Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, meninjau arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. PBNUKetua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berziarah ke makam Ndalem Kasepuhan KH A. Wahab Chasbullah di Tambakberas, Jombang, Rabu (26/8).Ziarah dilakukan menjelang Muktamar Ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Gus Yahya meminta restu kepada salah satu pendiri NU tersebut agar pelaksanaan muktamar berjalan lancar.Gus Yahya menceritakan pengalamannya saat berziarah ke makam Mbah Wahab."Saya kira Mbah Wahab yang menjadi wasilah Muktamar Tambakberas ini. Saya selalu matur (bilang) ke Mbah Wahab, Mbah Wahab sudah pasrah ke Kiai Rozaq: 'Wis awakmu turu ae, wis ono Kiai Rozaq (kamu tidur saja, sudah ada Kiai Rozaq)'," kata Gus Yahya lewat keterangannya, Rabu (26/8).Ia juga mengenang suasana makam Mbah Wahab yang kerap dipadati peziarah dari berbagai daerah."Pernah ada orang Pati tiba-tiba berbisik, titip Gus Rozin untuk jalan tengah kalau rusuh. Lah, ditunggoni Mbah Wahab kok rusuh," ujar dia.Gus Yahya kemudian mengenang percakapannya dengan Anggota DPR RI 1999–2004, KH Amanullah, terkait dinamika warga lokal."Orang Jombang yang di Jakarta saja ruwet, apalagi yang di Jombang," tawa Gus Yahya menirukan almarhum Kiai Amanullah.Peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) antre melakukan registrasi di Madrasah Aliyah Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Foto: Syaiful Arif/ANTARA FOTOGus Yahya Minta Layar Besar di Ruang SidangSetelah berziarah, Gus Yahya meninjau kesiapan arena Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.Dalam peninjauan tersebut, Gus Yahya memberikan sejumlah arahan teknis untuk menjaga kelancaran dan kekhidmatan persidangan.Ia meminta setiap venue persidangan dilengkapi layar besar untuk memantau jalannya persidangan."Saya kira di setiap venue persidangan perlu ada layar besar yang bisa meninjau keberlangsungan persidangan, agar kelihatan baris mana yang ricuh, kelompok mana yang rusuh," ujar dia.Peserta Muktamar berada di area drop zone lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Foto: Syaiful Arif/ANTARA FOTOGus Yahya juga menekankan disiplin penggunaan pengeras suara selama persidangan. Menurutnya, mikrofon hanya boleh digunakan setelah peserta mendapat izin dari pimpinan sidang."Disiplin mic itu penting. Jangan biarkan orang pegang mic kecuali dipersilakan oleh pimpinan sidang," kata dia.Di sela peninjauan, Gus Yahya mengapresiasi revitalisasi sejumlah bagian di area Muktamar."Saya kira ini menara ini dipugar, jadi menara asli justru yang menyesuaikan desain logo Muktamar," ujarnya.Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, meninjau arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. PBNU