Riset temukan mikroplastik dalam garam yang kita konsumsi

Wait 5 sec.

● Garam menjadi salah satu jalur paparan mikroplastik.● Riset terbaru menemukan mikroplastik pada 45 sampel garam dari Indonesia Barat, Tengah, dan Timur.● Pengurangan kontaminasi mikroplastik perlu dimulai dari filtrasi air laut, pengawasan proses produksi hingga pengemasan.Paparan mikroplastik dalam kehidupan kita semakin mengkhawatirkan. Riset terbaru kami menemukan bahwa sampel garam dapur dari 45 merek di Indonesia, semuanya terbukti mengandung mikroplastik. Tingkat kontaminasi pada setiap merek tentu tidak sama. Namun secara nasional, kami menemukan rata-rata kandungan mikroplastik sebanyak 222 partikel/kg (0,222 partikel/gr) atau setara 1 partikel dalam 1 sendok teh. Dengan asumsi konsumsi 5 gram garam per hari, masyarakat diperkirakan menelan sekitar 1,11 partikel per hari atau 405 partikel mikroplastik per tahun dari garam saja. Kandungan mikroplastik dalam garam kitaDalam penelitian ini, kami menguji sebanyak 45 merek garam yang umum dikonsumsi masyarakat (berdasarkan survei konsumen) dari masing-masing wilayah Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Di laboratorium, garam tersebut kami larutkan dalam air, kemudian partikelnya kami pisahkan dan amati menggunakan mikroskop. Partikel yang diduga sebagai mikroplastik kami verifikasi melalui hot-needle test (mendekatkan ujung jarum panas ke partikel), sementara sebagian partikel kami analisis menggunakan micro-Fourier Transform Infrared Spectroscopy (μFTIR)(teknik analisis kimia yang menggabungkan spektroskopi inframerah (FTIR) dengan mikroskop cahaya) untuk menentukan jenis polimernya.Setiap merek kami analisis sebanyak tiga kali sehingga terdapat 135 unit analisis. Hasilnya, secara keseluruhan, rata-rata kandungan mikroplastik mencapai 222 partikel per kilogram garam. Garam yang berasal dari Indonesia Barat memiliki rata-rata tertinggi, yaitu 292 partikel/kg, diikuti Indonesia Tengah 212,9 partikel/kg, dan Indonesia Timur 160,9 partikel/kg. Mengapa mikroplastik dalam garam Indonesia Barat lebih tinggi?Kami menemukan pola tersebut sejalan dengan tingginya pencemaran mikroplastik yang pernah dilaporkan di sejumlah perairan Indonesia Barat. Sembilan sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, misalnya, diperkirakan membawa lebih dari 66 juta partikel mikroplastik per hari pada musim kemarau.Penelitian lain menemukan kelimpahan mikroplastik di Teluk Jakarta bisa melampaui 70.000 partikel/m³.Namun, data tersebut bukan menunjukkan seluruh perairan Indonesia Barat pasti lebih tercemar daripada wilayah lain.Temuan ini lebih tepat dibaca sebagai petunjuk bahwa kualitas perairan sumber bahan baku bisa memengaruhi mikroplastik yang akhirnya ditemukan dalam garam.Dari 1.498 partikel yang kami ditemukan dalam garam, sebanyak 79,44% berbentuk serat dan 19,29% berupa fragmen. Serat umumnya berasal dari tekstil sintetis atau pakaian yang digunakan sehari-hari, sedangkan fragmen terbentuk dari pecahan plastik berukuran lebih besar. Kami juga menemukan mayoritas partikel (59,41%) berukuran kurang dari seribu mikrometer atau sangat kecil. Ukuran yang relatif kecil membuat partikel ini lebih mudah masuk ke rantai makanan dan berpotensi terakumulasi dalam tubuh organisme, termasuk manusia. Dari semua partikel mikroplastik yang berhasil diidentifikasi dengan μFTIR, ada 155 partikel yang bisa dipastikan jenis polimernya.Tiga yang paling dominan adalah chlorobutyl (21,15%), polyester fiber (19,87%), dan polyisobutylene (19,35%). Polimer ini banyak digunakan dalam industri ban, tekstil, dan otomotif.Riset sebelumnya menunjukkan bahwa polimer-polimer ini memang sudah pernah dilaporkan ditemukan dalam air laut Indonesia, yang menjadi bahan baku pembuatan garam.Dengan asumsi konsumsi garam 5 gram per hari, masyarakat Indonesia diperkirakan menelan rata-rata 1,11 partikel mikroplastik per hari atau sekitar 405 partikel per tahun hanya dari garam (1,11 partikel x 365 hari). Ketika pola konsumsi aktual berdasarkan umur digunakan, estimasinya meningkat menjadi sekitar 548 partikel/tahun pada anak-anak, 569 pada remaja, dan 560 pada orang dewasa. Di Indonesia Barat, estimasi untuk remaja bahkan mencapai sekitar 749 partikel per tahun.Angka tersebut merupakan estimasi paparan, bukan bukti bahwa konsumsi sebanyak itu menyebabkan penyakit. Hingga kini belum tersedia ambang toksikologis yang disepakati untuk mikroplastik dalam makanan. Meski demikian, ukurannya yang kecil patut menjadi perhatian. Mikroplastik bisa menyerap logam seperti timbal (Pb) dan tembaga (Cu). Penelitian eksperimental juga menunjukkan bahwa mikroplastik bisa bertindak sebagai pembawa logam selama berada dalam saluran pencernaan. Semakin kecil partikelnya, semakin besar pula kemampuannya berinteraksi dengan jaringan dan menembus penghalang biologis dalam tubuh. Baca juga: Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir? Menahan mikroplastik sebelum sampai ke meja makanUntuk mencegah mikroplastik masuk dalam piring kita, solusinya tidak bisa hanya dengan membatasi konsumsi garam pada konsumen. Intervensi perlu dilakukan sejak proses produksi.Pertama, filtrasi atau penyaringan bertingkat. Penelitian menunjukkan teknik filtrasi sederhana dapat mengurangi mikroplastik pada proses produksi garam hingga lebih dari 85–90%. Teknologi membran hollow fiber dalam kondisi eksperimental bahkan mampu menghilangkan hampir seluruh mikroplastik dari air laut sebelum digunakan untuk produksi garam. Teknologi ini bekerja dengan menyaring air laut melalui membran berpori sangat kecil, sehingga partikel mikroplastik tertahan dan air yang digunakan sebagai bahan baku garam menjadi jauh lebih bersih atau hampir bebas mikroplastik. Kedua, pengawasan dari proses panen hingga pengemasan garam. Pencucian, pengeringan, pemindahan, dan pengemasan perlu dilakukan dengan sangat hati-hati karena proses pascapanen juga bisa menambah kontaminasi.Ketiga, Indonesia membutuhkan sistem pemantauan mikroplastik yang seragam. Hingga saat ini, WHO belum menetapkan batas aman atau jumlah mikroplastik yang bisa ditoleransi untuk dikonsumsi setiap hari, karena bukti ilmiah mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terbatas dan terus berkembang. Karena itu, langkah awal yang realistis bagi Indonesia adalah menyusun metode analisis yang terstandar, melakukan pemantauan rutin pada pangan (terutama produk berbasis laut), serta membangun basis data nasional sebagai dasar untuk menetapkan standar dan regulasi di masa mendatang. Pada akhirnya, garam hanyalah satu jalur paparan. Temuan ini menunjukkan bagaimana plastik yang kita lepaskan ke lingkungan bisa kembali kepada manusia melalui rantai makanan. Cara mengurangi paparan mikroplastik dalam garam mesti dimulai dengan mengurangi kebocoran plastik ke laut sejak dari sumbernya. Baca juga: Riset: bayi dapat terpapar jutaan partikel mikroplastik lewat botol susu Yulianto Suteja menerima dana riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2025 dengan kontrak No·B/335-27/UN14.4.A/PT.01.03/2025.