakebakaran yang menghanguskan Dusun Sade, desa adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Stringer/REUTERSRumah, Fasilitas Adat, hingga Kain Tenun Ikut TerbakarKebakaran menghanguskan sejumlah rumah dan bangunan di kawasan Sade. Data mengenai jumlah bangunan yang terdampak masih bervariasi dalam laporan awal, mulai dari puluhan hingga 250 unit rumah.Semandiarta menyebut sekitar 500 warga terdampak. Selain rumah adat, sejumlah fasilitas seperti masjid, berugak adat sekenam, berugak adat sekempat, lumbung, art shop milik warga, dan kamar mandi untuk wisatawan turut terbakar.“Seluruhnya hangus terbakar,” ujarnya.Sejumlah kain tenun hasil kerajinan warga serta peralatan menenun tradisional juga ikut terbakar. Benda-benda tersebut bukan sekadar barang ekonomi, tetapi bagian dari aktivitas budaya masyarakat Sade yang diwariskan secara turun-temurun.Sehari setelah kebakaran, warga masih membersihkan puing-puing dan mengais barang yang mungkin dapat diselamatkan.Kemensos menyalurkan bantuan bagi warga terdampak kebakaran di Kampung Adat Wisata Sade, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Kemensos RIPolisi Selidiki Penyebab KebakaranPolisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui sumber dan penyebab kebakaran. Tim Inafis Polres Lombok Tengah bersama personel Polda NTB memeriksa rumah yang diduga menjadi titik awal munculnya api.Kapolres Lombok Tengah Kombes Pol Hariyanto mengatakan pemeriksaan lanjutan akan dilakukan oleh tim Laboratorium Forensik (Labfor).“Ya, saat ini sedang dilakukan olah TKP untuk mengetahui penyebab kebakaran. Besok baru tim laboratorium forensik akan turun ke lokasi,” ujar Hariyanto, Minggu (23/8).Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pemerintah juga masih menunggu hasil investigasi. Ia menyebut ada kemungkinan kebakaran berkaitan dengan instalasi listrik, tetapi dugaan tersebut belum dapat dipastikan.“Masih dilihat penyebabnya. Masih kita masih cari tahu tentang penyebabnya ini. Masih teman-teman melakukan investigasi,” kata Lalu saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Minggu (23/8).“Belum, belum. Kemungkinan ada yang terkait dengan elektriknya, dengan listrik yang ada, aliran listrik yang ada di situ. Di beberapa bangunan itu,” ujarnya.Warga mengais puing sisa barang-barang mereka yang terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTOSade Bukan Sekadar Kampung WisataKampung Adat Sade dikenal sebagai salah satu permukiman masyarakat Suku Sasak yang masih mempertahankan rumah tradisional, adat istiadat, kesenian, dan berbagai tradisi yang diwariskan antargenerasi.Kawasan tersebut diperkirakan telah dihuni sejak sekitar abad ke-16 dan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Lombok. Masyarakat tetap mempertahankan rumah tradisional berbahan bambu, kayu, serta atap alang-alang atau jerami.Aktivitas menenun juga menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Selain memiliki nilai budaya, kerajinan tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan warga.Kunjungan wisatawan selama bertahun-tahun ikut menggerakkan perekonomian masyarakat melalui penjualan kain tenun dan kerajinan, jasa pemandu, penyewaan pakaian adat, serta berbagai aktivitas wisata lainnya.Semandiarta mengatakan kunjungan wisatawan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sade.“Dulu setiap hari siapa pun dan dari mana pun, wisatawan ke Lombok pasti berkunjung ke Desa Sade,” ujarnya.Kebakaran karena itu tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga mengganggu ruang kehidupan, aktivitas ekonomi, serta sebagian fasilitas yang berkaitan dengan pelestarian budaya masyarakat Sasak.Warga mengais puing sisa barang-barang mereka yang terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTOBantuan Mulai BerdatanganPemerintah mulai menyalurkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. Kementerian Sosial mengirim 320 paket sembako, 180 paket family kit, 184 lembar kasur, 233 lembar tenda gulung, dan dua