Intrusi Air Laut Ganggu Operasional IPA, Tirta Kencana Terapkan Produksi Fleksibel

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Masuknya intrusi air laut ke Sungai Mahakam membuat Perumda Tirta Kencana Samarinda melakukan penyesuaian operasional pada sejumlah instalasi pengolahan air (IPA). Namun demikian, perusahaan memastikan pelayanan tidak dihentikan sepenuhnya karena produksi tetap berjalan menyesuaikan kondisi kualitas air baku.Asisten Manager Humas Perumda Tirta Kencana Samarinda, Cevi Wahyudi, mengatakan beberapa IPA yang terdampak intrusi air laut antara lain Pulau Atas, Palaran, dan Kalhol. Pada Rabu (26/8/2026), kondisi serupa juga mulai terdeteksi di IPA Selili dan Sungai Kapih.Menurut Cevi, operasional instalasi sangat bergantung pada hasil pengukuran kadar klorida dalam air baku. Batas aman yang digunakan Perumda berada pada angka 250 ppm. Jika hasil pemeriksaan masih berada di bawah angka tersebut, proses produksi tetap dijalankan. Sebaliknya, ketika kadar klorida melebihi ambang batas, produksi dihentikan sementara hingga kondisi kembali normal.“Kalau kadar klorida masih di bawah 250 ppm, produksi tetap berjalan. Tetapi ketika melebihi batas tersebut, operasional akan dihentikan sementara dan akan kembali dijalankan setelah hasil pengecekan menunjukkan angkanya turun,” ujar Cevi.Ia menjelaskan, petugas melakukan pemantauan kualitas air setiap satu jam sekali. Karena itu, dampak intrusi air laut lebih berpengaruh pada durasi operasional instalasi dibandingkan jumlah produksi air yang dihasilkan.Menurutnya, tidak ada ketentuan pasti mengenai berapa lama penghentian produksi berlangsung karena semuanya bergantung pada perubahan kadar klorida di sumber air baku. Dalam beberapa kondisi, penghentian dapat berlangsung beberapa jam sebelum produksi kembali dilakukan.“Debit produksi tidak berkurang, yang berubah adalah jam operasionalnya,” katanya, pada Kamis (27/8/2026).Cevi menambahkan, naik turunnya kadar klorida sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut air laut. Oleh sebab itu, pengambilan sampel dan pemeriksaan kualitas air dilakukan secara berkala untuk memastikan produksi tetap aman bagi pelanggan.Ia juga menyebut IPA Anggana menjadi salah satu instalasi yang sementara menghentikan produksi akibat tingginya kadar klorida. Sementara instalasi lainnya masih beroperasi dengan pola penyesuaian waktu produksi sesuai hasil pemantauan lapangan.Untuk mengantisipasi gangguan pelayanan apabila penghentian produksi berlangsung lebih lama, Perumda Tirta Kencana telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda guna menyiapkan skema distribusi air bersih bagi masyarakat.Penyaluran air nantinya dapat dilakukan melalui terminal distribusi di IPA terdekat, titik pelayanan umum yang disiapkan pemerintah kelurahan, maupun terminal mandiri yang memanfaatkan sumur bor warga di lokasi tertentu.Meski demikian, distribusi air akan dilakukan berdasarkan data kebutuhan yang dihimpun BPBD. Data tersebut menjadi dasar bagi Perumda dalam menentukan lokasi dan jumlah pasokan air yang harus disalurkan.“Distribusi air akan mengikuti data dari BPBD. Dari data itu nanti kami menyalurkan air ke titik-titik yang memang membutuhkan,” jelasnya. (*)