Jejak Sejarah di Lereng Merbabu: Soko Wolu dalam Ingatan Masyarakat.

Wait 5 sec.

Gunung Merababu dari sisi utara. Foto: PribadiDi balik sejuknya lereng utara Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, tersimpan sebuah kisah sejarah lokal yang terus hidup dari mulut ke mulut. Bukan melalui prasasti atau naskah kuno, melainkan melalui ingatan para sesepuh yang diwariskan secara lintas generasi.Di tengah derasnya arus modernisasi, cerita tentang asal-usul Soko Wolu masih menjadi bagian dari identitas masyarakat. Makam tua, mata air, tradisi merti dusun, hingga sisa-sisa soko menjadi penanda bahwa kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Soko Wolu bukan sekadar sebuah nama dusun bagi masyarakat setempat, kawasan ini merupakan ruang yang menyimpan cerita tentang leluhur, perkembangan permukiman, kehidupan keagamaan, dan hubungan manusia dengan lingkungan pegunungan.Kisah Tiga Tokoh yang Hidup dalam IngatanSalah satu tokoh yang masih menyimpan cerita tersebut adalah Drs. H. Kasmari, tokoh agama sekaligus sesepuh Dusun Soko Wolu. Menurut beliau, kisah mengenai Soko Wolu diperoleh dari para leluhur salah satunya Iman Sogari. Cerita itu kemudian diwariskan secara lisan hingga saat ini.“Kami hanya meneruskan cerita dari orang tua dulu. Cerita ini sudah turun-temurun,” ujar beliau saat diwawancarai.Dalam tradisi lisan masyarakat, terdapat tiga tokoh yang selalu disebut sebagai cikal bakal Soko Wolu, yakni Ki Ageng Mertolo, Nyi Dariah, dan Nyi Latri. Menurut Bapak Kasmari, Nyi Dariah disebut sebagai istri Ki Ageng Mertolo, sedangkan Nyi Latri merupakan anak mereka. ketiganya dipercaya pernah tinggal di kawasan tersebut dan dimakamkan di lokasi yang kini menjadi kompleks pemakaman warga.Seiring perkembangan waktu, makam tiga tokoh tersebut tidak lagi berdiri sebagai makam terpisah. kini lokasinya telah menyatu dengan kompleks pemakaman umum warga Dusun Soko wolu. Meskipun demikian masyarakat setempat masih mengetahui dan menunjuk area tertentu di dalam kompleks tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhir Ki Ageng Mertolo, Nyi Dariah, dan Nyi Latri.Hingga kini, area pemakaman tersebut tetap diziarahi masyarakat, terutama saat pelaksanaan merti dusun. Bagi warga, ketiga tokoh ini bukan sekadar nama dalam cerita, melainkan bagian dari sejarah yang terus dihormati, dianggap sebagai “cikal bakal”yang memiliki hubungan dengan awal keberadaan permukiman di Soko Wolu.Namun, sebagai sebuah tradisi lisan kisah tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya secara historis. Hubungan ketiga tokoh dengan kesultanan Demak maupun keturunan Sultan Fatah yang berkembang di masyarakat masih memerlukan pembuktian melalui sumber tertulis maupun penelitian arkeologi.Asal-Usul Nama Soko Wolu: Dua Versi Satu IngatanSelain kisah para tokoh, nama Soko Wolu juga menyimpan berbagai versi asal-usul. Sebagian masyarakat meyakini nama tersebut berasal dari keberadaan delapan soko atau tiang yang dahulu berdiri di lokasi situs. Seiring waktu, sebagian soko rusak akibat faktor alam sehingga hanya tersisa beberapa bagian yang dapat dilihat sekarang.salah satu peninggalan di situs Soko Wolu. Foto: PribadiVersi lain mengaitkan nama Soko Wolu dengan istilah “Soko Wali”yang kemudian mengalami perubahan penyebutan dalam masyarakat. Dalam Cerita yang disampaikan Bapak Kasmari, terdapat anggapan bahwa istilah tersebut berkaitan dengan tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan Wali Songo.Dua Versi tersebut memperlihatkan bahwa satu nama tempat dapat menyimpan lebih dari satu ingatan. Dalam Sejarah lisan, perbedaan versi bukan sesuatu yang harus langsung dianggap sebagai kesalahan. Justru, perbedaan tersebut menunjukan bagaimana, belum ada bukti sejarah yang memastikan asal-usul nama tersebut sehingga keduanya masih dipandang sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat.Mata Air: Sumber Kehidupan di Lereng MerbabuSumber mata air pada situs Soko Wolu. Foto: PribadiDi kawasan Soko Wolu terdapat mata air yang sejak dahulu menjadi sumber kehidupan warga. Mata air ini berada di area situs, terpisah dari kompleks pemakaman. Menurut Kasmari, mata air itu telah dimanfaatkan masyarakat sejak permukiman masih sangat kecil, bahkan ketika jumlah penduduk masih terbatas. