Kasus IONIQ 5 Viral, Hyundai Evaluasi Standar Pelayanan ke Konsumen

Wait 5 sec.

Hyundai Gowa Fatmawati. Foto: Fitra Andrianto/kumparanBuntut panjang dari kasus viral Hyundai IONIQ 5 milik salah satu konsumen dan viral di media sosial, tak hanya menyorot keluhan produk, tetapi juga menguliti kualitas pelayanan tenaga penjual Hyundai.Konsumen tersebut menilai kurangnya edukasi dan pemahaman mendalam terkait pengoperasian fitur-fitur kompleks pada produk mobil listrik pabrikan, menjadi salah satu akar masalah.Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Fransiscus Soerjopranoto, tidak menampik bahwa kapasitas frontliner dalam menyampaikan product knowledge merupakan pilar vital dalam pelayanan purna jual."Dua hal yang terpenting, yaitu bagaimana menjelaskan produk secara baik ke konsumen, tentunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pelanggan. Yang kedua, tentunya adalah pelayanan yang diberikan oleh si sales atau frontliner," papar Fransiscus saat memberikan keterangan di Hyundai Gowa Fatmawati, Jumat (21/8/2026).Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia, Franciscus Soerjopranoto. Foto: Fitra Andrianto/kumparanFransiscus membeberkan bahwa Hyundai sebenarnya memiliki kurikulum pelatihan kompetensi berjenjang bagi seluruh tenaga penjual, mulai dari tingkat Certified, Expert, hingga Master.Bahkan bagi staf yang baru bergabung, HMID mewajibkan program onboard training selama 1 hingga 3 bulan pertama khusus untuk mendalami spesifikasi produk dan etika melayani."Pada dasarnya 1 sampai 3 bulan kita punya yang namanya onboard training. Isinya product knowledge dan pembekalan terhadap sikap melayani pelanggan. Nah, itu merupakan standar yang sudah kita berikan," terangnya.Test drive Hyundai IONIQ 5 Jakarta-Bali, 2-6 Oktober 2023. Foto: dok. HMIDNamun, adanya deviasi standar di lapangan dalam kasus kemarin, disikapi HMID sebagai sinyal kuat untuk melakukan refreshment dan evaluasi ketat.Hyundai katanya berjanji akan mengevaluasi ulang kemampuan teknis serta kesiapan mental staf diler agar mampu memberikan edukasi komprehensif mengenai pengoperasian fitur sensitif seperti parkir paralel."Balik lagi, kalau tidak ada masalah, maka kita tidak bisa melakukan improvement. Kami melihat permasalahan kali ini sebagai titik awal kita untuk bisa melakukan evaluasi," tegasnya.