Warga mengantre di stasiun pengisian bahan bakar usai Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang memicu kepanikan di Teheran dan sejumlah kota lain (28/2/2026). Foto: MAJID ASGARIPOUR/REUTERSTekanan perang terhadap ekonomi Iran menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (25/8). Selain itu, terdapat peninjauan realisasi APBN Jawa Barat oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Perang Tekan Ekonomi Iran, Inflasi Diproyeksi Meningkat Hampir 70% Akhir TahunAntrian kendaraan keluar dari Teheran, Iran usai terjadi serangan Israel-AS ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Atta Kenare/AFPPerekonomian Iran dilaporkan berada dalam tekanan hebat akibat konflik bersenjata yang memicu sanksi internasional dan blokade laut. Kebijakan restriktif tersebut menghambat ekspor komoditas minyak mentah yang menjadi andalan devisa negara. Imbasnya, pasar domestik dihadapkan pada kelangkaan barang, lonjakan pengangguran, serta penurunan daya beli secara ekstrem. Data di lapangan menunjukkan harga bahan pokok mengalami kenaikan luar biasa, dengan harga beras naik hingga 60 persen dan daging sapi melonjak 150 persen dibandingkan dengan periode sebelum perang.Secara makroekonomi, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan tingkat inflasi di Iran akan menembus hampir 70 persen pada akhir tahun ini. Tekanan tersebut sejalan dengan prediksi penyusutan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut hingga lebih dari 5 persen. Di sektor ketenagakerjaan, hilangnya lebih dari 1 juta lapangan pekerjaan hanya dalam waktu tiga bulan pertama konflik menunjukkan eskalasi krisis yang kian mengkhawatirkan, di tengah angka pengangguran resmi yang merangkak naik ke level 9,1 persen.Purbaya Cek APBN Jabar, Pastikan Anggaran Berdampak ke MasyarakatMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kunjungan mendadak ke Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Jawa Barat di Bandung, Senin (24/8/2026). Foto: Instagram/ @menkeuriMenteri Keuangan Yudhi Sadewa melakukan peninjauan langsung terhadap implementasi APBN di Jawa Barat guna memastikan efektivitas penyerapan anggaran terhadap kesejahteraan masyarakat. Hingga 31 Juli 2026, kinerja fiskal regional di Jawa Barat tercatat cukup solid dengan membukukan surplus sebesar Rp 22,02 triliun. Angka ini ditopang oleh realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp 85,61 triliun atau 45,41 persen dari target, dengan kontribusi dominan dari penerimaan perpajakan sektor industri pengolahan sebesar Rp 30,60 triliun.Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara di Jawa Barat telah mencapai Rp 63,59 triliun atau sekitar 57,02 persen dari total pagu. Kinerja belanja kementerian dan lembaga (K/L) menunjukkan pertumbuhan ekspansif sebesar 28,86 persen secara tahunan menjadi Rp 26,61 triliun, yang didorong oleh akselerasi belanja modal yang melonjak signifikan hingga 115,37 persen menjadi Rp 3,11 triliun. Dukungan fiskal ini juga disalurkan melalui instrumen pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 23,24 triliun guna menjaga tren pertumbuhan ekonomi daerah yang tercatat berada di level 5,73 persen pada triwulan II 2026.