Pedagang berjualan di zona pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Sunda, Jakarta, Minggu (25/2/2024). Foto: Aprillio Akbar/Antara FotoSetiap akhir pekan, kawasan car free day atau CFD ramai dipadati masyarakat. Ada yang datang untuk berolahraga, berjalan-jalan, berkumpul bersama keluarga, hingga berburu sarapan. Di tengah keramaian itu, para pelaku UMKM turut mengambil kesempatan dengan membuka lapak dan menawarkan beragam makanan, minuman, hingga produk lainnya.Bagi pelaku UMKM, ramainya pengunjung CFD bukan sekadar pemandangan akhir pekan. Orang-orang yang datang silih berganti menjadi peluang untuk memperluas pasar, mengenalkan produk, sekaligus menambah pemasukan.Hal itu dirasakan Lutfiah Salsabila, pedagang yang rutin berjualan di kawasan CFD Gelora Bung Karno atau GBK. Selain CFD, ia juga membawa dagangannya ke berbagai lokasi, mulai dari sekolah, kampus, hingga sejumlah acara.Menurut Lutfiah, berjualan di CFD cukup membantu mendongkrak penjualan. Pasalnya, pengunjung yang datang memiliki latar belakang dan usia yang beragam sehingga pasar yang bisa dijangkau pun lebih luas.“Selama aku dagang di sini, itu sangat mendongkrak. Karena dari segala usia, market-nya juga berbeda-beda. Jadi kita juga bisa mencari peluang yang lebih besar di CFD,” kata Lutfiah saat ditemui kumparan di CFD GBK, Minggu (23/8).Pengunjung melewati pedagang yang menjajakan dagangannya di kawasan Jalan Blora dekat Car Free Day (CFD) Sudirman, Jakarta, Minggu (15/9/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanLutfiah menjajakan sejumlah makanan seperti takoyaki mozarella, takoyaki original, kebab, hingga minuman seperti jus mangga. Ragam menu tersebut menjadi cara untuk menjangkau selera pengunjung yang datang dari berbagai kelompok usia.Namun, menurut Lutfiah, potensi penjualan di CFD tetap bergantung pada tingkat keramaian. Karena itu, ia biasanya mempertimbangkan karakteristik acara dan jumlah peserta sebelum menentukan strategi berjualan.“Karena kita juga dari event, kita lihat pesertanya berapa, jadi kita bisa estimasi ramai atau tidak. Kita lihat dari event-nya,” ujarnya.Dengan persiapan sejak dini hari, Lutfiah dan tim mulai menyiapkan lapak sekitar pukul 04.30 WIB. Dagangannya biasanya sudah habis terjual sekitar pukul 11.00 WIB.Peluang serupa juga dimanfaatkan Ningsih, pedagang pecel dan gorengan yang berjualan di Eco Foodcourt Plaza Timur GBK.Dalam kesehariannya, Ningsih berjualan di kantin. Namun setiap Minggu, ia turut membuka lapak di kawasan CFD karena jumlah pengunjung yang lebih ramai.“Kalau untuk penjualan meningkat di sini. Karena di sini kan lebih ramai,” ujar Ningsih.Ningsih mulai berjualan sekitar pukul 06.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Ia mengaku hasil berjualan saat CFD cukup membantu kondisi keuangannya.Ningsih mengungkapkan pendapatan dari berjualan di kantin dapat digunakan untuk memutar modal. Namun demikian, sebagian hasil penjualan saat CFD bahkan bisa disisihkan untuk ditabung.“Alhamdulillah, intinya kalau di kantin kita bisa buat muter. Ini sisanya buat ditabung,” katanya.Bagi UMKM, kesempatan tersebut bukan hanya soal berapa banyak dagangan yang terjual dalam satu pagi. CFD juga menjadi ruang untuk bertemu langsung dengan konsumen, memperkenalkan produk, dan membuka peluang pelanggan baru.Pada akhirnya, saat sebagian orang mengakhiri Minggu pagi dengan berolahraga, CFD juga menjadi salah satu titik perputaran ekonomi bagi UMKM setiap akhir pekan.