Prabowo Kejar Target Bebas Impor Minyak dan LPG Lewat PLTS 100 GW

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia menghentikan impor minyak dan LPG dalam tiga tahun untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Pemerintah mendukung target itu dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa.“Kita tidak boleh impor lagi satu barel pun minyak. Kita tidak boleh impor lagi, Insyaallah dalam waktu sesingkat-singkatnya, satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi,” kata Prabowo dalam tayangan resmi Sekretariat Presiden.Prabowo mengatakan pemerintah akan memperkuat produksi energi nasional dengan membangun PLTS 100 GWp, mengembangkan energi panas bumi, mengelola ladang gas, serta meningkatkan lifting minyak.Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS 100 GWp selesai dalam tiga tahun. Kapasitas itu hampir menyamai total kapasitas listrik nasional yang saat ini mencapai sekitar 88 GW dari berbagai sumber energi.“Seluruh listrik Indonesia sekarang 88 gigawatt dari batu bara, minyak, gas, hingga geotermal. Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun,” ujar Prabowo.Prabowo menegaskan pemerintah harus menjalankan pembangunan energi terbarukan bersama peningkatan produksi minyak dan gas dalam negeri. Pemerintah juga akan terus meningkatkan lifting minyak untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.“Dengan 100 gigawatt, dengan geothermal yang kita punya, dengan ladang-ladang gas yang sudah kita temukan, dengan lifting minyak yang harus naik terus, kita tidak boleh impor lagi satu barel pun minyak,” katanya.Prabowo menilai kemandirian energi menjadi fondasi penting bagi kedaulatan Indonesia. Karena itu, ia meminta Kabinet Merah Putih bekerja keras dan berorientasi pada hasil saat mengelola sumber daya nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Prabowo bahkan optimistis pemerintah dapat menyelesaikan pembangunan PLTS 100 GWp dalam waktu kurang dari tiga tahun. (*)