Kebakaran Parit Diduga Berisi Limbah Pabrik di Deli Serdang, Warga Resah

Wait 5 sec.

Kondisi saluran parit diduga tercemar limbah pabrik di Deli Serdang, Sabtu (22/8/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparanKebakaran terjadi di saluran parit Dusun 15, Desa Sampali, Kecamatan Pematang Johar, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat (21/8) sekitar pukul 18.29 WIB.Dalam insiden kebakaran tersebut tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.Petugas Damkar Deli Serdang, Fitra Junaedi mengatakan bahwa api berhasil dipadamkan sekitar 20.44 WIB. Satu mobil pemadam dikerahkan untuk memadamkan api tersebut."Regu dua pos Percut Sei Tuan langsung meluncur ke tempat kejadian kebakaran," kata Junaedi dalam keterangannya, Sabtu (22/8).Pantauan kumparan di lokasi kebakaran, objek yang terbakar merupakan saluran air parit yang berubah menjadi hitam dan berminyak. Air berwarna hitam itu diduga merupakan limbah pabrik yang berasal dari salah satu pabrik di Kawasan Industri Medan (KIM).Kepala Dusun 15, Rudianto, mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui siapa yang melakukan pembakaran di saluran parit tersebut."Enggak tahu, ada orang lewat lah itu mungkin," kata Rudi saat ditemui di lokasi, Sabtu (22/8).Kebakaran di saluran parit itu telah terjadi sebanyak dua kali. Awalnya, api berukuran kecil dan merambat ke sisi yang lain hingga menjadi besar karena berbahan minyak.Beruntung, api tidak sampai merembet ke rumah warga."Pertama apinya kecil dulu. Lama-lama kan, namanya oli jadi dia merembet, baru besar lah," ucap Rudi.Rudi mengatakan, limbah oli itu diduga berasal dari limbah dua pabrik KIM, yakni pabrik keramik dan pabrik kontainer."Pas semalam diselidiki ada dua pabrik. Tapi kan sudah ditangani juga sama pabriknya ini. Makanya diturunkan alat besar. Setahu saya itu pabrik keramik, satu lagi pabrik tempat mobil-mobil kontainer," ujar Rudi.Kedua pabrik tersebut diduga menghiraukan limbah pabriknya mengalir di parit di sekitaran pemukiman warga hingga menjadi tersumbat.Kondisi saluran parit diduga tercemar limbah pabrik di Deli Serdang, Sabtu (22/8/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan"Intinya dari pihak KIM, dari perusahaan pun enggak ada toleransinya sama parit ini. Nih coba kalau diperbaiki, dibeton, ini kan kena dampaknya," imbuh Rudi.Rudi menuturkan, pihak perusahaan kemudian datang ke lokasi kebakaran. Mereka menurunkan alat berat untuk melakukan pengerukan parit terhadap limbah tersebut."Hari ini dilakukan pengorekan parit terhadap limbah," katanya.Lalu hasil kerukan limbah itu dibawa oleh pihak perusahaan dan dibuang ke tempat lain karena mengandung minyak.Aroma limbah minyak itu sangat menyengat sehingga dirasakan warga setempat setiap hari.Para warga awalnya membiarkan limbah pabrik itu mengalir di parit tersebut. Namun, karena aromanya semakin lama menyengat hingga warga semakin tidak tahan sejak setahun terakhir."Bau oli menyengat ini sejak parit sumbat, ya setahun yang lalu lah. Cuma kan warga dari hari ke hari sama warga dibiarkan, sampai sekarang baru inilah warga pun emosi," ucap Rudi.Air bersih di lingkungan warga itu juga menjadi tercemar dan menguning akibat limbah pabrik tersebut. Air bersih menjadi terbatas untuk digunakan warga dalam kehidupan sehari-hari."Di sini air bersih kurang. Pertamanya jernih, nanti ada tiga jam airnya berminyak. Pengaruh (limbah pabrik) sama air bersih," imbuh Rudi.Maka dari itu, Rudi bersama Dinas Lingkungan Hidup dan perangkat desa akan melakukan rapat terkait pertanggungjawaban dari pihak perusahaan.Rudi mengatakan, para warga meminta saluran parit