Seorang wanita dan dua orang anak menyiramkan air ke badan mereka akibat cuaca panas ekstrem yang melanda India. Foto: SANJAY KANOJIA / AFPSebuah studi baru yang dilakukan peneliti dari Vrije Universiteit Brussel menyebut perubahan iklim membuat 560 juta anak di seluruh dunia saat ini terancam paparan panas ekstrem setiap tahun lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kesehatan, mulai dari gangguan kemampuan tubuh mengatur suhu hingga risiko penyakit serius panas ekstrem.Studi yang terbit di jurnal Science Advance menemukan anak-anak saat ini mengalami jauh lebih banyak hari dengan tekanan panas (heat stress) dibandingkan generasi sebelumnya. Beban tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring kenaikan suhu global. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah membuat setidaknya 560 juta anak usia 0 hingga 9 tahun mengalami setidaknya satu bulan tambahan paparan heat stress setiap tahun.“Perubahan iklim saat ini sudah menyebabkan ratusan juta anak di seluruh dunia mengalami panas berbahaya yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka,” kata Rosa Pietroiusti, penulis utama studi tersebut, dikutip Euro News.Menurut Pietroiusti, ancaman tersebut menjadi lebih serius karena banyak anak hidup dalam kondisi yang membuat mereka sulit melindungi diri dari panas. Kemiskinan, kualitas hunian yang buruk, keterbatasan akses terhadap pendingin, serta sistem layanan kesehatan yang terbebani membuat kemampuan anak menghadapi suhu ekstrem semakin terbatas.Anak Lebih Rentan terhadap Panas EkstremKerentanan terhadap heat stress berbeda-beda berdasarkan usia. Namun, bayi baru lahir, anak-anak, dan kelompok lanjut usia termasuk yang paling berisiko mengalami dampak kesehatan akibat panas.Seorang anak mengguyur badannya dengan air dari ember selama gelombang panas di Jacobabad, di Sindh Selatan, Pakistan, Rabu (11/5/2022). Foto: Aamir Qureshi/AFP“Anak-anak sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan akan menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin intens sepanjang hidup mereka,” tulis para peneliti dalam studinya.Paparan panas yang dialami anak-anak bahkan jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia lainnya. Jumlah anak yang menghadapi tambahan paparan panas tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan sekitar 190 juta orang berusia 60–69 tahun yang mengalami ancaman serupa.Panas ekstrem berbahaya bagi tubuh karena dapat mengganggu kemampuan manusia dalam mengatur suhu tubuh. Kondisi ini juga dapat memperburuk penyakit yang sudah ada dan meningkatkan risiko serangan panas (heatstroke), gagal ginjal, hingga kerusakan paru-paru.Risikonya semakin besar pada anak-anak karena tubuh mereka masih berkembang dan kemampuan mengatur suhu tubuh belum sebaik orang dewasa. Anak-anak juga menghasilkan lebih sedikit keringat per kilogram berat badan dan memiliki tingkat metabolisme lebih tinggi. Akibatnya, tubuh mereka dapat memanas lebih cepat ketika menghadapi suhu ekstrem.Para peneliti menyebut ada sejumlah faktor yang membuat anak-anak semakin sering terpapar panas berbahaya. Peningkatan panas lembap akibat perubahan iklim paling besar terjadi di wilayah tropis dan negara-negara dengan tingkat kemiskinan lebih tinggi serta populasi yang relatif muda. Kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan Afrika Barat saat ini menjadi wilayah dengan jumlah anak yang paling banyak menghadapi heat stress berbahaya.Anak-anak yang tinggal di wilayah paling terdampak juga cenderung menghadapi kerentanan sosial dan ekonomi yang lebih tinggi. Dampak panas dapat dirasakan secara langsung melalui tekanan panas pada tubuh maupun secara tidak langsung.Ancaman tidak langsung tersebut antara lain peningkatan penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk, terganggunya pola pemberian makanan kepada anak, hingga meningkatnya risiko komplikasi saat persalinan.Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Shutter StockAncaman yang Semakin Besar di Masa DepanProyeksi suhu global menunjukkan bahwa anak-anak kemungkinan akan tetap menjadi kelompok yang mengalami paparan panas secara tidak proporsional, bahkan ketika populasi dunia semakin menua.Dalam skenario ketika suhu rata-rata global meningkat 1,5 derajat Celsius, diperkirakan sekitar 620 juta anak berusia 0 sampai 9 tahun akan mengalami setidaknya satu bulan tambahan heat stress setiap tahun. Sementara sekitar 390 juta anak diperkirakan akan mengalami total sedikitnya lima bulan heat stress setiap tahun.Situasinya akan semakin parah jika kenaikan suhu global mencapai 2 derajat Celsius. Dalam skenario tersebut, jumlah anak yang mengalami setidaknya satu bulan tambahan heat stress per tahun diperkirakan mencapai 650 juta orang. Adapun sekitar 420 juta anak diproyeksikan akan mengalami sedikitnya lima bulan heat stress setiap tahun.Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu rata-rata Bumi. Bagi anak-anak, semakin panasnya planet juga berarti semakin besar risiko terhadap kesehatan yang harus mereka tanggung sepanjang hidup.