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum hingga mandi.Dalam kisah yang dituturkan, sumber air juga digunakan untuk kebutuhan bersuci sebelum melaksanakan ibadah. Bagi masyarakat pegunungan, keberadaan sumber air tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih lokasi permukiman. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan antara manusia dan lingkungan di kawasan lereng Merbabu, sebuah kawasan yang sejak lama dikenal memiliki tinggalan arkeologi dari masa Hindu-Buddha.Soko Wolu dalam Lanskap Budaya MerbabuSitus Soko Wolu. Foto: PribadiKawasan Soko Wolu sendiri berada di sisi utara Gunung Merbabu, wilayah yang sejak lama dikenal memiliki tinggalan arkeologi dari masa Hindu-Buddha. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lereng Gunung Merbabu merupakan bagian dari lanskap budaya yang berkembang sekitar abad ke-8 hingga ke-15 Masehi.Dalam konsep kosmologi Jawa Kuno, gunung dipandang sebagai ruang yang suci. Puncak-puncak Merbabu, termasuk Pregowati, dipercaya menjadi bagian dari ruang sakral yang berkaitan dengan aktivitas keagamaan masyarakat Hindu-Saiwa pada masa lampau. Dalam kajian mengenai lanskap religius Gunung Merbabu, nama Damalung atau Pamrihan juga dikenal sebagai nama lama yang berkaitan dengan kawasan ini.Meski demikian, keberadaan Soko Wolu tidak dapat langsung disimpulkan sebagai situs Hindu-Buddha. Hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui kajian arkeologi, sejarah, maupun analisis bentang alam. Justru di sinilah menariknya sejarah lisan: cerita masyarakat dapat menjadi petunjuk awal bagi peneliti untuk menelusuri jejak masa lalu yang belum banyak terdokumentasi.Merti Dusun: Tradisi yang Merawat IngatanKegiatan Merti Dusun di situs Soko Wolu. Foto: PribadiJejak sejarah di Soko Wolu juga terus dirawat melalui tradisi merti dusun yang dilaksanakan setiap tahun. Sebelum kenduri dimulai, masyarakat bergotong royong membersihkan kompleks makam. Setelah itu dilaksanakan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur, termasuk Ki Ageng Mertolo, Nyi Dariah, dan Nyi Latri.Hidangan ayam ingkung dan nasi urap menjadi bagian dari tradisi tersebut. Bagi masyarakat, merti dusun bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk menjaga hubungan dengan sejarah dan identitas kampung. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa sejarah bagi masyarakat Soko Wolu bukan hanya sesuatu yang berada di masa lalu, sejarah hadir dalam kegiatan sosial dan budaya yang masih dilakukan pada masa kini. Melalui merti dusun, nama-nama leluhur terus disebut dan kisah mengenai asal-usul dusun terus diwariskan.Tantangan dan HarapanPerawatan situs Soko Wolu sebagian besar masih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Harapan untuk memperbaiki akses jalan, membangun pagar, hingga menjadikan kawasan sebagai wisata sejarah belum terwujud karena keterbatasan anggaran.Bapak Kasmari berharap akses menuju situs diperbaiki dan lingkungan situs ditata lebih baik. Jika dikelola dengan baik, Soko Wolu berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah berbasis masyarakat yang tidak hanya menawarkan panorama Merbabu, tetapi juga kekayaan sejarah lokal.Papan Cagar Budaya Soko Wolu dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Semarang. Foto: PribadiKabarnya baik, Soko Wolu telah diakui sebagai situs cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Semarang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Hal ini dibuktikan dengan adanya plang larangan yang dipasang di lokasi situs, yang mencantumkan perlindungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Pengakuan resmi ini menjadi langkah awal yang penting bagi upaya pelestarian dan pengembangan Soko Wolu ke depan.