Bos ITSEC: AI Bikin Serangan Siber yang Dulu Butuh Tahunan, Kini Hitungan Hari

Wait 5 sec.

Presiden Direktur ITSEC, Patrick Rudolf Dannacher. Foto: Habib Allbi Ferdian/kumparanKecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat pelaku kejahatan siber mampu mempercepat serangan terhadap perusahaan dan organisasi. Proses peretasan yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kini berpotensi selesai hanya dalam hitungan hari.Presiden Direktur ITSEC, Patrick Rudolf Dannacher, mengatakan di panggung Bali Tech Week 2026 bahwa perkembangan tersebut menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Pasalnya, perusahaan dan lembaga besar membutuhkan waktu untuk mengevaluasi, merencanakan, dan menerapkan perubahan sistem keamanan, sedangkan pelaku kejahatan siber bisa langsung memanfaatkan teknologi AI tanpa melalui proses pengadaan yang panjang."Sekarang, sesuatu yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun atau berbulan-bulan bisa diselesaikan hanya dalam hitungan hari. Inilah yang benar-benar harus kita perhatikan. Para penyerang kini bergerak dengan cepat. Mereka menggunakan AI, sama seperti kita yang juga berusaha memanfaatkan teknologi tersebut,” kata Patrick dalam pemaparannya.Menurut Patrick, perbedaan kecepatan antara pelaku kejahatan siber dan organisasi yang menjadi target serangan perlu mendapat perhatian serius. Perusahaan biasanya harus melewati berbagai tahapan sebelum menerapkan perubahan, mulai dari evaluasi hingga penyusunan solusi dan pemenuhan persyaratan internal.Sebaliknya, penyerang tidak perlu menunggu proses tersebut selesai. Mereka dapat langsung menggunakan AI untuk mempercepat aktivitasnya.“Masalah terbesar atau perbedaan terbesarnya adalah ketika pihak-pihak yang berniat jahat mulai menggunakan AI, mereka tidak perlu melalui proses pengadaan atau pembelian terlebih dahulu. Mereka bisa langsung mulai menggunakannya,” ujarnya.Ilustrasi hacker. Foto: NONGASIMO/Shutterstock27 Persen Serangan Siber Global Terjadi di KawasanPatrick mengungkapkan bahwa 27 persen serangan siber di seluruh dunia terjadi di kawasan ASEAN tempat Indonesia berada. Menurutnya, angka tersebut perlu menjadi perhatian, meski ia menilai besarnya populasi kawasan turut memengaruhi gambaran tersebut.Karena itu, Indonesia perlu memperkuat pertahanan sibernya agar tidak menjadi target yang mudah bagi para penyerang.“Kita harus memastikan bahwa kita bukanlah target yang mudah. Kita harus membuat para penyerang memilih mencoba menyerang tempat lain terlebih dahulu, bukan Indonesia,” kata Patrick.Patrick mengaku, tim intelijen ITSEC telah melakukan pemantauan aktivitas siber di Indonesia selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Pemantauan tersebut membantu perusahaan mengidentifikasi berbagai ancaman dan kerentanan yang berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.Mereka mengidentifikasi lebih dari 2.000 firewall yang terhubung, lebih dari 700 perusahaan teknologi, serta lebih dari 400 perusahaan jaringan yang terhubung dengan masyarakat. ITSEC juga menemukan 328 masalah yang berkaitan dengan kondisi ketika pihak tertentu telah berada di dalam jaringan organisasi. Selain itu, timnya mengidentifikasi 192 masalah yang berpotensi terjadi.Menurut Patrick, penyerang yang berhasil masuk ke jaringan perusahaan dapat mengumpulkan informasi, mempelajari cara kerja sistem, mencari titik lemah, dan mengidentifikasi data penting yang menjadi sasaran. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak awal, sebelum penyerang melanjutkan aksinya ke tahap yang lebih merusak.Patrick juga menjelaskan, serangan siber sering kali tidak langsung berujung pada pencurian besar-besaran atau penyebaran ransomware. Pelaku biasanya memulai aksinya dengan mengeksploitasi kerentanan kredensial. Setelah memperoleh akses, penyerang dapat bergerak dari satu bagian jaringan ke bagian lainnya untuk mempelajari sistem dan mencari data yang bernilai.Ilustrasi hacker. Foto: ShutterstockPada tahap akhir, mereka bisa melancarkan serangan ransomware. Namun, proses tersebut tidak selalu berlangsung cepat. Penyerang bahkan dapat bertahan di dalam jaringan perusahaan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun sebelum melancarkan serangan utama.Masalahnya, kecerdasan buatan dapat memangkas proses lama tersebut menjadi lebih singkat. Proses peretasan yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun atau berbulan-bulan, kini bisa diselesaikan hanya dalam hitungan hari.“Inilah yang benar-benar harus kita perhatikan. Para penyerang kini bergerak dengan cepat. Mereka menggunakan AI, sama seperti kita yang juga berusaha memanfaatkan teknologi tersebut,” katanya.Sementara itu, organisasi besar harus melalui berbagai tahapan ketika ingin menerapkan perubahan. Proses tersebut harus dievaluasi, konsep penyelesaiannya harus disiapkan, dan berbagai persyaratan harus dipenuhi. Namun, para penyerang tidak menunggu semua proses itu selesai.“Karena itu, kita benar-benar perlu menemukan tanda-tanda awal serangan. Kuncinya, setelah melihat tanda-tanda tersebut, kita harus bergerak dengan cepat,” ujarnya.Ia mengingatkan bahwa organisasi tidak boleh mengabaikan indikasi awal serangan hanya karena belum terjadi gangguan besar. Peringatan dini harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret untuk menutup celah keamanan dan mengurangi risiko.Patrick juga menekankan pentingnya mengurangi attack surface atau permukaan serangan, yakni berbagai titik yang dapat dimanfaatkan penyerang untuk masuk ke sistem. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membatasi perangkat yang terhubung ke internet. Menurutnya, tidak semua perangkat harus memiliki akses internet jika fungsinya tidak membutuhkan konektivitas tersebut.