BorneoFlash.com, PONTIANAK - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) turun menjadi 28 titik. Namun, asap masih terlihat di sejumlah lokasi."Untuk wilayah Kalbar ada 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan satu ada di Kubu Raya," kata Raja Juli saat meninjau penanganan karhutla di Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Senin.Raja Juli meninjau lokasi bersama Gubernur Kalbar Ria Norsan, TNI, Polri, BMKG, BNPB, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, dan masyarakat peduli api.Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per 23 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB mencatat 16 hotspot di Ketapang, 11 titik di Melawi, dan satu titik di Kubu Raya.Raja Juli menegaskan penurunan hotspot belum mengakhiri ancaman karhutla dan asap. Saat meninjau lokasi, dia tidak melihat api di permukaan, tetapi asap masih muncul.Dia menjelaskan lahan gambut dapat membuat pembakaran berlangsung tidak sempurna sehingga menghasilkan lebih banyak asap dibandingkan lahan mineral."Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral," ujarnya.Raja Juli mengatakan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BNPB, dan relawan terus mengendalikan karhutla di Kalbar.Secara nasional, Sumatera Selatan mencatat 127 hotspot, Riau 54 titik, dan Jambi 47 titik berdasarkan data 23 Agustus malam.Menhut menegaskan pemerintah perlu terus memantau hotspot karena kondisi karhutla sangat dinamis dan sulit diprediksi."Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi," katanya. (*)