Jembatan Lama Kota Kediri jadi Saksi perjalanan kota yang hingga kini masih berdiri kokoh di atas Sungai Brantas. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)Kediri tidak hanya meninggalkan sejarah di masa Kerajaan saja. Kalau kamu sedang liburan di momen akhir pekan ini dan kebetulan berada di Kota Kediri, coba sesekali berhenti di sekitar Sungai Brantas tak jauh dari Jembatan Brawijaya. Tidak jauh dari lokasi itu ada sebuah jembatan tua yang sudah berdiri lebih dari satu abad. Namanya Jembatan Lama.Jembatan yang berada di Kecamatan Mojoroto ini membentang di atas Sungai Brantas dan menghubungkan wilayah barat dengan timur Kota Kediri. Sekilas mungkin cuma terlihat seperti jembatan tua biasa. Tapi kalau tahu ceritanya, rasanya agak sayang kalau cuma dilewati begitu saja.Fyi, berdasarkan sejumlah literatur Jembatan Lama Kota Kediri mulai dibangun pada 1853 dan baru selesai pada 11 Maret 1869. Setelah dilakukan uji coba pada 11-17 Maret, jembatan itu akhirnya diresmikan pada 18 Maret 1869. Artinya, kalau dihitung sampai sekarang, usianya sudah lebih dari 157 tahun. Lumayan tua, bukan untuk sebuah jembatan yang masih kokoh berdiri hingga sekarang?Memiliki panjang sekitar 160 meter dan lebar 5,8 meter, jembatan ini bukan cuma menjadi penghubung dua sisi Sungai Brantas. Sejak awal berdiri, jembatan ini juga punya peran penting dalam perjalanan Kota Kediri di era kolonial.Bermula dari Jalan Raya, Hingga jadi Jalur NiagaPada masa kolonial Belanda, Jembatan Lama dikenal dengan nama Brug Over den Brantas te Kediri. Namanya memang panjang. Maklum, zaman Belanda mungkin belum kenal istilah nama yang singkat dan mudah diingat. Sejak dibangun pada 1869 sampai 1948, jembatan ini digunakan sebagai bagian dari Groote Postweg atau jalan raya. Jalurnya menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat dan aktivitas kolonial di Kediri.Palang Jembatan Lama Kota Kediri digunakan untuk menghalau kendaraan agar tidak melintas di bangunan yang kini jadi cagar budaya. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)Setelah Indonesia merdeka, fungsinya terus berlanjut. Pada 1948 hingga 2019, Jembatan Lama menjadi salah satu jalur penghubung penting bagi aktivitas perekonomian warga Kota Kediri. Jadi, selama puluhan tahun, orang dan berbagai aktivitas ekonomi melewati jembatan yang sama ini.Uniknya ada fakta menarik yang membuat Jembatan Lama tidak bisa dianggap sebagai jembatan tua biasa. Brug Over den Brantas te Kediri disebut sebagai jembatan dengan konstruksi besi pertama di Pulau Jawa. Dimana fakta itu tercatat dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek sebagai jembatan dengan konstruksi besi pertama di Jawa. Jembatan itu merupakan buah karya insinyur Sytze Westerbaan Muurling, seorang insinyur kelahiran Belanda yang lahir pada 29 November 1836 dan meninggal di Batavia pada 17 Oktober 1876.Lebih Tua dari Brooklyn, Bukan Sekadar JembatanBagian yang mungkin bikin saya sebagai orang Kediri sedikit mengangkat alis adalah soal usianya. Jembatan Lama Kota Kediri berdiri pada 1869. Sementara Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat baru berdiri pada 1883. Artinya, Jembatan Lama Kota Kediri sudah berdiri lebih dulu. Bahkan, jembatan ini disebut sebagai salah satu jembatan suspensi tertua di dunia.Matrial Kayu Jembatan Lama Kota Kediri masih tetap di pertahankan meski beresiko sering terjadi kebakaran yang bermula dari puntung rokok warga yang datang. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)Bayangkan saja. Ketika Jembatan Brooklyn belum berdiri, Jembatan Lama sudah lebih dulu membentang di atas Sungai Brantas. Sayangnya, fakta seperti ini mungkin tidak banyak diketahui akamsi di sini. Kita kadang lebih mudah mengenal bangunan bersejarah di luar negeri daripada bangunan tua yang setiap hari ada di kota sendiri.Di sejumlah literatur Jembatan Lama Kota Kediri ternyata juga pernah menjadi bagian dari sebuah peristiwa kerajaan Eropa. Sebut saja pada Januari 1937, jembatan ini ikut menjadi saksi pernikahan Putri Juliana dari Belanda dengan Pangeran Bernhard. Saat itu, Jembatan Lama dihiasi berbagai macam lampu hias dari ujung ke ujung sebagai bagian dari sambutan atas pernikahan agung kedua bangsawan tersebut.Tua Usianya, Besar JasanyaSetelah puluhan tahun menjadi jalur pendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi, Jembatan Lama Kota Kediri akhirnya tidak lagi digunakan sebagai jalur utama seperti sebelumnya. Namun berhenti digunakan bukan berarti berhenti bercerita. Pada 15 Maret 2019, Jembatan Lama ditetapkan sebagai cagar budaya melalui keputusan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Trowulan.Jembatan Lama Kota Kediri bersanding dengan Jembatan Brawijaya sebagi pengganti akses warga melintasi Sungai Brantas. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)Beberapa hari kemudian, tepatnya 18 Maret 2019, Wali Kota Kediri saat itu, juga menetapkan Jembatan Lama sebagai cagar budaya. Penetapan tersebut dilakukan bersamaan dengan peresmian Jembatan Brawijaya. Sejak saat itu, statusnya semakin jelas. Jembatan Lama Kota Kediri bukan lagi sekadar penghubung dua sisi sungai. Ia adalah bagian dari sejarah Kota Kediri.Kalau melihat perjalanan Jembatan Lama, saya seperti melihat perjalanan Kota Kediri dari masa ke masa. Jembatan ini pernah menjadi bagian dari Groote Postweg. Pernah menjadi jalur penting bagi kegiatan ekonomi. Pernah dihiasi lampu untuk menyambut pernikahan bangsawan Belanda. Pernah menjadi jalur utama masyarakat selama puluhan tahun. Hingga berakhir jadi bangunan cagar budaya saat ini. Besinya mungkin sudah tua. Tapi cerita di baliknya jangan sampai ikut berkarat dan pudar bagi warganya. Semoga.