Kehidupan sosial ekonomi di kawasan rawan bencana pengaruhi aspirasi anak saat dewasa

Wait 5 sec.

● Anak-anak di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi cenderung mengikuti preferensi pekerjaan yang ada di sekitarnya.● Menyandarkan penghidupan pada jenis sumber daya yang homogen berisiko membuat masyarakat rentan.● Sekolah dan pengasuhan berperan penting dalam memperluas wawasan profesi.Lingkungan memengaruhi masa depanmu. Ungkapan tersebut nyatanya bisa dibuktikan secara ilmiah.Anak-anak menggunakan apa yang mereka lihat dari kondisi sekitar dalam mendefinisikan kesuksesan dan membayangkan masa depan. Ini lazim disebut sebagai aspirasi.Aspirasi tidak hanya berhubungan dengan cita-cita individu, tapi juga dengan situasi budaya dan sosial yang membentuk pemahaman bersama atas masa depan dalam suatu komunitas. Namun, dalam perjalanannya, aspirasi bisa berubah dan juga mengubah pola pikir generasi penerus.Itulah yang terjadi pada warga yang hidup di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi. Penelitian yang kami lakukan di beberapa titik KRB Gunung Merapi (belum dipublikasikan) menemukan bahwa minat anak-anak muda mulai bergeser, terutama pasca erupsi 2010. Dari mata pencaharian dominan masyarakat yang tinggal di kaki gunung seperti bertani dan beternak kini berubah menjadi aktivitas wisata, salah satunya sebagai supir jeep wisata.Merespons peluang bisnis pariwisataWisatawan amat memerlukan jasa transportasi untuk bisa sampai ke kaki gunung dan menikmati objek wisata yang ada. Melihat sopir mobil jeep berlalu lalang mengantarkan wisatawan setiap hari, persepsi dan preferensi para generasi muda setempat tentang sumber penghidupan pun berubah.Pergeseran minat atas mata pencaharian ini, selain didorong oleh pertimbangan penghasilan yang cenderung lebih besar, juga oleh distribusi waktu. Penghidupan dari aktivitas pertanian dan peternakan kerap kali memerlukan waktu untuk mendapatkan hasilnya, semisal harus menunggu bulanan bahkan tahunan.Karena itu, penghidupan ini tetap dilakukan masyarakat tapi hasilnya dialokasikan untuk kebutuhan besar di masa mendatang seperti sekolah, menikah, kematian, dan lain-lain. Sementara untuk hidup sehari-hari, mereka mengandalkan pendapatan dari sektor lain yang lebih cepat mendatangkan uang. Di KRB Magelang dan KRB Klaten di Jawa Tengah, misalnya, selain sektor wisata, penambangan pasir masih menjadi penghidupan yang ditekuni. Baca juga: Jalan terjal mengentaskan warisan kemiskinan ke anak Ancaman yang mengintaiDalam diskusi ekonomi politik, terdapat istilah kutukan sumber daya alam: daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah justru berpotensi mengalami ketergantungan. Pesatnya kemajuan pariwisata dan keberadaan tambang pasir memang menjadi berkah tersendiri bagi penduduk sekitar. Pergeseran minat mata pencaharian juga merupakan hal yang wajar terjadi.Namun, saat sebagian besar komunitas bergantung pada sumber daya yang ada saat ini, gairah untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi cenderung menurun. Terutama ketika bekerja dianggap semata-mata sebagai aktivitas untuk mencari uang.Aktivitas ekonomi yang sangat bergantung pada keberadaan dan ekstraksi sumber daya alam, seperti pada konteks wisata alam dan tambang pasir yang kami teliti, tentu tidak lepas dari masalah. Ditambah lagi, masa depan dunia kerja secara umum juga menghadapi tantangan besar, terutama dengan meningkatnya penggunaan akal imitasi dan risiko perubahan iklim yang turut memengaruhi aspek kehidupan lainnya.Berdasarkan wawancara kami dengan Kepala Sekolah salah satu SD di lokasi penelitian Sleman, Yogyakarta, ada siswa yang ingin menjadi supir jeep karena menganggapnya keren, ada juga yang beralasan karena lebih cepat menghasilkan uang. Pihak sekolah menggali informasi ini dari pengisian screening cita-cita di awal Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).Data monografi desa memang masih mencatat petani pemilik lahan sebagai mata pencaharian dominan, disusul dengan peternak, pengangkutan, dan pedagang. Sisanya adalah Pensiunan, PNS, TNI/Polri. Namun