Timbul (49), seorang tukang becak kawasan Malioboro, asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, tercatat masuk desil 9. Anaknya terancam putus kuliah, Senin (24/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanTimbul (49), seorang tukang becak di kawasan Malioboro, Yogyakarta, tampak lesu ketika ditemui di rumahnya di Dusun Nglatiyan 1, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Senin (24/8).Dia tengah kebingungan membiayai kuliah putranya, Luki Arya Wijaya, di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di semester pertama ini, besaran uang kuliah yang harus dibayar Rp 15 juta.Saat ini, baru terbayar separuh hasil patungan Timbul dan tabungan Luki. Selama ini, Luki rajin menabung uang sakunya. Sementara itu, Rp 15 juta harus lunas dibayarkan hingga akhir Desember.Luki telah berupaya mendapatkan keringanan biaya, tetapi terkendala akibat status pendataan kesejahteraannya mendadak melonjak dari Desil 1 ke Desil 9. Perubahan data ini dinilai tak sesuai dengan kenyataan ekonomi keluarga Timbul.Status Desil 9 yang menunjukkan keluarga dengan kondisi ekonomi mampu, sehingga membuat Luki tak bisa mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP)."Ceritanya anak saya itu mau kuliah. Itu mau cari apa itu keringanan, cari biaya itu ternyata itu dicek itu di balai desa itu desilnya jadi naik. Begitu jadi ya bingung saya," kata Timbul.Timbul (49), seorang tukang becak kawasan Malioboro, asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, tercatat masuk desil 9. Anaknya terancam putus kuliah, Senin (24/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanBapak dua anak ini mengatakan dirinya tak ingin Luki pupus harapan untuk kuliah. Hari ini, Luki juga tetap berangkat kuliah di jurusan Teknik Mesin yang sudah Luki cita-citakan sejak kecil."Sementara kan kemarin (masuk kuliah jalur) mandiri. Itu awalnya kan bayarnya tuh kalau enggak salah tuh Rp 15 juta, tapi ya baru dibayar berapa dibayar separuh apa Rp 10 juga gitu. Terus itu patungan saya sama anak saya," katanya.Penghasilan Tak MenentuSehari-hari, Timbul bekerja menarik becak di Malioboro. Penghasilannya tak menentu. Kadang dia pulang tanpa uang karena kondisi wisatawan yang tengah sepi."Kalau penghasilannya itu enggak bisa dirata-rata, soalnya kan kita itu kan cuma ada, kadang toh. Ya terkadang ya dapat duit, terkadang enggak dapat duit, itu sudah biasa kalau tukang becak itu," katanya.Selama ini, Timbul juga mendapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Karena itu, dia heran kenapa desilnya bisa tiba-tiba melonjak setinggi ini."Bansos dulu dapat. Tiga bulan orang ambil uang, saya ambil uang. Terakhir tiga bulan lalu," katanya.Tinggal di Rumah Orang TuaTimbul mengatakan rumah yang ditempatinya merupakan rumah milik orang tua yang sudah meninggal. Rumah ini belum turun waris dan masih dimiliki seluruh anak orang tuanya yang berjumlah tujuh orang."Rumah bapak saya. Tapi bapak saya sudah meninggal. Belum dibagi. Yang punya 7 orang," katanya.Bisa dibilang, sampai saat ini Timbul belum mempunyai rumah pribadi."Ini kan (rumah) masih rumah keluarga," tuturnya.Timbul berharap dia bisa masuk desil yang sesuai dengan kondisi ekonominya sehingga anaknya bisa mendapatkan keringanan kuliah dan beasiswa."Harapannya kembali normal desil saya jadi nanti misalnya mau mengajukan beasiswa atau KIP itu ya mudah-mudahan bisa, kan begitu harapan," katanya.Wakil Bupati Turun TanganWakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko lalu berkunjung ke rumah Timbul. Dia berbincang langsung dengan Timbul dan melihat kondisi warganya.Ambar bilang tak ingin ada warganya yang putus sekolah."Kami sebagai kepala daerah, bagian dari kepala daerah, kami memastikan dan kami harus terjun langsung. Apalagi mendengar dengan anak yang tidak bisa sekolah. Program kami di Kabupaten Kulon Progo bagaimanapun namanya pendidikan harus diutamakan," katanya.Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menemui Timbul, tukang becak di Malioboro, asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, tercatat masuk desil 9. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanDi hadapan Timbul, Ambar menelepon langsung Kepala BPS Kulon Progo. Dia akan berkoordinasi untuk membantu Timbul."Kami juga tadi sudah berkoordinasi dengan Kepala BPS untuk ini untuk lebih dipastikan lagi, untuk lebih memastikan lagi. Hari ini juga hadir Pak Lurah. Kami prihatin apabila ada warga kami yang tidak sekolah," katanya."Ya kami melihat secara langsung bahwa kondisi, saya menyampaikan kondisinya, bagaimana ya bisa lihat sendirilah. Dalam artian ya memang Bapak dalam situasi keadaan yang mohon maaf tidak punyalah," katanya.Ambar mengatakan peristiwa yang dialami Timbul harus jadi pelajaran ke depan dalam penentuan desil yang lebih akurat dan detail."Dalam artian lebih detail itu situasi dan kami pengin dalam menentukan hal tersebut selalu koordinasinya ditingkatkan kelurahan, kapanewon atau kecamatan dan pemerintah daerah, dalam artian dari dinas sosial. Itu atau di pemerintah daerah, tolong diorganisasikan jadi sinkron data tersebut," ujarnya.