Singapura Tambah Cuti Pengasuhan, Makin Banyak Anak Makin Banyak Cuti

Wait 5 sec.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong tersenyum saat konferensi pers bersama Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFPPemerintah Singapura akan menambah jatah cuti pengasuhan bagi orang tua yang bekerja. Menariknya, jumlah cuti akan disesuaikan dengan jumlah anak yang dimiliki. Ya Moms, artinya semakin banyak anak, semakin banyak pula waktu cuti yang bisa digunakan untuk mengurus keluarga.Kebijakan ini diumumkan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong dalam pidato National Day Rally 2026 pada 23 Agustus 2026. Nantinya, cuti pengasuhan berlaku bagi orang tua dengan anak warga negara Singapura yang berusia 12 tahun ke bawah.Cuti Pengasuhan Anak di Singapura DitambahJadi pendengar yang baik saat anak bercerita tentang khayalannya Foto: ShutterstockSebelumnya, orang tua yang memiliki anak berusia 6 tahun ke bawah mendapat 6 hari cuti pengasuhan atau childcare leave per tahun. Sementara orang tua dengan anak berusia 7-12 tahun mendapat 2 hari extended childcare leave per tahun.Namun kini kedua jenis cuti tersebut akan digabung menjadi satu skema childcare leave. Jumlah harinya pun ditentukan berdasarkan jumlah anak.Berikut rinciannya:1 anak: 8 hari cuti per tahun2 anak: 10 hari cuti per tahun3 anak atau lebih: 12 hari cuti per tahunJatah tersebut diberikan kepada masing-masing orang tua yang memenuhi syarat.“Orang tua dengan lebih banyak anak memiliki tanggung jawab pengasuhan yang lebih besar. Anak yang sudah lebih besar pun tetap membutuhkan kehadiran orang tua, meski kebutuhan mereka berbeda,” kata Pm Singapura, Lawrence Wong, dikutip saat pidato National Rally Day 2026.Pentingnya Quality Time Orang Tua dan AnakIlustrasi anak memeluk ibu dan ayah. Foto: Tom Wang/ShutterstockMenurut Psikolog, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, penambahan cuti pengasuhan ini juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk memiliki lebih banyak waktu bersama anak.“Waktu berkualitas dapat membantu membangun rasa aman pada anak, sekaligus membuat orang tua lebih mengenali dan memahami emosi mereka,” ujar Madeline pada kumparanMOM, Senin (24/8).Namun quality time tidak harus dilakukan 24 jam dalam sehari.“Bagi orang tua yang bekerja, rasa bersalah bisa muncul karena merasa belum punya cukup waktu bersama anak. Padahal, yang penting bukan hanya quantity of time, tetapi kualitas hubungan yang terbangun selama waktu tersebut,” tambahnya.Quality time bisa dilakukan lewat kegiatan sederhana. Misalnya, mengobrol sebelum tidur tanpa gadget, mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi, atau membaca buku bersama.Dengan begitu, waktu bersama anak bukan hanya soal berapa lama orang tua berada di rumah, tetapi bagaimana hubungan dan interaksi yang terbangun selama waktu tersebut.“Hal yg paling dibutuhkan anak adalah pengalaman berulang bahwa ketika bersama orang tuanya, mereka merasa dilihat, didengarkan, diterima, dan dicintai. Mungkin kita tidak selalu bisa memberikan anak lebih banyak waktu. Namun, kita masih bisa berusaha memberikan lebih banyak koneksi dalam waktu yang kita miliki,” tutupnya.