● Pemeriksaan kehamilan rutin sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang membahayakan ibu dan janin.● Keterbatasan jarak, akses, dan bidan membuat banyak ibu hamil di daerah terluar sulit melakukannya.● DetectMe berpotensi membantu ibu hamil memantau kondisi kehamilan dari rumah tanpa mengurangi peran bidan.Bayangkan, kamu sedang memasuki trimester ketiga kehamilan dan sering mengalami pusing akibat tekanan darah tinggi. Namun, kamu terpaksa menahan dan mengabaikan gejala ini karena jauhnya akses menuju puskesmas.Padahal, tanpa pemeriksaan rutin dan penanganan lanjutan, ibu hamil berisiko mengalami masalah kesehatan yang bisa mengancam keselamatan diri dan janinnya, seperti gejala pre-eklamsia alias komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah tinggi dan protein dalam urine tersebut. Inilah momok yang dihadapi banyak ibu hamil di Indonesia, terutama di daerah terluar seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatatkan sekitar 317 kematian ibu melahirkan dari 100 ribu kelahiran hidup di ketiga wilayah tersebut. Jumlah kematian ibu hamil terbanyak di Tanah Air ini hampir tiga kali lipat dibandingkan kawasan Jawa-Bali dengan 114 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup.Keterbatasan jarak dan akses membuat banyak ibu hamil di daerah terluar kesulitan melakukan pemeriksaan rutin. Di sisi lain, kondisi puluhan hingga ratusan ibu hamil tidak terpantau secara intensif karena keterbatasan waktu, fasilitas, dan beban kerja berlebih yang dihadapi para bidan desa.Bisakah teknologi bantu pantau kehamilan dari rumah?Untuk menurunkan angka kematian ibu, pemerintah Indonesia sejak 2023 sebenarnya telah menggalakkan pemeriksaan kehamilan gratis minimal sebanyak enam kali di puskesmas lewat BPJS Kesehatan. Namun, program tersebut belum maksimal mengatasi persoalan keterbatasan akses fasilitas kesehatan yang dihadapi ibu hamil di daerah terluar. Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan: bisakah teknologi membantu ibu hamil memantau kondisi kehamilan dari rumah tanpa mengurangi peran tenaga kesehatan?Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian gabungan kami tahun 2024-2026 (belum dipublikasikan) mengembangkan dan menguji sistem pemantauan dan pemeriksaan mandiri kesehatan ibu dan janin yang dinamakan DetectMe. DetectMe terdiri atas perangkat, aplikasi, dan website.Perangkat DetectMe berbasis teknologi IoT (internet of things) sehingga bisa dihubungkan ke jaringan internet untuk bertukar data dan diperiksa dari jarak jauh.Perangkat ini bekerja serupa elektrokardiogram (EKG) dengan menangkap gelombang (aktivitas kelistrikan) jantung ibu dan janin lewat elektroda alias sensor penangkap gelombang jantung yang ditempelkan ke perut ibu. Tujuannya untuk mengetahui tanda-tanda masalah kesehatan dari kecepatan detak jantung ibu dan janin. Baca juga: Hasil timbangan anak bebani para ibu: Cap negatif dari tenaga posyandu hambat kasus ‘wasting’ dan ‘stunting’ Detak jantung tidak normal pada ibu bisa menandakan kemungkinan masalah kesehatan, seperti anemia, kekurangan cairan, infeksi, tekanan darah rendah, dan gangguan kesehatan lain. Pada bayi, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa janin kekurangan oksigen, mengalami sindrom gawat napas, atau terlilit tali pusar.Sinyal detak jantung ibu dan janin kemudian diproses dan dipisahkan ke dalam perangkat DetectMe, lalu dikirimkan via bluetooth ke aplikasi di smartphone. Ibu hamil bisa melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan perangkat DetectMe selama 10 menit di rumah.Hasil pemeriksaan ibu dan janin kemudian bisa diperiksa secara real-time oleh bidan di desa maupun puskesmas lewat website DetectMe.Melengkapi peran bidanKami mencoba menerapkan sistem DetectMe dengan melibatkan 90 ibu hamil trimester ketiga sebagai pengguna utama, 36 bidan desa, serta sembilan bidan koordinator dari sembilan puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat; Kota Ambon, Maluku; dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.Bidan berperan sebagai pendamping dan penanggung jawab ibu hamil di wilayah kerja masing-masing. Pendekatan ini dipilih agar inovasi kesehatan tidak hanya bergantung pada alat yang dikembangkan, tetapi juga terintegrasi ke dalam layanan kesehatan primer dan berkelanjutan.Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan DetectMe di rumah sebanyak 12 kali. Hasil pemantauan menjadi informasi tambahan bagi bidan untuk mengevaluasi kondisi ibu dan janin di antara jadwal pemeriksaan kehamilan rutin. Dengan demikian, DetectMe tidak menggantikan pemeriksaan kehamilan, tetapi melengkapi proses pemantauan janin yang selama ini hanya enam kali selama kurang lebih sembilan bulan kehamilan. Pemantauan intensif meningkatkan pengambilan keputusan dan penanganan cepat, khususnya bagi ibu hamil dan janin dengan masalah kesehatan.Memberdayakan ibu hamil dan keluargaSetelah menggunakan alat DetectMe di rumah selama 1,5 bulan, sebagian besar peserta menilai bahwa perangkat ini mudah digunakan (76,2%). Mereka mengaku mau menggunakannya kembali jika hamil di masa mendatang.Hampir seluruh ibu hamil merasa lebih tenang dan aman karena dapat mengetahui kondisi janin secara lebih rutin, tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan. Contohnya Maria (bukan nama sebenarnya), ibu hamil dari Kabupaten Kupang ini berinisiatif melakukan pemeriksaan menggunakan DetectMe ketika merasakan janinnya tidak aktif. Melihat hasil pemantauan tak seperti biasanya, Maria kemudian melaporkan ke bidan dan melakukan pemeriksaan di puskesmas. Baca juga: Angka kematian ibu dan bayi di Papua tertinggi se-Indonesia: bagaimana cara mengatasinya? Dari hasil pemeriksaan, bidan memutuskan untuk merujuk Maria ke dokter spesialis kandungan (obgyn). Sehari berselang, persalinan dilakukan lewat operasi sesar dan janin terselamatkan. Penelitian kami menunjukkan bahwa sistem DetectMe tidak hanya memberdayakan ibu hamil, tetapi juga keluarganya. Mereka tidak hanya menjadi penerima layanan kesehatan, tetapi juga berperan aktif dalam proses pemantauan kesehatan bersama tenaga kesehatan.Contohnya, suami ataupun anak paling besar bergantian membantu memasang perangkat DetectMe ke perut ibu dan melihat hasilnya.Tingkatkan efektivitas kerja bidanBidan di tiga wilayah penelitian menyampaikan tentang besarnya manfaat DetectMe dalam membantu tugas bidan, khususnya pemantauan kehamilan yang biasanya dilakukan lewat kunjungan rumah (homevisit). Fransiska (bukan nama sebenarnya), bidan dari Puskesmas Tarus di Kabupaten Kupang, mengatakan bahwa perangkat DetectMe sangat membantu pekerjaannya sebagai nakes di desa. “Terutama untuk ibu-ibu dengan risiko. Kita tidak harus kontak mereka untuk datang ke sini, karena dapat kita ketahui keadaan mereka,” ujarnya.Berbekal data hasil pemantauan dari rumah, bidan memperoleh gambaran perkembangan kondisi ibu dan janin secara lebih berkelanjutan. Informasi tersebut membantu mereka menentukan apakah kondisi kehamilan masih dalam batas normal atau memerlukan tindakan segera.Apabila ditemukan indikasi yang memerlukan perhatian, bidan dapat segera menghubungi ibu hamil dan melakukan pemeriksaan lanjutan. Apabila diperlukan, mereka akan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.Pendekatan ini berpotensi mengubah pola pelayanan dari yang semula bersifat kuratif (menyembuhkan penyakit) menjadi promotif dan preventif (mencegah penyakit) sesuai visi pemerintah dalam memperbaiki sistem kesehatan nasional.Butuh kerja sama semua pihakPenggunaan teknologi pemantauan kehamilan dan janin DetectMe sangat potensial, terutama bagi ibu yang hidup di wilayah dengan hambatan geografis, keterbatasan tenaga kesehatan, akses transportasi, maupun waktu.Namun, sistem ini perlu dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, dengan mengembangkan desain produk yang lebih mudah digunakan, seperti penyimpanan data sementara dalam keadaan offline. Selain itu, perlu ada kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan konektivitas jaringan internet di daerah terluar, maupun integrasi dengan sistem kesehatan nasional. Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama KONEKSI dan The Conversation Indonesia.Restuning Widiasih dari Universitas Padjadjaran menerima dana penelitian dari Hibah Koneksi: Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia, skema Digital Transformation in Health, Energy, and Food Security tahun 2024-2026. Judul Project: Ultralight: An Innovative Solution to Optimize Digital Technology and the Health System Strengthening in Accelerating the Reduction of Fetal-Maternal Mortality: Indonesia-Australia Study . Melibatkan Tim peneliti dari 6 Universitas yaitu Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, University of Newcastle Australia, Poltekkes Kemenkes Kupang, dan Poltekes Kemenkes Maluku. 1 Rumah Sakit yaitu RSHS, dan 1 Industri alat Kesehatan yaitu PT Xirka Dama Persada