Cerita Aghniny Haque Saat Syuting Pakai Teknologi VP di Bisikan Desa Gringsing

Wait 5 sec.

Aghniny Haque (tengah) saat peluncuran trailer dan poster di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanIndustri perfilman Indonesia kembali mencatat sejarah baru lewat film Bisikan Desa Gringsing. Film karya sutradara Ivander Tedjasukmana ini jadi pionir penggunaan teknologi Virtual Production (VP) di genre horor.Ivander menjelaskan, teknologi VP jadi metode di mana background bukan green screen, melainkan layar raksasa dunia tiga dimensi secara real-time. Teknologi ini memungkinkan pemain melihat langsung lingkungan mereka tanpa perlu berimajinasi dari nol."Pemain bukan melihat green atau blue, mereka benar-benar melihat tampilan background-nya. Kalau kameranya bergerak ke mana pun, itu background ikut menyesuaikan supaya penonton benar-benar tenggelam, nggak sadar bahwa itu VP," kata Ivander ditemui di Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (20/8).Aghniny Haque (tengah) saat peluncuran trailer dan poster di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanIvander dan tim produksi memperhatikan detail sekecil mungkin agar tidak terjadi kebocoran. "Dibuat senatural mungkin. Karena harus digambar satu-satu gitu. Kami syutingnya di Johor ya, langit di Johor sama langit di Subang itu sangat beda. Pohonnya beda, batunya beda, rumahnya beda. Jadi kayak harus benar-benar mendatangkan apa yang ada di Subang kita bawa ke Johor," tuturnya.Meski teknologi ini memudahkan aktor dalam merespons latar belakang ketimbang green screen, ada bahaya yang bisa menjadi bumerang saat aktor tidak waspada.Aghniny menyoroti perbedaan suhu dan kebisingan lokasi asli dan studio. Di dalam studio VP, suasana cenderung sangat hening dan dingin. Sementara cerita film berlatar di Subang yang panas dan bising."Kadang kami suka lupa tuh sama detail-detailnya, gimana rasanya kepanasan. Terus gimana kalau misalkan dua orang yang ada di mobil berbicara itu kan harusnya vokal-vokalnya lebih kencang karena banyak noise di luar sana. Nah kalau di VP tuh silent banget. Itu yang bisa jadi tricky," ucap Aghniny.Selain teknis, Aghniny juga mendalami skenario yang mengangkat isu trauma dan perempuan. Baginya, Bisikan Desa Gringsing memberikan ruang bagi karakter perempuan untuk menjadi penggerak cerita yang membuka tabir misteri."Sebagai aktor aku jadi belajar untuk punya empati lebih lagi bahwa ternyata orang yang punya trauma tuh untuk menyembuhkan traumanya itu susah. Jadi kayak ya aku cukup bersyukur tapi aku juga ikut sedih bisa merasakan pengalaman itu," tutup Aghniny.Film Bisikan Desa Gringsing hasil kolaborasi Mandela Pictures dengan Oceanus Media Global (OMG Studios), sebuah perusahaan teknologi media asal Singapura yang menyediakan fasilitas Virtual Production. Syuting dilakukan di Iskandar Malaysia Studios (IMS), Johor, serta lokasi di Subang, Jawa Barat.Selain Aghniny Haque yang berperan sebagai Hesti, film ini diperkuat oleh aktor seperti Surya Saputra, Hesti Putri, Kiki Narendra, hingga Khiva Iskak. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026.