Shimona KealySekitar 4.200 tahun yang lalu, gelombang migrasi manusia dimulai dari kawasan yang kini dikenal sebagai Taiwan menuju ribuan pulau di selatan. Perjalanan ini membentang jauh hingga Madagaskar di sebelah barat Samudra Hindia, serta Rapa Nui (Pulau Paskah) di ujung timur Samudra Pasifik.Jejak migrasi besar-besaran ini bisa dilacak dari penyebaran bahasa, yang mencatatkan rekor sebagai sebaran bahasa berskala terbesar pada masa prasejarah.Namun, apa sebenarnya yang mendorong orang-orang pada masa itu nekat menempuh pelayaran jarak jauh yang penuh bahaya? Penemuan kami berupa lukisan sinar matahari berusia 4 riby tahun di bagian tenggara Indonesia mulai memberikan titik terang. Lukisan sinar matahari ini mungkin menjelaskan alasan masyarakat purba di Taiwan berlayar ribuan kilometer menembus lautan lepas. Shimona Kealy Identitas kultural yang karismatikAustronesia merupakan rumpun bahasa kekerabatan erat yang dituturkan di sebagian besar wilayah Malaysia, Filipina, Indonesia, Madagaskar, hingga Kepulauan Pasifik. Beberapa bahasa utama dalam rumpun ini mencakup bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Tagalog, Cebuano, dan Malagasi.Kita tahu bahwa migrasi Austronesia dimulai setidaknya sekitar 4.200 tahun lalu. Penanggalan ini didasarkan pada titik awal munculnya gerabah merah khas Austronesia dan beliung batu persegi (perkakas mirip kapak) di kepulauan sebelah selatan Taiwan.Kemampuan navigasi pelayaran masyarakat Austronesia yang luar biasa kala itu ditopang oleh penggunaan perahu cadik. Meski demikian, masih belum jelas faktor-faktor lain apa saja yang mendorong ekspansi besar-besaran mereka.Model-model penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa kemajuan dalam pertanian serta penyimpanan beras (berkat keahlian pemuatan gerabah) menjadi pemantik lonjakan populasi.Kondisi ini kemudian mendorong masyarakat Austronesia untuk bermigrasi ke pulau-pulau tetangga demi mencari lahan pertanian baru. Meski demikian, beras dan gerabah bukanlah elemen yang berlaku universal di seluruh masyarakat Austronesia.Teori alternatif menyebutkan adanya identitas budaya yang kuat dan karismatik yang terjalin di antara masyarakat Austronesia—sejenis daya tarik kultural yang mampu memikat pihak luar sekaligus memicu keberanian untuk melakoni pelayaran nekat ke pulau-pulau terpencil yang belum berpenghuni.Penemuan dari Pulau Wetar, MalukuMenemukan bukti arkeologis atas keberadaan identitas budaya masa lalu memang bukan perkara mudah, tetapi seni cadas dapat menjadi salah satu jalannya.Dalam buku terbitan 1992 berjudul State of the Art, antropolog asal Australia, Chris Ballard, mengamati adanya corak lukisan cadas berwarna merah yang ditemukan di wilayah-wilayah penutur Austronesia saat ini—seperti Indonesia bagian timur, Timor, dan pesisir Papua—tapi tidak ditemukan di wilayah sekitarnya yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.Ballard menamai corak lukisan ini sebagai tradisi lukisan Austronesia (Austronesian Painting Tradition/APT). Corak ini ditandai dengan motif figur manusia berukuran kecil—yang kerap memegang senjata atau berada di atas perahu—serta motif pendaran sinar matahari geometris berupa lingkaran-lingkaran konsentris dengan garis jari-jari yang memancar.Usia tradisi lukisan ini telah lama menjadi misteri akibat rumitnya menentukan penanggalan karya seni yang dilukis di dinding cadas.Pada 2023, kami menjalankan penyelidikan arkeologi pertama di Pulau Wetar, Indonesia bagian tenggara, bersama rekan-rekan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam survei ini, kami mengidentifikasi sebuah ceruk cadas besar bernama Huknaur, yang dinding-dindingnya dihiasi lukisan bergaya APT.Kami melakukan penggalian di situs tersebut pada 2024 dan beruntung menemukan sebuah prasasti batu yang berlukiskan motif pendaran sinar matahari khas APT, pada lapisan tanah yang berusia 4 ribu tahun berdasarkan penanggalan radiokarbon. Lukisan pada lempengan batu (skala 5 cm). Gambar warna semu menunjukkan berbagai tingkat kecerahan warna yang dulunya digunakan untuk melukis lingkaran konsentris dan jari-jari