Warga memancing di Sungai Musi saat kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti daerah tersebut di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (15/10/2026). Foto: Abriansyah Liberto/REUTERSKementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Data tersebut dihimpun pada periode 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026, mencakup tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota terdampak.Dari total kasus kumulatif tersebut, sebanyak 243.234 kasus atau sekitar 77,4% terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun. Sementara itu, 70.890 kasus atau sekitar 22,6% dialami anak usia 0-5 tahun.Sedangkan dalam satu hari pada Selasa (20/10), Kemenkes juga mencatat ada 3.269 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla.Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan TertinggiBerdasarkan data Kemenkes, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan menjadi dua provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi. Berikut rincian kasus di enam provinsi yang tercantum dalam data:• Sumatera Selatan: 82.177 kasus• Kalimantan Selatan: 78.894 kasus• Kalimantan Barat: 55.686 kasus• Riau: 36.433 kasus• Kalimantan Timur: 27.688 kasus• Kalimantan Tengah: 26.740 kasusDi enam provinsi tersebut, kasus ISPA pada kelompok usia di atas 5 tahun mencapai 238.283 kasus. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan kasus pada anak usia 0-5 tahun yang tercatat sebanyak 69.335 kasus.Penyakit Lain Juga Tercatat di Wilayah TerdampakSelain ISPA, Kemenkes turut mencatat sejumlah penyakit lain di wilayah terdampak karhutla, antara lain pneumonia, diare akut, penyakit kulit, sakit mata, influenza-like illness (ILI), dan heat stroke.Berdasarkan data yang dipaparkan, Kalimantan Tengah mencatat 1.400 kasus pneumonia. Sementara itu, kasus diare akut tertinggi tercatat di Kalimantan Barat, dengan 4.314 kasus.Riau menjadi salah satu wilayah dengan laporan kasus penyakit kulit berupa gatal-gatal dan kudis, sakit mata, serta heat stroke.Di provinsi tersebut, tercatat pula 720 kasus penyakit kulit, 232 kasus sakit mata di puskesmas, dan 52 kasus heat stroke. Adapun kasus influenza-like illness (ILI) tertinggi dilaporkan di Kalimantan Tengah, dengan 81 kasus.Rumah Oksigen dan Mobilisasi Tenaga KesehatanUntuk mendukung penanganan dampak kesehatan di wilayah terdampak, pemerintah daerah menyediakan rumah oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan. Fasilitas ini ditujukan untuk membantu warga memperoleh akses terhadap oksigen dan layanan kesehatan sesuai kebutuhan.Berdasarkan data per 20 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB, rumah oksigen terbanyak berada di Kalimantan Tengah dengan 295 unit, disusul Kalimantan Selatan dengan 127 unit dan Kalimantan Barat dengan 35 unit.Selain penyediaan rumah oksigen, dinas kesehatan di masing-masing provinsi juga memobilisasi tenaga kesehatan. Tenaga yang dikerahkan meliputi dokter, perawat, bidan, apoteker, ahli gizi, epidemiolog, hingga tenaga sanitasi.Mobilisasi tenaga kesehatan terbesar tercatat di Kalimantan Timur, dengan 3.938 orang. Jambi menyusul dengan 1.411 orang, sedangkan Kalimantan Tengah mencatat 487 tenaga kesehatan yang dimobilisasi.Kemenkes juga menyalurkan logistik kesehatan ke daerah terdampak selama periode 19 Agustus hingga 20 Oktober 2026.Berdasarkan data distribusi barang medis habis pakai (BMHP), bantuan yang telah disalurkan meliputi 1.001.680 masker bedah, 89.050 masker N95, dan 40.000 sarung tangan medis atau handscoon.Selain itu, Kemenkes menyalurkan 3.632 kacamata pelindung (goggles), 3.250 nasal kanul, 2.450 nasal oxygen, 800 masker nebulizer, dan 200 masker oksigen.Untuk obat-obatan, bantuan yang disalurkan meliputi 448.600 obat diare, 60.700 antihistamin, 34.560 obat batuk, 24.900 bronkodilator, 4.500 antipiretik, 4.200 kortikosteroid, dan 1.050 antibiotik. Bantuan lainnya mencakup oksigen, vitamin, serta salep.Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar RuanganKepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna meminimalkan paparan asap."Tetap di rumah, bekerja atau bersekolah secara online bila memungkinkan, kecuali bagi pekerja lapangan atau layanan publik," kata Aji kepada kumparan, Rabu (21/10).Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah atau gedung, Aji menyarankan penggunaan masker untuk mengurangi paparan partikel berbahaya dari asap."Masker disarankan jenis N95 atau KN95. Kalau tidak ada, bisa menggunakan masker medis atau masker kain secara berlapis. Gunakan dengan benar, rapat menutup hidung dan mulut," ujarnya.Ilustrasi perempuan pakai masker N95. Foto: Thichaa/ShutterstockAji juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, termasuk mengkonsumsi makanan bergizi, memenuhi kebutuhan cairan, dan beristirahat cukup."Jaga imunitas tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, dan istirahat yang cukup," katanya.Ia meminta masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan dan kondisinya terus memburuk untuk segera mencari pertolongan medis ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat, seperti puskesmas atau rumah sakit."Apabila mengalami gangguan kesehatan yang terus memburuk, segera ke dokter atau fasyankes terdekat," pungkas Aji.