Kalau mendengar kata “trauma”, mungkin yang spontan terlintas di benak kamu adalah pengalaman buruk di masa lalu. Sesuatu yang sudah lama berlalu, tetapi bisa terasa dekat lagi ketika sebuah tempat, suara, atau kejadian kecil mengingatkan kita padanya. Sekilas ingatan saja kadang cukup membuat dada berdebar dan pikiran berputar.Pengalaman traumatis dapat meninggalkan jejak dalam memori, emosi, hingga cara tubuh bereaksi. Karena itu, memahami trauma juga berarti memahami bagaimana pengalaman masa lalu masih bisa ikut memengaruhi kehidupan kita hari ini.Nah, Grameds, kalau ingin mengenal proses tersebut lebih jauh, kamu perlu kenalan dengan yang namanya Trauma Processing Therapy atau TPT. Pendekatan yang diperkenalkan oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ ini berfokus pada proses mengolah memori traumatik beserta emosi yang menyertainya. Yuk, kita kenalan lebih dekat dengan TPT! 🚀Istilah Apakah Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?Secara sederhana, TPT merupakan pendekatan yang berfokus pada pemrosesan memori traumatik.Menurut penjelasan dr. Jiemi, pengalaman traumatis dapat meninggalkan muatan emosi dalam memori. Muatan tersebut kemudian dapat memengaruhi respons seseorang ketika menghadapi situasi tertentu dalam kehidupan sehari-hari.Bayangkan sebuah kejadian yang sudah berlangsung bertahun-tahun lalu. Kejadian buruk yang terjadi mungkin sudah selesai, berlangsung bertahun-tahun lalu. Meski begitu, tubuh dan emosi bisa kembali memberikan respons kuat ketika sesuatu mengingatkan kita pada pengalaman tersebut. Jantung bisa seketika berdebar, tubuh jadi menegang, hingga muncul rasa takut, marah, sedih, atau keinginan untuk menghindar.Dalam TPT, memori dan emosi yang melekat di dalamnya menjadi bagian penting dalam proses terapi. Seseorang diajak mengakses pengalaman tersebut secara terarah, kemudian mengenali dan memproses emosi yang muncul. Proses ini diharapkan dapat mengurangi daya emosional yang melekat pada memori sehingga respons otomatis yang mengganggu keseharian ikut mereda.Dalam pengembangannya, TPT memanfaatkan beberapa konsep dalam psikoterapi, seperti mindfulness, ego-state therapy, hypnoanalysis, dan memory reconsolidation.Memory reconsolidation merujuk pada proses ketika sebuah memori yang sedang aktif dapat mengalami perubahan setelah mendapatkan informasi atau pengalaman baru yang relevan. Sederhananya, memori lama dapat diproses kembali melalui pengalaman baru yang memberikan konteks berbeda.Karena itu, proses TPT bisa dibayangkan seperti membuka kembali sebuah cerita lama dengan cara yang aman dan terarah. Kita melihat kembali pengalaman tersebut, mengenali emosi yang muncul, lalu memberi ruang bagi otak dan tubuh untuk membentuk respons yang berbeda terhadap memori tersebut.Terus, Manfaat Apa yang Bisa Didapat dari Proses Tersebut?Salah satu hal yang ingin dicapai melalui TPT adalah membantu seseorang memiliki hubungan yang lebih sehat dengan memori traumatiknya. Ketika muatan emosi dari sebuah memori berkurang, respons yang sebelumnya terasa otomatis juga diharapkan ikut mereda.Misalnya, seseorang memiliki pengalaman tertentu yang membuatnya selalu merasa takut ketika menghadapi situasi yang mirip. Melalui proses terapi yang tepat, pengalaman tersebut dapat dieksplorasi sehingga seseorang memiliki kesempatan untuk memahami emosi, sensasi tubuh, dan makna yang melekat pada memorinya.Proses seperti ini juga dapat membantu seseorang mengenali pola respons yang selama ini muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap diri sendiri, seseorang dapat mulai membangun cara menghadapi pengalaman yang terasa lebih aman dan terkendali.Meski begitu, proses memproses trauma merupakan perjalanan yang sangat personal. Setiap orang memiliki pengalaman dan kondisi yang berbeda. Karena itu, ketika pengalaman traumatis terasa sangat berat, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau memunculkan gejala yang sulit dihadapi sendiri, bantuan tenaga profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.TPT sendiri masih terus dikembangkan dan diteliti. Sejumlah publikasi mengenai pendekatan ini telah muncul, termasuk artikel ilmiah yang membahas TPT sebagai pendekatan psikoterapi terintegrasi serta laporan kasus mengenai penerapannya pada kondisi tertentu.Masih Penasaran? Bahasan Selengkapnya Ada di Buku Ini!Yup, pembahasan mengenai Trauma Processing Therapy bisa kamu temukan secara lebih lengkap dalam buku Pulih dari Trauma karya dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ.Buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2025 ini mengajak pembaca mengenal trauma dari sudut pandang memori dan respons emosional. Temukan Bukunya di Sini!Pembahasannya juga dilengkapi latihan-latihan TPT singkat yang dapat membantu kamu mengenal proses pemulihan trauma lebih dekat. Lewat buku ini, Grameds bisa mengenal bagaimana