unit tenda serbaguna."Bantuan telah disalurkan dan saat ini kami melalui Direktorat PSKB menunggu hasil asesmen dari Dinas Sosial setempat untuk usulan perbaikan rumah," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Minggu (23/8).Warga terdampak sementara mengungsi di rumah kerabat dan posko pengungsian. Pemerintah daerah bersama Dinas Sosial, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI-Polri, Tagana, aparat desa, dan relawan menangani kebutuhan mereka.Wakil Ketua DPR Sari Yuliati memberikan bantuan ke desa adat Sade, Lombok Tengah, NTB yang terbakar pada Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaWakil Ketua DPR RI Sari Yuliati juga meninjau lokasi kebakaran dan menyerahkan bantuan uang tunai Rp200 juta serta 100 paket sembako.“Saya sudah berkoordinasi agar revitalisasi pembangunan di Desa Adat Sade dapat segera dilakukan. Ini bukan sekadar musibah bagi satu desa, tetapi duka bagi kita semua,” ujar Sari.Restorasi Sade DisiapkanSetelah penanganan warga, pemerintah mulai menyiapkan pemulihan kawasan. Gubernur NTB mengatakan bangunan yang terbakar akan diupayakan kembali seperti kondisi semula karena Sade memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Sasak."Nggak, justru itu nanti pasti prosesnya akan sangat mahal karena kita harus memastikan bahwa itu dibangun kembali seperti, namanya juga restorasi, kembali seperti semula gitu," kata Lalu.Menurut Lalu, sekitar 70 kepala keluarga yang tinggal di kawasan tersebut menjadi prioritas penanganan sebelum restorasi dilakukan.“Setelah menangani korban, menangani masyarakat yang tinggal di situ yang 70 KK, sekarang kita fokus untuk mempersiapkan restorasinya karena kita ini restorasi benda daerah yang bersejarah begitu,” ujarnya.Pemerintah daerah juga mulai mendata bangunan dan benda-benda budaya yang terdampak."Kami sedang mendata seluruhnya, apa saja dari situs budaya yang hilang akibat kebakaran. Istilahnya tanggap darurat. Yang pertama tentu manusianya atau warga yang terdampak kemudian benda benda budaya yang masih tersisa," kata Kepala Dinas Kebudayaan Lombok Tengah Lalu Idham Halik."Benda benda itu seperti manuskrip kuno, peralatan acara adat, bahan dan alat tenun termasuk rumah adat sebagai situs sejarah warga sasak. Itu yang sedang kita data," tutup Idham.Rafi Ahmad bertemu warga korban kebakaran Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaRafi Ahmad bertemu warga korban kebakaran Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaAriel saat menemani Rafi Ahmad bertemu warga korban kebakaran Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Minggu (23/8/2026). Foto: Dok. IstimewaDukungan juga datang dari sejumlah publik figur. Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Ariel Noah, Gading Marten, dan Desta mendatangi lokasi untuk melihat kondisi warga dan memberikan bantuan.Bagi Ariel, kunjungan tersebut terasa berbeda karena beberapa bulan sebelumnya ia bersama The Dudas sempat membuat konten di Kampung Adat Sade.“Kan kita sudah bikin konten beberapa bulan lalu di sini, pas sekarang ke sini, aduh, kebakaran,” kata Ariel.Nagita Slavina yang baru pertama kali datang ke Sade juga mengaku sedih melihat kondisi kawasan tersebut.“Aku belum pernah ke sini, ini pertama kali. Pasti sedih ya,” ujarnya.Polisi olah TKP lokasi kebakaran Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Foto: Dok. kumparanKebakaran membuat wajah Sade berubah drastis. Rumah-rumah tradisional yang selama ini menjadi ruang hidup warga sekaligus daya tarik wisata budaya kini sebagian tinggal puing.Pemulihan Sade pun tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah yang terbakar. Pemerintah harus memulihkan tempat tinggal warga, mata pencaharian, ruang sosial, sekaligus berbagai unsur budaya yang ikut terdampak.Restorasi yang disiapkan pemerintah nantinya menjadi pekerjaan besar untuk mengembalikan Sade sebagai kawasan adat tanpa menghilangkan karakter dan identitas masyarakat Sasak yang telah bertahan selama ratusan tahun.