PT DSI Dorong Optimalisasi Ekspor Komoditas Strategis hingga USD 5 M per Tahun

Wait 5 sec.

Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara Rosan Roeslani memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah direksi Himbara di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTOPT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI resmi mengumumkan rencana implementasi, susunan pimpinan eksekutif, serta identitas mereknya pada Senin (24/8). Perusahaan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis ini mengemban mandat untuk memperkuat transparansi, tata kelola, dan optimalisasi nilai ekspor komoditas strategis nasional.PT DSI juga telah menjalankan mandatnya secara bertahap dengan fokus pada tiga komoditas utama, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy, sembari tetap menjaga kelancaran arus ekspor dan kepastian berusaha bagi pelaku industri.CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan mandat DSI diarahkan untuk memperkuat visibilitas dalam ekosistem komoditas strategis Indonesia sekaligus membangun pemahaman yang lebih komprehensif atas transaksi ekspor, dinamika pasar, dan cara memaksimalkan nilainya bagi perekonomian nasional.“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi sumber daya saja tidak cukup. Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, visibilitas yang lebih baik, dan sistem yang lebih akuntabel untuk memastikan nilai yang dihasilkan dari komoditas-komoditas ini dicatat dan dioptimalkan dengan baik bagi kepentingan nasional,” ujar Rosan melalui keterangannya, dikutip Selasa (25/8).Dalam kurun waktu sedikit lebih dari dua bulan sejak beroperasi, Rosan mengatakan DSI telah berhasil membangun visibilitas analitis terhadap sekitar 6.500 deklarasi ekspor, yang mencakup nilai lebih dari USD 14 miliar dan volume lebih dari 90 juta ton komoditas. Arus perdagangan itu melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi menuju lebih dari 100 negara tujuan ekspor.Selain itu, DSI mengintegrasikan data ekspor domestik dengan referensi harga pasar global, sehingga dapat menghubungkan informasi harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, hingga pasar tujuan. Pendekatan berbasis data ini memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh atas alur perdagangan dan nilai komoditas strategis Indonesia di sepanjang rantai ekspornya, dengan memanfaatkan sistem pemerintah yang sudah ada.Rosan menjelaskan, pada tahap awal ini, fokus perhatian memang baru tertuju pada tiga komoditas strategis nasional tersebut. Langkah ini dilakukan tanpa mengubah hubungan komersial yang sudah berjalan antara eksportir dan pembeli.“Jadi tidak usaha ragu bahwa kita bisa melakukan ekspornya secara langsung we honor the sanctity of the contract,” ucap Rosan dalam peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor PT DSI di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Senin (24/8).Ia juga menerangkan peran DSI saat ini lebih berfokus pada kegiatan evaluasi, pemantauan, dan pemastian transparansi transaksi. Menurutnya, keterbukaan informasi tersebut merupakan aspek yang paling krusial.“Itu yang paling penting bagi kita, sehingga semuanya ini juga berjalan upstream dan berjalan dengan baik dan benar,” tutur Rosan.Dari hasil analisis awal yang dilakukan bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait, DSI mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai ekspor ketiga komoditas tersebut yang mencapai sekitar USD 5 miliar per tahun. Hal itu mengindikasikan ruang perbaikan tata kelola yang selama ini belum tergarap optimal.Adapun Dewan Komisaris DSI dipimpin oleh Komisaris Utama Cipung Noer, didampingi Tony Wenas, Mari Elka Pangestu, dan Harold Tjiptadjaja sebagai Komisaris, dengan latar belakang pengalaman puluhan tahun di bidang pengembangan industri dan teknologi, operasi pertambangan global, kebijakan ekonomi dan perdagangan internasional, investasi, hingga pasar keuangan.Sementara itu, jajaran Direksi dipimpin oleh Luke Mahony sebagai Direktur Utama, bersama Sinthya Roesly sebagai Direktur Keuangan dan Treasury, Nur Hidayat Udin menjadi Direktur Manajemen Risiko, dan Ivan Ferdiansyah Baely sebagai Direktur Hukum & Kepatuhan.Implementasi mandat DSI dilakukan secara bertahap, dimulai dari integrasi data ekspor nasional dan analitik tingkat transaksi untuk ketiga komoditas strategis. Seiring matangnya kapabilitas tersebut, DSI akan memperluas cakupan pemantauan dan verifikasi melalui pelacakan kapal, validasi negara tujuan, hingga rekonsiliasi devisa hasil ekspor, sembari semakin terintegrasi ke dalam proses ekspor.Pada tahap lanjut, DSI diproyeksikan berperan sebagai perantara tunggal untuk komoditas dalam cakupan mandatnya, dengan tetap menjaga hubungan komersial yang sudah terjalin antara penjual dan pembeli serta memastikan keberlanjutan ekspor.Direktur Utama DSI, Luke Mahony, menegaskan kembali bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas untuk menjalankan mandatnya secara kredibel, terukur, dan berkelanjutan.“Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI. Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor,” ujar Luke melalui keterangannya.