sebuah pengalaman traumatis dapat terus memengaruhi kehidupan sehari-hari, kemudian memahami proses memori dan emosi yang menjadi bagian dari pengalaman tersebut.Tentu saja, buku dapat menjadi teman untuk belajar dan memahami diri. Ketika materi terasa berat atau pengalaman yang dibahas memunculkan reaksi emosional yang kuat, kamu juga bisa mempertimbangkan pendampingan dari profesional kesehatan mental yang kompeten.Nah, Menariknya Lagi…Program Special Offer untuk buku Pulih dari Trauma juga sedang berjalan di Gramedia.com, lho.Selama periode promo, Grameds juga berkesempatan mendapatkan bonus berupa tanda tangan dr. Jiemi Ardian dan thumb book holder untuk setiap pembelian bukunya.Kalau kamu tertarik mengenal TPT lebih jauh, momen ini bisa jadi kesempatan untuk membawa pulang bukunya sekaligus mendapatkan bonus spesialnya.Temukan Promonya di Sini!Rekomendasi Buku LainnyaKalau kamu sedang ingin mengenal diri, memahami pengalaman emosional, atau mencari bacaan yang menemani proses refleksi, beberapa buku berikut juga bisa masuk daftar bacaanmu, Grameds!Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero – dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ"Aku merasa menjalani hidup menggunakan topeng."Temukan Bukunya di Sini!Kalimat seperti ini mungkin terdengar familiar bagi sebagian orang. Kita menjalani keseharian dengan berbagai peran, berusaha terlihat kuat, ceria, profesional, atau selalu siap membantu orang lain. Melalui buku ini, dr. Andreas Kurniawan membahas hubungan antara pengalaman masa kecil, trauma, dan “topeng” yang terbentuk dalam diri seseorang. Pembahasannya mengajak kita melihat kembali cara pengalaman masa lalu ikut membentuk diri kita saat ini. Don't Believe Everything You Think – Joseph NguyenTemukan Bukunya di Sini!Pikiran bisa terasa ramai sekali. Satu hal kecil dapat berkembang menjadi banyak kemungkinan, lalu membuat kita ikut lelah memikirkannya.Don't Believe Everything You Think karya Joseph Nguyen mengajak kamu memahami hubungan antara pikiran, emosi, kecemasan, dan pola pikir yang berulang. Buku ini menawarkan pendekatan yang memadukan perspektif psikologis, filosofis, dan praktik refleksi untuk membantu kamu melihat kedalaman pikiran dengan cara yang lebih jernih. This is Me Letting You Go – Heidi PriebeTemukan Bukunya di Sini!This Is Me Letting You Go karya Heidi Priebe berisi kumpulan esai mengenai cinta, kehilangan, perpisahan, dan proses melepaskan seseorang yang pernah memiliki tempat penting dalam hidup kita. Dengan tulisan yang personal dan emosional, buku ini bisa menemani pembacanya melewati berbagai perasaan yang dapat muncul setelah sebuah hubungan berakhir. The Strength in Our Scars – Bianca SparacinoTemukan Bukunya di Sini!Setiap orang punya cerita tentang luka. Ada yang terlihat jelas, ada pula yang hanya kita sendiri yang tahu.The Strength in Our Scars karya Bianca Sparacino hadir melalui tulisan-tulisan pendek yang hangat dan reflektif. Isinya berbicara tentang luka, kehilangan, proses bertumbuh, serta keberanian untuk kembali percaya kepada diri sendiri. Berteman dengan Luka Masa Kecil – Mas Koko Ganteng“Apa aku layak mendapat cinta dari semua orang?”Temukan Bukunya di Sini!Pertanyaan seperti itu bisa membawa kita kembali pada berbagai pengalaman masa kecil yang masih terasa sampai sekarang.Berteman dengan Luka Masa Kecil karya Mas Koko Ganteng mengajak pembaca melihat kembali luka dan pengalaman masa kecil melalui perjalanan personal penulis. Buku ini berbicara tentang menerima bagian diri yang pernah terluka dan belajar hidup berdampingan dengan pengalaman tersebut. Trauma bisa meninggalkan jejak yang terasa panjang… Akan tetapi, memahami jejak tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri.Trauma Processing Therapy menawarkan sebuah pendekatan yang berfokus pada pemrosesan memori traumatik dan emosi yang menyertainya. Melalui buku Pulih dari Trauma, dr. Jiemi Ardian mengajak pembaca berkenalan lebih dekat dengan pendekatan tersebut sekaligus mengenal latihan-latihan TPT yang dapat menjadi bagian dari proses belajar memahami trauma.Pada akhirnya, perjalanan pulih setiap orang punya cerita masing-masing. Ada yang membutuhkan waktu, ruang, dukungan dari orang terdekat, membaca, melakukan refleksi, hingga mendapatkan pendampingan profesional.Jadi, kalau kamu sedang ingin memahami trauma lebih jauh, yuk mulai dari mengenal ilmunya lewat bacaan yang tepat. Siapa tahu, dari satu halaman yang kamu baca hari ini, muncul pemahaman baru tentang dirimu sendiri. 🌱Temukan Promonya di Sini!Kalau tertarik dengan bukunya, jangan lupa sambut Special Offer Pulih dari Trauma di Gramedia.com dan dapatkan bonus menarik yang sedang tersedia selama promonya berlangsung! 😍Jangan lupa juga untuk mengecek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu semakin hemat dan menyenangkan! ⤵Temukan Semua Promo Spesial di Sini!