BorneoFlash.com, KUKAR - Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang membuat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Pemerintah daerah memperkirakan kondisi kering masih berlangsung hingga Oktober. Bahkan, musim kemarau berpotensi berlanjut sampai November apabila hujan belum kunjung turun.Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan kondisi tersebut membuat kesiapan petugas dan armada pemadam perlu diperkuat. Penanganan juga tidak hanya dilakukan ketika api sudah membesar, tetapi harus diantisipasi sejak tingkat desa dan kelurahan.“Kami juga sudah menginstruksikan agar dilaksanakan salat Istisqa dengan berdoa memohon hujan segera turun karena musim kemarau diperkirakan lebih panjang hingga Oktober, bahkan bisa meleset sampai November,” jelasnya, pada Kamis (27/8/2026). Menurut Aulia, hujan menjadi salah satu faktor yang sangat membantu dalam mengurangi risiko kebakaran, terutama pada lahan yang masih kering dan mudah terbakar.“Jika sering diguyur hujan, penanganan karhutla akan lebih mudah,” ujarnya. Di sisi lain, Pemkab Kukar tengah menyiapkan penguatan dukungan operasional bagi armada pemadam. Salah satunya melalui penambahan anggaran untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).Aulia menyebut kebutuhan BBM nantinya tidak hanya untuk armada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar. Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) serta sejumlah kecamatan yang membutuhkan dukungan dalam penanganan karhutla juga akan mendapat pasokan.“Kita sudah minta pendampingan Kejari Kukar, akan ada penambahan anggaran pengadaan bahan bakar mobil melalui satu pintu,” tuturnya. Besaran anggaran belum ditentukan. Pemkab Kukar masih melakukan penghitungan dengan mempertimbangkan kebutuhan armada selama operasi penanganan karhutla berlangsung.“Terkait berapa anggaran yang dibutuhkan guna pembelian BBM, Pemkab akan menghitung dulu kebutuhannya,” kata Aulia.Kebutuhan penguatan penanganan tersebut tidak terlepas dari masih munculnya sejumlah titik kebakaran di wilayah Kukar. Berdasarkan pemantauan citra satelit, terdapat sekitar 140 titik api.Namun setelah dilakukan pengecekan di lapangan, jumlah lokasi yang dinilai membutuhkan penanganan berada di kisaran 50 titik.“Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, ada sekitar 50 titik api. Memang ada titik api yang besar dan perlu perhatian khusus dalam penanganannya,” bebernya.Untuk mempercepat respons, Pemkab Kukar juga mendorong pembentukan pos terpadu karhutla hingga tingkat kelurahan dan desa. Dengan pola tersebut, penanganan diharapkan bisa dilakukan lebih cepat ketika api mulai terdeteksi.Aulia mengatakan persoalan karhutla tidak dapat ditangani pemerintah daerah seorang diri. Koordinasi dengan berbagai unsur juga terus dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan di lapangan.Ia menilai ancaman karhutla perlu mendapat perhatian karena dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat akibat paparan asap.Karena itu, pemerintah daerah mengajak masyarakat ikut mencegah munculnya titik kebakaran, terutama dengan tidak membuka atau membersihkan lahan menggunakan cara pembakaran.Dengan musim kemarau yang masih berpotensi berlangsung beberapa bulan ke depan, Pemkab Kukar kini mempersiapkan dukungan operasional sekaligus memperkuat koordinasi di tingkat wilayah agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas. (*)