PLTS 1 GW Bali Berbaterai, Tekan Konsumsi Solar Sampai 0,6 Juta Kiloliter

Wait 5 sec.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia berpidato saat peluncuran Program PLTS 100 GWp di Kab. Jembrana, Selasa (25/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat PresidenPemerintah akan mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 gigawatt (GW) di Bali yang dilengkapi dengan baterai penyimpanan energi. Proyek tersebut menjadi bagian dari percepatan program PLTS 100 GW yang tengah disiapkan pemerintah.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam laporannya menyampaikan, khusus untuk Bali, kapasitas PLTS yang akan dibangun mencapai 1.000 megawatt atau 1 GW, dengan tambahan sistem penyimpanan baterai.Pembangunan PLTS tersebut dinilai penting karena sistem kelistrikan Bali saat ini masih menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Dengan masuknya pembangkit energi surya, pemerintah menargetkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, dapat ditekan secara signifikan.“Dan untuk di Bali adalah 1000 megawatt tambah plus baterai,” kata Bahlil dalam groundbreaking, Selasa (25/8).Pemerintah memperkirakan pemanfaatan PLTS 1 GW di Bali dapat melakukan efisiensi penggunaan solar hingga 0,6 juta kiloliter. Pengurangan konsumsi solar tersebut sekaligus diharapkan mengurangi kebutuhan impor BBM dan memperbesar pemanfaatan sumber energi nasional.“Khusus dengan memakai 1000 MW itu mampu melakukan efisiensi 0,6 juta kiloliter solar yang dilakukan oleh PLN. Selama ini ternyata Bali ini masih pakai PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel,” ungkapnya.Penggunaan baterai menjadi bagian penting dalam proyek tersebut. Baterai diperlukan untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan PLTS, sehingga pemanfaatan listrik tenaga surya tidak hanya bergantung pada waktu matahari bersinar.Besaran investasi untuk baterai nantinya akan mengikuti kapasitas dan durasi penyimpanan yang dibutuhkan. Pemerintah menyebut biaya baterai akan berbeda tergantung pada lama pemakaian, mulai dari kebutuhan penyimpanan beberapa jam hingga durasi yang lebih panjang.“Namun itu belum termasuk baterai. Nah baterainya itu ditambah lagi. Baterainya tergantung mau berapa jam, mau 24 jam itu harganya akan mengikuti tentang lama daripada pemakaian baterai itu,” tutur dia.Program PLTS Bali ini menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk mempercepat implementasi program PLTS 100 GW secara nasional. Program tersebut disebut sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan swasembada dan kedaulatan energi nasional dengan memanfaatkan sumber daya energi yang tersedia di dalam negeri.Pemerintah menilai energi surya memiliki potensi besar karena Indonesia memperoleh paparan sinar matahari sepanjang tahun. Pengembangan PLTS juga diarahkan agar memberikan manfaat ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.Dalam laporan tersebut, pemerintah menyebut total investasi untuk program PLTS 100 GW mencapai sekitar USD 73 miliar. Program itu juga diproyeksikan menghasilkan efisiensi subsidi energi hingga Rp 73,9 triliun per tahun serta menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja.Untuk tahap awal yang dilaksanakan, pemerintah menyebut terdapat proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GW, sementara Bali mendapatkan porsi 1 GW ditambah baterai.Pengembangan energi surya juga dikaitkan dengan upaya menekan emisi karbon. Jika keseluruhan program 100 GW dapat diimplementasikan, pemerintah memperkirakan penurunan emisi mencapai sekitar 140 juta ton CO2 per tahun, dengan nilai ekonomi karbon sekitar Rp6,31 triliun.Selain Bali, pemerintah juga menyiapkan pemanfaatan PLTS untuk wilayah yang selama ini belum memperoleh akses listrik. Program tersebut akan dikaitkan dengan target pembangunan PLTS 1 MW per desa, sekaligus memperluas elektrifikasi di daerah-daerah yang belum teraliri listrik.Pemerintah mencontohkan implementasi PLTS di salah satu kabupaten di Sumatera yang sebelumnya belum mendapatkan pasokan listrik. Setelah pembangunan PLTS dilakukan, masyarakat setempat mulai memperoleh akses listrik dan kegiatan ekonomi seperti perikanan dapat berjalan.Pengembangan PLTS juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pembangkit diesel di berbagai daerah. Pemerintah mencatat masih terdapat sekitar 12,6 GW kapasitas pembangkit listrik di Indonesia yang menggunakan solar.Konversi pembangkit diesel menuju energi terbarukan diharapkan dapat menekan kebutuhan solar sekaligus mengurangi beban subsidi dan impor BBM. Pemerintah menyebut konsumsi minyak dari pembangkit diesel tersebut setara dengan sekitar 230.000 hingga 250.000 barel per hari.Untuk pelaksanaan proyek, pemerintah akan terlebih dahulu mendorong skema Independent Power Producer (IPP). Proyek akan diberikan kepada IPP apabila harga yang ditawarkan kompetitif. Namun, jika tidak terdapat penawaran yang kompetitif, pemerintah membuka opsi mengambil alih pengerjaan proyek melalui pemerintah dengan skema pembiayaan yang disesuaikan dengan arahan Presiden.Pemerintah menegaskan pembangunan PLTS nasional, termasuk proyek 1 GW di Bali, merupakan hasil kerja lintas kementerian dan lembaga. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak, termasuk PLN, kementerian terkait, TNI, dan Polri.