Ratusan warga mengikuti Tradisi Mandi Grujug di kompleks Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu, Indramayu, Selasa (25/8/2026) dini hari. Mulai dari balita yang digendong ibunya hingga lansia berkumpul untuk mengikuti tradisi Mandi Grujug dengan menggunakan air dari Sumur Penganten. Foto: Panji/kumparanMulai dari balita yang digendong ibunya hingga lansia berkumpul untuk mengikuti tradisi Mandi Grujug dengan menggunakan air dari Sumur Penganten. Foto: Panji/kumparanWarga datang dengan membawa gayung, ember, hingga jeriken untuk mengambil air sumur. Sebagian warga memilih mandi langsung di lokasi, sementara lainnya membawa air untuk diberikan kepada keluarga di rumah. Foto: Panji/kumparanSumur Penganten diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1470-an, sebelum Masjid Dermayu yang dibangun sekitar 1527 Masehi. Sumur tersebut juga dikenal warga karena airnya tetap jernih dan tidak surut meski musim kemarau. Foto: Panji/kumparanTradisi Mandi Grujug biasanya dilakukan pada malam Maulid Nabi, 1 Suro, 10 Muharram, hingga Jumat Kliwon. Warga mengikuti tradisi ini dengan berbagai harapan, mulai dari kesehatan, kebahagiaan, hingga doa untuk anak-anak mereka. Foto: Panji/kumparanTeja (55), warga Desa Sindang, mengatakan dirinya mengikuti tradisi tersebut untuk berdoa agar keinginannya bisa terkabul. Foto: Panji/kumparanTradisi tersebut hingga kini masih dipertahankan masyarakat sebagai bagian dari budaya dan kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Foto: Panji/kumparanSejumlah warga mengikuti Tradisi Mandi Grujug di kompleks Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu, Indramayu, Selasa (25/8) dini hari.Mulai dari balita yang digendong ibunya hingga lansia, berkumpul untuk mengikuti tradisi Mandi Grujug dengan menggunakan air dari Sumur Penganten.Warga datang sambil membawa gayung, ember, hingga jeriken untuk mengambil air sumur. Sebagian warga memilih mandi langsung di lokasi, sementara lainnya membawa air untuk diberikan kepada keluarga di rumah.Sumur Penganten diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1470-an, sebelum Masjid Dermayu yang dibangun sekitar 1527 Masehi. Sumur tersebut juga dikenal warga karena airnya tetap jernih dan tidak surut meski musim kemarau.Tradisi Mandi Grujug biasanya dilakukan pada malam Maulid Nabi, 1 Suro, 10 Muharram, hingga Jumat Kliwon. Warga mengikuti tradisi ini dengan berbagai harapan, mulai dari kesehatan, kebahagiaan, hingga doa untuk anak-anak mereka.Teja (55), warga Desa Sindang, mengatakan dirinya mengikuti tradisi tersebut untuk berdoa agar keinginannya bisa terkabul.“Niatan saya, untuk kebahagiaan kita dan untuk cita-cita kita, semoga dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa,” ujar Teja kepada kumparan.Teja juga mengaku merasakan air sumur yang biasanya dingin sempat terasa hangat saat digunakan untuk mandi.“Airnya sempat hangat,” katanya.Meski malam semakin larut, warga masih terus berdatangan untuk mengikuti Mandi Grujug.Tradisi tersebut hingga kini masih dipertahankan masyarakat sebagai bagian dari budaya dan kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun.Warga mengikuti Tradisi Mandi "Grujug" (Mengguyur) saat malam Maulid Nabi Muhammad di Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu yang berumur sekitar 500 tahun, Selasa (25/8/2026) dini hari. Foto: Panji/kumparan