6 Spesies Baru Jamur Zombie di Meksiko: Bajak Otak Semut Mirip The Last of Us

Wait 5 sec.

Enam spesies jamur zombie ditemukan di Meksiko. Bisa bajak otak semut, gerakan tubuhnya, lalu mati. Foto: VioryPara peneliti di Meksiko berhasil menemukan enam spesies baru jamur parasit atau jamur zombie yang bisa bajak otak dan kendalikan tubuh semut hingga mati seperti di game atau film The Last of As.Menariknya, salah satu spesies tersebut diberi nama Ophiocordyceps deltoroi, terinspirasi dari nama sutradara film asal Meksiko, Guillermo del Toro, yang dikenal melalui karya-karyanya bertema horor, fantasi, dan makhluk-monster.Penemuan ini dilakukan César Ballesteros, ilmuwan dari University of Guadalajara, yang mempelajari perilaku enam spesies jamur entomopathogen di hutan tropis Jalisco, Meksiko. Jamur jenis ini diketahui dapat menginfeksi serangga dan laba-laba serta memengaruhi perilaku inangnya dalam proses yang dapat berlangsung selama hampir satu tahun.Ballesteros menjelaskan, setelah masuk ke dalam tubuh semut, jamur mulai menghasilkan senyawa khusus yang disebut metabolit sekunder. Senyawa tersebut berinteraksi dengan sistem saraf semut dan mengubah perilakunya. Akibatnya, semut mulai bergerak secara tidak normal dan kehilangan kendali atas sejumlah keputusan yang biasanya dibuatnya sendiri.Jamur kemudian mengarahkan semut menuju lokasi tertentu yang oleh para peneliti disebut sebagai kuburan. Tempat tersebut biasanya memiliki kombinasi cahaya dan kelembapan yang ideal bagi jamur untuk berkembang serta menginfeksi inang lainnya.Di lokasi itu, semut akan menggigit dan mencengkeram permukaan seperti kulit pohon, daun, atau bagian bawah batu menggunakan mandibula dan kakinya. Setelah semut mati, jamur mulai tumbuh dari tubuhnya.“Ini semacam kuburan tempat bangkai-bangkai semut berkumpul. Di sana, semut melakukan gerakan terakhirnya dengan mencengkeram permukaan menggunakan mandibula dan kaki,” kata Ballesteros sebagaimana dikutip EFE.Semut zombie, akibat infeksi jamur Ophiocordyceps unilateralis. Foto: Hyde Peranitti/ShutterstockProses alami tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun. Jamur dari kelompok Cordyceps memanfaatkan mekanisme ini untuk mempertahankan hidup sekaligus bereproduksi.Keunikan proses tersebut membuat Ballesteros memilih nama Ophiocordyceps deltoroi untuk salah satu spesies yang ditemukannya. Pemilihan nama itu merupakan penghormatan kepada Guillermo del Toro, sutradara asal Jalisco yang juga merupakan lulusan University of Guadalajara.“Karena dia berasal dari Jalisco dan lulus dari University of Guadalajara, serta melihat semua karyanya di dunia film yang mengeksplorasi horor dan fantasi, cara apa yang lebih baik untuk menghormatinya selain mendedikasikan spesies jamur kepadanya yang oleh sains disebut sebagai ‘zombie’?” ujar Ballesteros.Menurut dia, bentuk dan karakteristik jamur tersebut juga mengingatkan pada berbagai makhluk yang diciptakan Del Toro sepanjang kariernya.Fenomena jamur parasit yang mampu mengendalikan perilaku serangga ini juga menjadi inspirasi bagi cerita game The Last of Us, yang kemudian diadaptasi menjadi serial televisi.Enam Spesies Baru untuk MeksikoPenemuan tersebut menjadi tonggak penting bagi penelitian jamur di Meksiko. Ballesteros menjadi ilmuwan pertama yang mengidentifikasi spesies-spesies tersebut dalam kerajaan fungi di negara itu.Sebelumnya, hanya ada satu spesies jamur serupa yang telah dideskripsikan dari Meksiko, yakni Cordyceps mexicana, yang diketahui menyerang kupu-kupu. Kini, penelitian Ballesteros memperkenalkan enam spesies yang ditemukan di Meksiko.“Ini adalah spesies pertama yang dideskripsikan untuk Meksiko. Sebelumnya hanya ada satu, yang disebut Cordyceps mexicana, yang menyerang kupu-kupu. Sekarang kami memperkenalkan penelitian yang mendeskripsikan enam spesies yang ditemukan secara khusus di Meksiko,” katanya.Selain memiliki peran penting dalam ekosistem, jamur-jamur tersebut juga berpotensi memberikan manfaat bagi manusia. Senyawa yang dihasilkan beberapa spesies jamur dapat diteliti untuk pengembangan obat.Sejumlah senyawa dari kelompok jamur ini diketahui berpotensi digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit, termasuk kanker, tuberkulosis, dan multiple sclerosis. Namun, Ballesteros menekankan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami potensi tersebut dan mengembangkannya bagi kepentingan kesehatan manusia.