tersebut agar dibersihkan dan dibuat beton atau drainase yang lebih tinggi, agar tidak menyebabkan banjir dan saluran parit tidak tersumbat kembali.Kondisi saluran parit diduga tercemar limbah pabrik di Deli Serdang, Sabtu (22/8/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan"Kami minta dari masyarakat diperbaiki lah paritnya, bersihin. Minta dibuat drainase ditinggikan satu meter setengah kan. Terus minta air bersih, pompa air bersih itu kayak mana lah," ucap Rudi.Rudi mengatakan, jika pihak perusahaan tidak bertanggung jawab atas limbah pabriknya, maka masyarakat akan menutup saluran paritnya.Para petani juga ikut terdampak. Air bersih yang harus menjaga faktor penting, namun padi-padi yang mereka tanam justru mati karena terkena air yang tercemar akibat limbah pabrik tersebut."Masyarakat bilang kalau enggak bisa ditangani kami tutup. Kalau hujan banjir, kalau musim kering kayak gini baunya."Kalau sawah, kalau pas mau menanam musim kemarau ya kena air ini, ya mati lah. Masyarakat pun sudah geram, kok enggak ada mengertinya dari perusahaan. Bertahun-tahun pun enggak ada ngertinya," lanjut Rudi.Sementara itu, salah seorang warga bernama Nur Hasanah (48), mengatakan dirinya sangat resah akibat limbah pabrik tersebut. Air di rumahnya menjadi tercemar dan berminyak."Berminyak lah airnya. Makin parah berminyaknya," ucap Nur.Ia bersama anaknya pun merasakan sesak pernapasan akibat mencium aroma limbah pabrik yang sangat menyengat."Kami pun sampai enggak tahan, karena sesak kita merasakan," imbuh Nur.Setiap hari, Nur menutup pintu rumahnya karena aroma bau tak sedap dari parit yang tercemar limbah pabrik tersebut."Sudah enggak tahan lagi. Bau itu setiap hari, siang, malam. Kayak gini lah, menyengat kali baunya itu. Makanya pintu kami ditutup. Pokoknya kami ini enggak pernah buka pintu. Kalau kami entah pagi pergi kerja setelah itu pintu terus ditutup. Enggak berani karena baunya itu. Kami enggak pernah kayak gini, terus lama-lama makin parah gitu orang ini," jelas Nur.Nur pun meminta tolong agar limbah pabrik itu agar segera dihentikan. Ia menyebutkan, dirinya mengaku rakyat kecil yang tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa."Kayak mana kita mau ini, kita kan orang kecil. Kita mau ke mana ngadunya, enggak tahu. Kadus pun kalau diusahakan juga minta tolong bagaimana kayak mana caranya biar ada penanganan. Biar orang pabrik ini enggak buang sembarangan gitu," ujar Nur."Makanya kami minta tolong lah, kalau enggak kayak mana caranya supaya diberhentikan mereka buang limbah kemari," lanjut Nur.Pada kesempatan yang sama, Suami Nur bernama Rusman (52), mengaku diduga limbah pabrik tersebut sudah mengalir puluhan tahun. Namun, saat itu saluran parit masih lancar dan tidak tersumbat.Kemudian, dalam satu tahun terakhir ini saluran parit tersebut tersumbat hingga membuat aroma bau yang menyengat."Kalau ini sudah lama, puluhan tahun. Cuma yang parah karena tersumbat. Selama ini kan, kalau saluran air ini lancar kami enggak komplain. Karena kayu ini enggak ditebangi sebelah sana, jadi dia kan tumbang-tumbang sampah nyangkut. Dari dulu sudah ada limbah," ujar Rusman.Rusman menuturkan, ia pernah melaporkan tentang saluran parit yang tersumbat itu, namun pembersihan hanya dilakukan beberapa kali. Tetapi sekarang pihak perusahaan tidak melakukan pembersihan.Rusman hanya mendapatkan respons dari pemerintah bahwa akan dilakukan normalisasi. Namun, limbah pabrik itu masih mengalir hingga kini."Parah karena pembersihan pun enggak ada. Kalau dulu, bentar dibersihkan itu pakai excavator. Lama-lama malas orang itu, sampai pohon petai pun besar-besar," pungkas Rusman.