Wuling Aira ev versi setir kanan yang diproduksi di fasilitas PT SGMW Motor Indonesia. Foto: Sena Pratama/kumparanPopulasi kendaraan listrik di Indonesia saat ini jumlahnya mendekati 500 ribu unit alias hampir setengah juta unit. Ini disampaikan Deputi Bidang Infrastruktur Energi dan Telekomunikasi, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur Republik Indonesia, Ridha Yasser."Per Juni 2026, populasi kendaraan listrik nasional kita telah mencapai 490.000 (493.307) unit, hampir dua kali lipat dari angka tahun-tahun sebelumnya," buka Ridha saat pembukaan International Battery Summit (IBS) 2026 di Kemayoran, Jakarta (26/8/2026).Selain populasi, Ridha memaparkan peta kekuatan produksi kendaraan listrik berbasis baterai di dalam negeri paling banyak dari roda dua dengan jumlah 2,5 juta unit per tahun. Kemudian roda empat sebanyak 410 ribu unit, dan bus sebanyak 7.500 unit per tahun."Di balik kapasitas tersebut, investasi sebesar Rp 30,5 triliun telah masuk ke dalam ekosistem kendaraan listrik kita. Ini adalah bukti bahwa pasar domestik yang selama ini kita bahas bukanlah hal baru dan pasar sudah mulai bergerak," imbuhnya.Motor listrik Polytron 350 digunakan sebagai armada operasional PLN UID Jawa Timur. Foto: PolytronNamun dirinya menyoroti agar Indonesia tidak terpaku pada jumlah penjualan dan kapasitas produksi semata. Pihaknya menekankan pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik murni harus sejalan agar target net zero emission 2060 tercapai."Saat ini, Indonesia sangat kuat di sektor hulu. Namun, kita masih tertinggal pada bagian tengah dan hilir rantai pasok tersebut. Inilah pekerjaan rumah yang tidak boleh kita lupakan," kata Ridha.Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang terekam sejak 2020, populasi kendaraan listrik roda empat atau lebih secara wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) hingga Juli 2026 jumlahnya mencapai 259.067 unit.Kemudian menurut data Kementerian Perekonomian, populasi motor listrik nasional sampai Desember 2025 jumlahnya mencapai 229.554 unit. Sementara permintaan motor listrik pada 2028 diprediksi mencapai 1,5 juta unit.Dorong penggunaan baterai berbasis nikelWuling Motors rayakan pencapaian produksi 3 juta unit mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) dan MAGIC Battery secara global. Foto: Wuling MotorsSatu sisi, Ridha menyampaikan ambisi pemerintah Indonesia dalam perkembangan industri kendaraan listrik yang tidak saja di domestik, tetapi juga dikancah global. Salah satunya adalah pemanfaatan lebih jauh bahan baku nikel."Memiliki sumber daya alam memang memberikan Indonesia tiket masuk ke dalam industri baterai global, tetapi itu tidak serta merta menjamin kita mendapatkan baris terdepan. Hal yang akan menentukan posisi Indonesia adalah sejauh mana kita mampu menciptakan nilai tambah bagi sumber daya tersebut di dalam negeri," jelasnya.Dikatakannya ada lima tahap proses olah bahan baku nikel untuk menjadi salah satu material penting dalam baterai kendaraan listrik. Negara membidik tidak hanya mengekspor bahan baku ke luar negeri, tetapi juga produk jadinya.Baterai nikel Toyota Kijang Innova Zenix di pameran Trade Expo Indonesia 2025. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan"Dahulu kita mengekspor bijih mentah, saat bijih tersebut meninggalkan pelabuhan kita, sebagian besar nilai tambah, teknologi, dan peluang kerja turut terbawa pergi bersama kapal-kapal pengangkutnya. Kini, kita berupaya mengubah paradigma tersebut," paparnya."Kita ingin beralih dari ekspor bijih mentah ke produk olahan, kemudian ke bahan prekursor dan material utama, sel baterai, hingga akhirnya menjadi paket baterai itu sendiri. Semakin panjang rantai nilainya, semakin banyak yang dapat kita bangun di Indonesia, dan semakin besar pula nilai yang memberikan manfaat bagi Indonesia," pungkas Ridha.