Bukan Cuma Karhutla, Pemkab Kukar Salurkan Air ke Sawah Warga yang Kekeringan

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, KUKAR - Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, mulai berdampak terhadap lahan pertanian masyarakat.Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar kini ikut mengantisipasi ancaman gagal panen dengan menyalurkan suplai air ke sejumlah persawahan yang mengalami kekurangan air.Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar  Sunggono, mengatakan penanganan dampak musim kering tidak bisa hanya berfokus pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi lahan pertanian juga perlu mendapat perhatian karena kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.“Yang kita lakukan bukan hanya menangani masalah kebakaran, tapi juga masalah kekeringan. Beberapa persawahan masyarakat kita yang selama ini kekeringan bisa kita suplai airnya, bisa kita penuhi kebutuhannya,” ucap Sunggono.Menurutnya, suplai air tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga produktivitas pertanian masyarakat selama kondisi cuaca kering.Langkah itu sekaligus dilakukan untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar terhadap petani, terutama kemungkinan terjadinya gagal panen apabila kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi.“Sehingga ancaman gagal panen itu bisa kita hindari,” katanya.Sunggono mengatakan kondisi kekeringan saat ini berkaitan dengan cuaca ekstrem yang telah diantisipasi pemerintah daerah sejak beberapa bulan sebelumnya. Pemkab Kukar bahkan telah menerbitkan Surat Edaran Bupati pada Juni 2026 sebagai langkah mitigasi menghadapi kondisi tersebut.Antisipasi dilakukan sebelum dampak musim kering semakin meluas. Pemerintah daerah kemudian menyesuaikan langkah di lapangan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.“Antisipasi dan mitigasi risikonya setelah kita laksanakan jauh hari, sebelum terjadinya kejadian ini. Tadi sudah tergambar misalnya dari Surat Edaran Pak Bupati yang sejak bulan Juni sudah disampaikan,” jelasnya.Sunggono menambahkan, kondisi kering juga meningkatkan potensi munculnya titik panas di sejumlah wilayah Kukar. Pemantauan pemerintah menunjukkan kondisi tersebut dapat berubah dengan cepat mengikuti peningkatan suhu udara.Pada pagi hari, suatu wilayah dapat belum menunjukkan hotspot. Namun, ketika suhu meningkat memasuki siang, titik panas berpotensi kembali muncul.“Kalau pagi hotspot-nya tidak ada, hijau semua, bagus. Semakin siang, semakin udara memanas, kemudian kecenderungannya hotspot muncul,” bebernya.Dari 20 kecamatan di Kukar, hanya lima kecamatan yang berdasarkan pemantauan titik panas tidak menunjukkan indikasi hotspot.Untuk mengantisipasi perubahan kondisi tersebut, pemerintah daerah tetap meminta kecamatan memperkuat pemantauan dan mempercepat penyampaian laporan apabila ditemukan indikasi kebakaran.Sunggono mengatakan koordinasi juga terus dilakukan bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Menurutnya, dukungan lintas sektor diperlukan agar dampak musim kering, baik terhadap lingkungan maupun masyarakat, dapat ditekan.“Ini yang penting, termasuk dukungan dari semua unsur Forkopimda. Menurut saya ini political will yang mudah-mudahan benar-benar bisa meminimalisasi dampak yang disebabkan karena karhutla ini,” pungkasnya. (*)