Ahmad Erani Yustika Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparanKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi kongsi Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) sudah mulai beroperasi.Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, mengungkapkan proyek yang biasa disebut Proyek Dragon ini menunggu diresmikan Presiden Prabowo Subianto. Rencana awalnya dilakukan sebelum 17 Agustus."Insyaallah kayaknya sudah (selesai). Tapi tinggal nunggu jadwalnya Pak Presiden. Rencananya, kan, kemarin sebelum tanggal 17. Tapi sampai sekarang masih belum dapat jadwal lagi," ungkapnya kepada awak media, Jumat (21/8).Kendati begitu, Erani memastikan seluruh proses konstruksi pabrik tersebut sudah selesai, bahkan mulai beroperasi secara bertahap."Sudah kayaknya sudah mulai beroperasi juga, kan, walaupun mungkin masih bertahap, ya. Tapi sudah mulai beroperasi," ujar Erani.CATL dan IBC membentuk perusahaan patungan atau join venture (JV) atau Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB). Perusahaan membangun pabrik baterai EV di Karawang, Jawa Barat yang rencananya beroperasi Juli 2026.Fasilitas CATL di Jerman. Foto: Dok. CATLSebelumnya, Erani mengatakan pemerintah masih membahas pengajuan insentif fiskal berupa pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) alias tax holiday proyek tersebut, dan didiskusikan bersama Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Selasa (30/6)."Masalah tax holiday yang diajukan oleh Proyek Dragon. Yang di Karawang itu, (rapat) mengenai itu. Mengenai interpretasi atas keputusan Menteri Keuangan terkait dengan tax holiday kan ada beberapa perubahan," jelasnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (3/7).Erani mengatakan pembahasan masih berlangsung dan dalam proses harmonisasi dengan Kementerian Investasi/BKPM, sebab perlu ada keselarasan sudut pandang antara Kementerian ESDM dengan Kementerian Keuangan."Ini menyangkut penggunaan tahun, itu perlu ada kesepahaman lah antara DJP, dengan BKPM, dengan ESDM, untuk memastikan apakah proyek Dragon tadi itu, CATL, beberapa joint venture-nya itu bisa memperoleh fasilitas tersebut," tuturnya.Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 6,9 gigawatt hour (GWh) pada tahap pertama, yang terdiri dari baterai nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Tahap kedua akan dibangun 8,1 GWh. Di tahap kedua inilah rencana ekspor dilakukan, tapi opsional karena harus mencari pembelinya (offtaker). Total investasi proyek ini USD 1,1 miliar.Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif mengatakan, IBC membidik pasar ekspor untuk baterai NMC ke Eropa, terutama Jerman. Langkah itu dilakukan karena permintaan baterai berbasis nikel dinilai masih lebih banyak berasal dari kawasan tersebut.Selain untuk kendaraan listrik, baterai LFP produksi IBC juga akan digunakan untuk battery energy storage system (BESS), termasuk penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). IBC juga telah mengantongi calon pembeli untuk baterai LFP tersebut. Salah satu pasar ekspor yang disasar ialah Jepang.“Insyaallah Juli ini COD (Commercial Operation Date). Kemungkinan akhir bulan,” kata Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif dalam bincang Mind Club di Jakarta, Senin (18/5).