pendaran. Shimona Kealy Simbol ini serupa dengan corak-corak yang terdokumentasi di dinding tebing di seluruh kawasan APT, seperti di Filipina, Timor Leste, dan Indonesia bagian tenggara.Catatan sejarah menunjukkan bahwa simbol-simbol pendaran matahari ini juga disematkan pada haluan perahu di wilayah tersebut, baik sebagai pelindung para pelaut maupun penanda identitas klan.Ikonografi ini kemungkinan merupakan bagian dari kebudayaan simbolis bersama yang lebih luas. Hal itu membantu menjaga identitas Austronesia sekaligus merawat keterhubungan antarkomunitas yang terpisah lautan sejauh ribuan kilometer. Kumpulan motif lingkaran konsentris dalam tradisi lukisan APT. Baris 1: Wilayah Peñablanca (Filipina), Ile Kere Kere (Timor-Leste), Ile Kere Kere (Timor-Leste), Intutun 6 (Kisar). Baris 2: Inuntun 4 (Kisar), Inuntun 4 (Kisar), Jawalang 4 (Kisar). Baris 3: Jawalang 4 (Kisar), Jawalang 4 (Kisar), Jawalang 4 (Kisar), Raitawuni 2 (Wetang). Baris 4: Huknaur 2 (Wetar), Huknaur 1 (Wetar), Huknaur 1 (Wetar), Huknaur 1 (Wetar).. Shimona Kealy Penelusuran kami juga menemukan bahwa gerabah Austronesia paling awal di situs Huknaur berasal dari sekitar 3.500 tahun lalu—kurang lebih 500 tahun setelah prasasti pendaran matahari tersebut dilukis. Temuan ini mengindikasikan bahwa para pionir Austronesia kemungkinan telah tiba membawa identitas budaya mereka yang kuat, yang diwakili oleh lukisan-lukisan tersebut, sebelum gelombang kedatangan Austronesia berikutnya membawa keahlian pembuatan gerabah.Sebelum kedatangan bangsa AustronesiaSitus Huknaur sejatinya tidak kosong sebelum kedatangan bangsa Austronesia. Sejak 9.500 tahun lalu, situs ini telah menjadi pusat jaringan perdagangan obsidians (material paling tajam untuk membuat perkakas batu) yang didistribusikan dari Pulau Wetar ke setidaknya empat pulau lain di kawasan tersebut.Sebelum masa dilukiskannya prasasti pendaran matahari, para penghuni situs menghiasi diri mereka dengan manik-manik yang terbuat dari cangkang utuh siput Oliva dan cakram kecil cangkang Nautilus yang berkilau. Perhiasan ini kemudian digantikan oleh kubah dan cakram cangkang kerucut Conus pada era yang bertepatan dengan pembuatan prasasti tersebut.Manik-manik Conus serupa juga ditemukan di berbagai situs awal Austronesia lainnya. Dengan demikian, temuan dari Huknaur ini menjadi bukti atas kedatangan bangsa Austronesia, beserta sistem kepercayaan yang mereka bawa. Ragam manik-manik dari Huknaur (skala 1 cm): ujung Conus terkikis air (A), cakram Conus giling (B), cakram Nautilus (C), cangkang Oliva (D), dan manik kaca dari periode hunian paling muda di situs tersebut (E). Ceri Shipton Bangsa pelaut yang ambisiusJika prasasti pendaran matahari dari Huknaur memang menandai kedatangan para pionir Austronesia—sebagaimana yang kami duga—usia yang mencapai 4.000 tahun menjadikannya salah satu lokasi paling awal di luar Taiwan yang mendokumentasikan migrasi bangsa Austronesia.Temuan kami mengindikasikan bahwa para penjelajah Austronesia mungkin melompati pulau-pulau terdekat demi langsung menuju pusat-pusat pengaruh, ketimbang sekadar bergerak secara bertahap dari satu pulau ke pulau tetangganya.Kita tahu bahwa para penakluk Spanyol menempuh jarak sekitar 3.500 km dari Hispaniola menuju Cuzco, ibu kota Suku Inka, hanya dalam kurun waktu 40 tahun. Jarak ini kurang lebih sama dengan pelayaran dari Taiwan ke Pulau Wetar, dan mereka melakukannya tanpa harus menduduki setiap wilayah yang dilalui.Prasasti bergambar tradisi lukisan Austronesia (APT) di situs Huknaur mendorong kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar faktor teknologi dan ekonomi sebagai pendorong ekspansi manusia prasejarah. Ideologi dan ambisi—meskipun buktinya lebih sulit ditemukan—merupakan dorongan yang ternyata, tak kalah pentingnya.Ceri Shipton menerima dana dari Australian Research Council.Shimona Kealy menerima dana dari Australian Research Council Centre of Excellence for Australian Biodiversity and Heritage (CE170100015) dan ARC Discovery Project (DP240100747).Sue O'Connor menerima dana ARC Discovery Project dari Australian Research Council (DP240100747).