faktanya, testimoni di lapangan menunjukkan tingginya minat menjadi supir jeep karena meneruskan usaha orang tua atau mengikuti teman.Padahal, dengan melanjutkan pendidikan, anak-anak dapat mengurangi risiko ketergantungan tersebut karena mereka akan mendapatkan gambaran pengetahuan, akses informasi dan pengalaman yang lebih luas terkait sumber penghidupan.Selain itu, dalam konteks wisata, surutnya keinginan melanjutkan pendidikan ini dapat berujung pada minimnya inovasi dan nilai tambah yang bisa diberikan kepada wisatawan di masa depan. Jika kondisi ini berlanjut, peluang melakukan diversifikasi dan transformasi mata pencaharian di KRB gunung Merapi akan sulit mencapai keberlanjutan (stagnan), begitu juga sumber mata pencaharian lainnya seperti pertanian, perkebunan, dan penambangan pasir.Pengenalan risiko terkait penghidupanAspek geografis masih berpengaruh secara dominan terhadap kapasitas individu untuk membuat aspirasi. Sebab, setiap daerah memiliki sumber daya, ikatan sosial, pengetahuan dan pengalaman hidup yang berbeda—khususnya dalam memproyeksikan masa depan. Namun, modal geografis ini perlu diikuti pula dengan pengenalan risiko. Dalam konteks area rawan bencana, risiko ini biasanya dikaitkan dengan ancaman erupsi, misalnya bagaimana jika terjadi erupsi. Tapi, di luar itu, pengenalan risiko juga perlu mengantisipasi soal keberlanjutan ketersediaan sumber daya. Pandemi COVID-19 adalah salah satu contoh nyata bagaimana kejadian tidak terduga bisa mendisrupsi tatanan ekonomi yang ada. Sumber penghidupan yang tergolong homogen sangat rawan jatuh secara bersamaan.Apa yang sudah dipersiapkan masyarakat untuk menghadapi hal itu? Apa yang harus dipersiapkan jika tiba-tiba kebijakan atau situasi berubah?Pemerintah setempat dan seluruh pemangku kepentingan terkait perlu meningkatkan ekosistem yang tidak hanya mendukung anak-anak tapi juga mendukung aspirasi di kawasan rawan bencana untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Artinya, mitigasi risiko bencana hanya salah satu dari hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengasuhan anak di kawasan rawan bencana. Pengembangan jaring pengaman ekonomi dengan memperluas pilihan aspirasi juga perlu dipikirkan dalam konteks pengasuhan dan pendidikan anak.Memperluas pilihan ini bukan berarti mendorong mobilitas warga secara fisik keluar dari tempat asalnya tapi lebih pada pengenalan potensi bentuk-bentuk alternatif pekerjaan yang relevan dan berkelanjutan. Kita bisa mengusahakannya melalui storytelling, parent teaching di sekolah, atau disisipkan dalam kegiatan kultural yang melibatkan anak-anak. Aspirasi anak menjadi supir truk, jeep, atau pekerjaan lain yang dilakukan orang tua mereka tentu bukan hal yang keliru atau muncul tiba-tiba, tetapi berakar pada pengetahuan, pengalaman, serta peluang yang relevan secara lokal. Karena itu, upaya yang kami ajukan bukan bertujuan memutus rantai pekerjaan dari generasi sebelumnya, tetapi untuk memperluas cakrawala kemungkinan yang bisa dibayangkan oleh anak-anak maupun orang dewasa untuk memikirkan masa depan komunitasnya.Pada saat yang sama, dukungan kelembagaan perlu didorong untuk mengurangi risiko yang muncul dari ketergantungan pada sektor-sektor tertentu, termasuk yang muncul dari aktivitas penambangan dan wisata alam.Harapannya, anak-anak punya ruang aspirasi yang lebih besar serta kemungkinan untuk mewujudkannya, entah dengan mempertahankan, mengembangkan, atau bahkan mengubah penghidupan yang sudah ada. Baca juga: Bencana membuat anak rentan putus sekolah. Apa solusinya menurut riset? Nuzul Solekhah menerima dana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk penelitian kolaboratif terkait tema tulisan ini.Dwi Nofiana Gita Pertiwi menerima dana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk penelitian kolaboratif terkait dengan tulisan ini. Elan A Lazuardi menerima dana dari Australian Research Council untuk penelitian kolaboratif yang tidak terkait dengan tema tulisan ini. Fatwa Nurul Hakim, Ririn Purba, dan Rudy G. Erwinsyah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.