Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTOMenteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut dua rumah sakit di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan berat akibat gempa. Perbaikan kedua rumah sakit itu membutuhkan dana hingga Rp 200 miliar.Hal itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8)."Ini rumah sakitnya dua yang rusak itu tadi. Yang rumah sakit yang berat itu memang dua, Manggarai Timur dan Nagekeo. Ini kita ada rumah sakit lapangan. Ini kemungkinan besar rumah sakit yang terdampak harus dibangun baru. Jadi mungkin anggarannya Rp 150 miliar sampai Rp 200 miliar-an untuk dua rumah sakit ini," kata Budi.Budi mengatakan, dua rumah sakit tersebut saat ini tidak dapat beroperasi secara normal sehingga harus dibangun rumah sakit lapangan demi memastikan layanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan.Menurut dia, kerusakan dua rumah sakit itu sejak hari kedua setelah bencana. Kemenkes kemudian mengirim rumah sakit lapangan pada Senin (17/8) dan mulai beroperasi pada Selasa (18/8)."Jadi, dalam waktu satu minggu sudah mulai bisa beroperasi penuh layanan kesehatan rujukan untuk pasien yang triasenya merah dan kuning,” ujarnya.Polisi membantu bersihkan material rumah yang rusak usai gempa di Desa Cibal Barat, Manggarai, NTT, Sabtu (22/8/2026). Foto: Polda NTTBudi menjelaskan pemulihan fasilitas kesehatan akan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan ringan ditargetkan selesai diperbaiki dalam 1-2 bulan.Sementara fasilitas dengan kerusakan sedang ditargetkan selesai dalam 3-6 bulan. Adapun fasilitas yang mengalami kerusakan berat dan harus dibangun kembali ditargetkan selesai dalam 6-12 bulan.“Saya sebenarnya kalau yang seluruh fasilitas rusak ringan, saya penginnya kalau bisa yang 1 bulan 2 bulan beres. Rusak sedang 3 bulan 6 bulan beres. Kalau rusak berat itu 6 bulan sampai 12 bulan. Dan itu membutuhkan yang bangun baru,” kata Budi.Budi mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan pendataan dan verifikasi terhadap fasilitas kesehatan yang terdampak. Data tersebut akan direkonsiliasi bersama pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum agar kebutuhan pembangunan dapat segera diajukan ke Kementerian Keuangan.Sejumlah pasien dan wisatawan terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/8/2026). Foto: Gecio Viana/ANTARA FOTOSebelumnya, Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene meminta Kemenkes menyajikan data terkini mengenai rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lain yang terdampak bencana.Komisi IX juga meminta pemerintah memastikan kebutuhan layanan kesehatan selama masa tanggap darurat hingga 30-90 hari ke depan, termasuk ketersediaan obat, alat kesehatan, listrik, air bersih, oksigen, tenaga kesehatan, serta sistem rujukan.Dalam rapat tersebut, Budi juga menyampaikan gempa di NTT berdasarkan data BNPB telah berdampak terhadap sekitar 1,9 juta orang. Sebanyak 105 orang dilaporkan meninggal dunia dan sekitar 179 ribu orang mengungsi di 444 titik pengungsian.Untuk menjaga layanan kesehatan tetap berjalan, Kemenkes sebelumnya mengaktifkan rumah sakit lapangan serta mengirim tenaga kesehatan dan obat-obatan ke wilayah terdampak.