Dinkes Kaltim Integrasikan Pemantauan Udara dan Laporan ISPA untuk Antisipasi Dampak Karhutla

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) memperkuat sistem kewaspadaan kesehatan dengan menggabungkan pemantauan kualitas udara dan pelaporan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara real-time. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak kesehatan akibat kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan pemantauan kondisi udara, perkembangan titik panas, serta tren kasus ISPA kini dilakukan melalui sistem yang saling terhubung, yakni Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operations Center (PHEOC)."Kami mengintegrasikan pemantauan kualitas udara, titik panas, dan laporan kasus ISPA agar potensi dampak kesehatan akibat karhutla dapat terdeteksi lebih cepat dan ditangani secara tepat," ujar Jaya, pada Senin (24/8/2026).Menurutnya, integrasi tersebut memungkinkan setiap kejadian yang berpotensi menimbulkan krisis kesehatan dapat terdeteksi dan dilaporkan lebih cepat sehingga penanganan bisa segera dilakukan.Mekanisme pelaporan tersebut didukung oleh Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK) yang terkoneksi langsung dengan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Dengan sistem ini, laporan terkait kejadian bencana dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dapat diterima dalam waktu kurang dari 24 jam."Kecepatan pelaporan menjadi faktor penting dalam penanganan krisis kesehatan. Karena itu, setiap kejadian yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat harus segera masuk ke sistem dan ditindaklanjuti," katanya.Upaya penguatan sistem pemantauan ini dinilai penting mengingat kasus ISPA di Kalimantan Timur masih tergolong tinggi sepanjang 2026. Berdasarkan data Dinkes Kaltim, jumlah kasus ISPA selama Januari hingga Juli berada pada kisaran puluhan ribu kasus setiap bulan.Kasus tertinggi tercatat pada Januari dengan 35.137 kasus, disusul April sebanyak 34.902 kasus. Setelah menurun pada Mei menjadi 28.574 kasus, jumlah penderita kembali meningkat hingga mencapai 33.794 kasus pada Juli 2026.Sementara itu, hingga 22 Agustus 2026, Dinkes Kaltim mencatat tambahan 1.768 kasus ISPA baru yang tersebar di berbagai daerah.Dari sisi kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok dewasa dengan rata-rata sekitar 14 ribu kasus setiap bulan. Selain itu, balita juga termasuk kelompok yang rentan terdampak, dengan jumlah kasus berkisar antara 7.000 hingga 8.900 kejadian per bulan.Melihat tingginya angka kasus pada kelompok usia tersebut, Dinkes Kaltim terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat kualitas udara menurun akibat asap karhutla."Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, membatasi aktivitas di lingkungan yang kualitas udaranya menurun, serta menggunakan masker guna mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan," tutur Jaya.Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan seperti balita, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta harus menjadi perhatian bersama selama musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran lahan.Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang berkepanjangan agar mendapatkan penanganan sedini mungkin. (*)